HORMATILAH WALAU TAK MAU MENJALANI

HORMATILAH, WALAU TAK MAU MENJALANI

HORMATILAH, WALAU TAK MAU MENJALANI

Sewaktu simbah masih ngupoyo ngelmu kedokteran dulu, ada salah seorang kawan mahasiswa yang merupakan putra seorang pimpinan ormas besar Islam di Indonesia. Kepandaiannya dalam hal ngelmu agama juga lumayan tob markotob. Maka si kawan ini sering diminta memberikan materi pengajian di kampus.
Suatu siang selepas pengajian, sang kawan ini makan bakwan goreng di ruang kuliah, tentu saja sang bakwan ditemani oleh cabe yang kemlethus. Satu hal agak mengganggu pandangan simbah, yakni sang kawan itu makan dengan tangan kiri. Temblang-tembleng satu bakwan ludes, disambung bakwan berikutnya. Karena merasa ngganjel, simbah sapa sang kawan itu dan dengan agak bercanda simbah tegur :
“Kang, ha mbok pakai tangan kanan tho daharipun.. kan lebih elegan,” kata simbah santai tanpa kasih dalil macem-macem. Soalnya yang simbah ajak bicara ini lebih pinter agama dan hapal dalil.
“Wah iya.. laa ta’kuluu bis syimaal… gitu kan haditsnya.. hahaha..” jawabnya ndalil sambil meneruskan makan dengan tangan kiri disertai tawa yang dibuat-buat. Lhadalah, malah ngece… 
Bunyi hadits selengkapnya adalah : Laa ta’kuluu bi syimaal, innasy syaithoona ya’kuluu bisy syimaal. Artinya : Jangan makan dengan tangan kiri, karena syetan itu makan dengan tangan kiri.
Saya gak paham apa maksud sang kawan. Berdalil sambil terus melanjutkan cara makannya yang sebenarnya dia sudah tahu kalo cara makan seperti itu dilarang Nabi saw. Yang jelas simbah jadi males kalo ngobrol sama sang kawan ini. Memang seringkali kalo sedang mbahas agama, ilmunya sak ikrak tumplak. Dalil-dalil Al Qur’an dan hadits mbrojol keluar dari mulutnya dengan bancar. Tapi begitu lihat peristiwa itu, males wis…. 
Hadits yang sang kawan nukil itu shahih. Artinya memang Nabi Muhammad saw, manusia paling mulia sak jagad itu pernah bicara demikian itu. Apa yang ada di benaknya manakala sabda Nabinya dinukil tapi kelakuannya berlawanan? Mbuh lah.. setidaknya kalo nggak mau menjalani fair saja. Bilang saja : hadits itu aku emoh njalani... titik. Tak usah disertai sikap melecehkan.
Gak mau jenggotan silahkan saja. Mau pake celana panjang sampai nyapu latar silakan saja. Cuma ya jangan melecehkan mereka yang mau menjalaninya sesuai sabda Nabinya. Tak satupun gerak-gerik kita di dunia ini yang lepas dari pertanyaan Allah di Hari Hisab nanti. Pasti ditanya mengapa begini dan begitunya. Kalo memang merasa bisa lepas dan terbebas dari tanggung jawab dan pertanyaan Allah di akherat, jalani saja.
Beratus kali simbah melihat orang mati. Semua membawa amal dan yakinnya. Iman dan yakin yang benar sajalah yang meloloskan orang masuk dalam Ridho Allah yakni surga. Iman dan yakin yang benar ibarat uang asli. Hanya uang asli lah yang laku buat transaksi yang syah. Uang yang asli dikeluarkan oleh pihak berwenang. Ciri-ciri keasliannya sangat khas, yang susah dan bahkan tidak mungkin disamai oleh yang palsu. Maka untuk uang seratusan ribu atau bahkan limapuluh ribuan saja kita hati-hati jangan sampai ketipu, maka bagaimana pula kita menjaga agar iman dan yakin kita asli.
Untuk mendeteksi apakah uang kita asli atau palsu adalah dengan  mencari perbedaan yang khas. Bukan malah mencari persamaannya. Karena jelas kedua jenis uang ini kelihatan sama. Demikian pula dalam hal yakin dan iman. Hanya saja syetan seringkali membisikkan pada kita dengan satu bisikan yang memabokkan. “Udahlah lah gak usah membesar-besarkan perbedaan. Toh semua tujuannya sama. Cari saja persamannya.!”

Kalo dalam hal uang kita bersikap begitu, maka kita akan mudah menjadi sasaran korban pengedar uang palsu. Maka, kita perbaiki saja iman dan yakin kita agar pas sudah di dekat loket surga, iman dan yakin kita dinyatakan asli dan laku buat tiket masuk surga. Jadi jangan sekali-kali melecehkan sabda Nabi saw…Oke?  

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel