BAROKAH Vol.2

BAROKAH Vol.2

Ciri kedua dari rejeki yang barokah adalah : Jumlahnya tidak berkurang manakala dimanfaatkan. Lha apa ada barang yang semacam itu? Kok nadanya kayak cangkriman yang jawabannya biasanya mblasuk ngalor ngidul…
Ini bukan cangkriman yang jawabannya sembrono parikeno. Tapi memang harta model yang kayak ginian ada. Bukan mukjizat Nabi, bukan sihirnya si Sirik dengan alakazamnya, bukan sulap si Juwita dengan abrakadabranya, bukan pula ilusinya si mentalis Dedi Ko-mbese. Yang ngalami juga bukan Nabi, hanya manusia biasa. Sebab kalo Nabi atau Rasul yang ngalami kita mesti ngeyel, “lha pantes saja bisa, genah Nabi je…”
Harta seperti ini dialami oleh puteri Nabi saw. Kisahnya sendiri simbah gak terlalu tahu tentang shahih atau dhoifnya. Namun yang jelas cukup bisa memberikan gambaran kebarokahan rejeki. Kisahnya begini :
Suatu hari Rasulullah SAW duduk di masjid dan dikelilingi oleh para sahabat. Tidak lama kemudian seorang tua bangka dengan pakaian compang-camping datang menghampiri mereka. Usia tua dan kelemahan badannya telah merenggut segala kekuatan yang
dimilikinya. Rasulullah SAW menghampirinya seraya bertanya tentang keadaannya. Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang papa dan lapar, berikanlah aku makanan. Aku telanjang, berikanlah kepadaku pakaian. Aku hidup menderita, tolonglah aku”.
Rasulullah SAW menjawab: “Aku sekarang tidak memiliki sesuatu (yang dapat kuberikan kepadamu). Akan tetapi, orang yang
menunjukkan kepada suatu kebaikan, sebenarnya ia juga memiliki saham dalam kebaikan tersebut”.
Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW menyuruhnya untuk pergi ke rumah Fathimah r.a. Ia pergi ke rumahnya dan sesampainya di sana ia menceritakan segala penderitaannya. Ia menjawab: “Aku pun sekarang tidak memiliki sesuatu (yang dapat kuberikan kepadamu)”. Setelah berkata demikian, ia melepaskalung yang dihadiahkan oleh putri Hamzah bin Abdul Muthalib kepadanya dan memberikannya kepada pria tua itu seraya berkata: “Juallah kalung ini, insya-Allah engkau akan dapat memenuhi kebutuhanmu”.
Setelah mengambil kalung tersebut pria tua itu pergi ke masjid. Rasulullah SAW masih duduk bersama para sahabat kala itu. Pria tua itu berkata. “Wahai Rasulullah, Fathimah memberikan kalung ini kepadaku untuk dijual demi memenuhisegala kebutuhanku”.
Amar bin Yasir berkata:“Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan kalung ini kubeli?”

“Siapa yang membelinya, semoga Allah tidak mengazabnya”,
 jawab Rasulullah SAW singkat.
Amar bin Yasir bertanya kepada pria tua itu: “Berapa kamu mau menjualnya?”
“Aku akan menjualnya seharga roti dan daging yang dapat mengenyangkanku, pakaian yang dapat menutupi badanku dan 10 Dinar sebagai bekalku pulang menuju rumahku”, jawabnya pendek.
Amar bin Yasir berkata: “Kubeli kalung ini dengan harga 20 Dinar emas, makanan, pakaian dan kuda (sebagai tungganganmu pulang)”.
Ia membawa pria tua itu ke rumahnya, lalu diberinya makan, pakaian, kuda dan 20 Dinar emas yang telah disepakatinya. Setelah mengharumkan kalung tersebut dengan minyak wangi dan membungkusnya dengan kain, ia berkata kepada budaknya: “Berikanlah bungkusan ini kepada Rasulullah, dan aku juga menghadiahkanmu kepada beliau”.
Rasulullah SAW akhirnya menghadiahkan kalung dan budak tersebut kepada Fathimah r.a. Fathimah r.a. mengambil kalung tersebut dan berkata kepada budak itu: “Aku bebaskan engkau di jalan Allah”.
Budak itu tersenyum. Fathimah a.s. menanyakan mengapa ia tersenyum. Ia menjawab: “Wahai putri Rasulullah, kalung ini yang membuatku tersenyum. Ia telah mengenyangkan orang yang kelaparan, memberikan pakaian kepada orang-orang yang tak berpakaian, menjadikan orang fakir kaya, memberikan tunggangan kepada orang yang tidak punya tunggangan, membebaskan budak dan akhirnya ia kembali pemilik aslinya”.
Wis jian… contoh mantabh. Harta gak berkurang dan memberi manfaat buat banyak orang. Coba kita tengok rejeki kita, sudah bisa begitu apa belum. Kalo belum ya berarti belum barokah.
Kebanyakan, rejeki kita entek nggusis manakala dibelanjakan, itupun untuk keperluan yang gak manpangati buat orang banyak. Bahkan saat pegang uang sedikit cukup, tapi saat pegang duit banyak malah kurang. Pegang duit molasewu ke mall, biasanya nyukupi. Begitu pegang mangatusewu, malah kurang. Karena saat pegang molasewu, napsunya gak berani macem-macem, wong duitnya sak uprit. Tapi begitu nyekethem mangatusewu, napsunya ikut membengkak, semua macam barang berkelebat sliwar-sliwer di uteg untuk dibeli. Akhirnya begitu dihitung di depan kasir, duitnya ternyata malah kurang.
Hal yang nyata-nyata lebih mudah barokahnya adalah ilmu, asal tahu penggunaannya. Kelebihan ilmu atas harta adalah : Ilmu itu menjaga kita, sedangkan harta malah harus kita jaga. Ilmu itu tak akan berkurang manakala dibelanjakan, sedangkan harta berkurang dan bahkan habis manakala dibelanjakan.
Ternyata angel tenan mbikin berkah rejeki kita..
Sedikit keluar dari pakemnya Quentin Tarantino, simbah berencana mbikin sequel Vol. 3 nya. Semoga tidak njelehi…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel