CUKUP SATU ORANG YANG YAKIN

CUKUP SATU ORANG YANG YAKIN
CUKUP SATU ORANG YANG YAKIN
Ada satu pelajaran bagus yang bisa dipetik dari dua kisah Nabi yang diceritakan di dalam Al Qur’an. Satu kisah adalah tentang Nabi Musa saat dikejar Fir’aun, dan satu kisah lagi adalah tentang Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar r.a yang dikejar kaum musyrik saat Hijrah ke Madinah. Kedua kisah ini diabadikan di dalam Al Qur’an.

Yang pertama diceritakan di Surat Asy Syu’ara (26) ayat 61 sampai 66. Yang artinya :

“Maka ketika kedua kelompok itu (kaum Bani Israil dan Fir’aun beserta tentaranya) saling melihat, berkatalah pengikut Musa : Sungguh kita akan tertangkap. Maka berkatalah Nabi Musa a.s : Sekali kali tidak. Sesungguhnya bersamaku Tuhanku akan memberi petunjuk padaku. Maka Kami wahyukan pada Musa, Pukulkan dengan tongkatmu ke laut!! Maka terbelahlah laut, tiap belahan seperti gunung yang besar. Dan disanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa beserta orang-orang yang bersamanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan kaum yang lain (Fir’aun dan tentaranya).”

Di ayat itu pengikut Nabi Musa dalam keadaan takut dan keyakinannya akan pertolongan Allah musnah. Akan tetapi ternyata tidak demikian dengan Nabi Musa a.s, beliau masih yakin dengan pertolongan Allah. Maka beliau katakan “Sesungguhnya bersamaku Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku.”. Nabi Musa menyebut dirinya dalam bentuk orang pertama tunggal… “ku”. Bukan dengan sebutan “kita”. Maka kaumnya yang mulai kehilangan keyakinan itu tak diikutsertakan.

Namun rupanya, keyakinan yang hanya dari satu orang itu mencukupi. Allah selamatkan seluruh Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, dikarenakan keyakinan yang lurus dan benar meskipun datang dari satu orang saja. Konon ada yang menyebutkan, saat exodus tersebut, jumlah Bani Israil tak kurang dari 600 ribu orang. Semua selamat, padahal saat itu semua dalam keadaan mulai kehilangan keyakinan. maka adanya satu orang yang masih memiliki satu keyakinan yang lurus dan benar, bisa menyelamatkan yang lainnya.

Bandingkan dengan kisah Nabi Muhammad dan Abu Bakar r.a di surat At Taubah (9) ayat 40 :

“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Di saat dikejar-kejar kaum kafir Quraisy, Nabi saw menenangkan kegelisahan Abu Bakar r.a dengan ucapan yang diabadikan di dalam Al Qur’an tersebut. Yakni : “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Disitu digunakan kata “kita”. Dan memang akhirnya beliau berdua selamat juga dari kejaran kaum kafir itu.

Alangkah beruntungnya kita umat Nabi saw yang mengatakan “Allah beserta kita”. Dan bukannya berkata “Allah besertaku”. Tentunya kata “kita” itu ditujukan kepada orang yang masih memiliki yakin sebagaimana yakin dari Nabinya. Hal ini juga yang konon menjadi pertimbangan shahabat di dalam mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Karena kalimat “Allah beserta kita” disitu, kembalinya kata “kita” adalah tertuju pada Nabi saw dan Abu Bakar r.a.

Negeri ini terpuruk di segala bidang. Harus ada orang yang memiliki keyakinan bahwa Allah masih mau menolong kita, meskipun satu orang. Lalu dengan yakinnya itu berbuat dan beramal sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika satu orang dengan yakin yang benar, dan berbuat sesuai perintah dan petunjuk Allah saja bisa menyelamatkan ratusan ribu nyawa yang diambang kebinasaan, maka bagaimana jika itu dua, orang atau bahkan ratusan orang..?

Sayangnya, untuk memiliki yakin yang benar kepada Allah itu susah. Sebenarnya perintah Allah itu ringkes dan sederhana. Yang ruwet dan rumit adalah akal manusia yang suka ngakalin ayat-ayat Allah agar bisa dilanggar. Beda dengan Nabi Musa yang saat diperintah mukulkan tongkat ke laut ya nurut aja. Gak mbantah dengan pikiran, “Lha perintah kok gak logis, buat apa mukulin tongkat ke laut, mending dipukulkan ke kepala Fir’aun.”

Saat ini manusia banyak yang merasa lebih pandai dari Allah. Segala perintahnya diotak-atik, bukan untuk diamalkan, namun untuk ditinggalkan karena dianggap menghalangi kemajuan dan kemoderenan. Semoga kita dihindarkan dari perilaku yang demikian. Sehingga Allah nantinya berkenan menolong keterpurukan bangsa yang mayoritasnya muslim ini. Meskipun hanya beberapa gelintir orang saja yang masih memiliki yakin yang benar kepada Allah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel