Kekuatan Risau

Kekuatan Risau

Dulu sewaktu simbah masih dapat jatah jaga di ICU, seringkali simbah menyaksikan para penunggu pasien menunggu di luar ruang dengan begitu cemasnya. Ada yang nggelar tikar sambil sesekali sledap-sledup ngudud dan srupat-sruput minum kopi, ada juga yang duduk merenung. Namun yang jelas semua jadi kuat melek.

Ibu-ibu yang tadinya ngantukan, jam sepuluh malem sudah mlungker selimutan, tiba-tiba menjadi bisa kuat melekan. Semalam tidur dua jam sudah cukup manakala menunggu anak kesayangannya dirawat di ruang batas hidup dan mati itu. Kang Pawiro Cobrot yang biasanya sebelum Dunia Dalam Berita sudah ngowoh, tiba-tiba jadi tukang melek selama berhari-hari karena nunggu isterinya yang kritis setelah cesar.

Itulah kekuatan asli manusia. Dalam keadaan normal, kekuatan manusia terasa terbatas. Orang sekuat apapun bisa kalah oleh capek dan letih. Kalo sudah kelelahan, oknum segothot apapun akan nglumpruk lemes karena dikalahkan oleh lelah.

Namun sebenarnya masih ada yang bisa mengalahkan rasa lelah. Apa itu? Lelah, letih ataupun capek, bisa dikalahkan oleh mabok

Kang Paidul yang badannya gering dan tampak ringkih itu, kalo sudah nenggak ciu limolas sloki, tiba-tiba bisa ngibing semalam suntuk tanpa capek. Demikian juga konco-konconya yang mblangsak gak karuan itu. Kalo sudah nenggak wiski sebotol plus pil koplo, mau diajak jogedan ala kipas angin yang gedak-gedek kira-kanan itu ya oke saja… Gak ada capeknya.

Tapi mabok masih ada yang mengalahkan. Yang bisa mengalahkan mabok adalah kantuk. Kalo kantuk sudah datang, semabok apapun seseorang pasti klipuk juga. Ngorok senggrak-senggrok kayak suara gergaji sedang melakukan aksi illegal logging. Sesekali diselingi batuk karena tersedak iler.

Nah … rasa kantuk itu masih ada yang bisa mengalahkan, yakni RISAU. Macem penunggu pasien di emperan ICU rumah sakit itu. Risau karena menunggu dan mencemaskan sesuatu. yang menyebabkan kantukpun dianggap angin. Melek semalaman no problem. Ada kekuatan ekstra yang muncul dengan tiba-tiba manakala risau itu datang. Dan tubuh pun merespon serta beradaptasi dengannya.

Dengan ini pula maka kita bisa paham, mengapa Nabi saw bisa sholat malam semalaman suntuk sampai kakinya bengkak. Dakwah tanpa lelah sampai babak belur dan tetap bertenaga terus. Juga riwayat orang-orang yang kuat ngibadah sampai sedemikian hebatnya.

Mereka bisa begitu karena menyertakan risau pada amalannya. Sayangnya kekuatan risau ini lebih banyak diletakkan pada sesuatu yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Orang lebih banyak risau tentang bagaimana mencari sesuap nasi. Satu hal yang sudah dijamin pasti adanya selama hayat masih dikandung badan. Tapi tak pernah risau bagaimana nasibnya nanti di akherat. Apakah selamat ataukah cilaka mencit…?

Sebagian merasa tenang karena salah dalam memahami Maha Pengampunnya Allah. Setiap kali habis mblangsak, mabok, zina, korupsi dan maksiat, yang tertanam dalam dirinya adalah keyakinan bahwa dirinya sudah diampuni. Sampai-sampai ada yang berkeyakinan bahwa semuanya nanti pasti masup sorga, karena Tuhan Maha Kasih Sayang, gak mungkin menyiksa hamba-Nya. Mungkin orang ini belum pernah dibacok anaknya sama garong, belum pernah diperkosa isterinya sama bromocorah dan belum pernah disunduki dan disetrum kemaluannya sama interogator yang memaksa mengakui perbuatan yang gak pernah dilakukannya.

Mulai sekarang, sertakan risau dalam semua urusan kita, agar kekuatan ekstra yang tak kenal lelah membantu kita mengerjakan amalan-amalan kita…
LihatTutupKomentar