Kemanakah Jamaah Sholat Tarawih?

Kemanakah Jamaah Sholat Tarawih

Dua Pekan sudah kita telah meninggalkan bulan Ramadhan. Dan dua pekan juga kita telah menjalani bulan Syawal. Hiruk pikuk arus mudik dan balik telah reda. Semua telah kembali ke suasana semula.
Di antara saudara-saudara kita ada yang telah selesai menu-naikan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Sebagiannya lagi masih tertatih-tatih menjalaninya sehari demi sehari. Semuanya demi meraih keutamaan menda-patkan pahala puasa sepanjang masa.
Suasana Ramadhan benar-benar telah sirna. Tidak ada lagi lantunan suara orang membaca Al Quran di masjid-masjid seba-gaimana biasa. Tidak ada lagi mubaligh yang menghasung ja-maahnya untuk mengerjakan sholat malam (yang di bulan Ramadhan biasa disebut shalat tarawih). Jamaah sholat Shubuh telah kembali ke jumlah semula. Jamaah shalat-shalat lainnya juga mengalami hal serupa. Siaran televisi telah kembali ke jam tayang semula. Sudah jarang lagi artis berpeci, sudah langka lagi penyanyi berjilbab. Acara taklim di televisi pun telah digeser oleh acara yang lebih laku nilai jualan iklannya. Nasehat ustadz digeser dengan jam tayang gosip selebritis. Karena nasehat ustadz hanya laku di bulan Ramadhan. Di bulan lain hanya laku saat menguburkan jenazah dan ziarah kubur.
Ada apa dengan amalan bulan Ramadhan kita? Apakah selama sebulan kemarin kita semua hanya bersandiwara di panggung Ramadhan? Sandiwara dengan durasi satu bulan, setelah selesai semua kembali menjadi dirinya masing-masing. Kembali ke asal.
Puasa yang Sukses
Puasa yang sukses sebenar-nya bisa dilihat justru bukan saat bulan Ramadhannya. Di saat bu-lan Ramadhan, semua orang se-dang menjadi orang lain. Sulit untuk menilai keberhasilan puasa-nya. Justru yang menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang menahan hawa nafsunya adalah di luar bulan Ramadhan.
Orang sering salah menilai, menahan hawa nafsu dikiranya hanya di bulan Ramadhan saja. Shalat malam hanya tarawih saja di bulan puasa. Membaca dan tadarus Al Quran hanya di bulan Ramadhan saja. Padahal kalau dicermati, semua pemahaman ini adalah bathil. Menahan hawa nafsu, tidak berbohong, tidak berdusta, tidak mencaci-maki dan semua amalan yang merusak puasa, sebenarnya juga dilarang di bulan lain. Sholat malam atau Qiyamul Lail pun tidak dikhusus-kan hanya dikerjakan di bulan Ramadhan saja. Sholat yang 11 rakaat yang biasa dikerjakan saat bulan Ramadhan selepas Isya itu pun (yang lantas disepakati dinamai dengan shalat Tarawih) juga berdasarkan hadits yang umum. Karena disebutkan di dalam hadits tersebut (riwayat Aisyah r.a) "di bulan Ramadhan atau pun di bulan lainnya... jadi bukan khusus di bulan Ramadhan saja Rasulullah saw shalat malam 11 rakaat.
Selama ini yang sampai ke telinga umat Islam, sholat malam yang 11 rakaat itu ya hanya di bulan Ramadhan saja. Semuanya terjebak, sibuk dan ribut mendefinisikan antara shalat Tarawih, Qiyamul Lail (sholat malam) dan shalat Tahajud. Sibuk bikin definisi tapi tidak ada pengamalan. Tiap tahun ada saja yang berbantahan masalah definisi 3 macam shalat itu. Ada yang bertanya, Kalo sudah sholat Tarawih, apakah boleh sholat Tahajud ustadz? Lantas kapan kita Qiyamul Lail? Menunjukkan bahwa masyarakat masih bingung dengan definisi-definisi shalat di atas. Apalah arti suatu definisi kalau ternyata pertanyaan di atas hanya sebatas tanya jawab tanpa ada follow up.
Padahal Rasulullah saw telah mencontohkan, memerintahkan dan menerangkan fadhilah sholat malam tanpa ribut mendefinisikan mana yang tahajud, mana yang tarawih dan mana yang qiyamul lail. Bilangan rakaatnya pun dicontohkan Rasulullah saw dengan sangat variatif antara 7 sampai 15 rakaat. Dengan cara yang juga bervariatif juga. Tetapi lihatlah yang terjadi saat masuk bulan Ramadhan! Selalu saja awal bulan Ramadhan diawali dengan gontok-gontokan mempermasalahkan jumlah rakaat shalat Tarawih dan cara mengerjakannya.
Setelah lewat Ramadhan, ya sepi lagi. Tidak ada lagi yang membahas bilangan rakaat shalat malam. Tidak ada lagi bahasan tentang cara shalat witir dan lain sebagainya.
Kemanakah Larinya Jamaah Sholat Fardhu?
Cobalah kita tengok, sebenarnya apa sih kedudukan sholat malam atau qiyamul lail di bulan Ramadhan? Segede-gedenya pahala yang didapat, tidak akan pernah melampaui besarnya pahala dan fadhilah shalat fardhu. Namun di bulan Ramadhan kemarin, amat banyak kita saksikan masjid-masjid menambah area sholat jamaah dikarenakan membludaknya jamaah sholat di masjid. Maka dipasanglah tenda tambahan untuk menampung jamaah, atau ada yang sekedar dipasang pelindung dari air hujan. Yang penting jamaah tertampung. Kadang bagi yang rajin shalat ke masjid, terbersit pertanyaan, Ke mana saja orang-orang ini selama ini? Kok baru nongol sekarang?
Kalau dicermati lagi, sebenarnya jamaah yang membludak ini akan menghadiri sholat jamaah Isya, ataukah sholat tarawih berjamaah? Kalau akan menghadiri shalat jamaah Isya, mengapa sebelum Ramadhan tidak pernah hadir? Bukankah shalat Isya berjamaah tidak hanya di bulan Ramadhan saja? Maka berarti memang membludaknya jamaah shalat ini dikarenakan berniat akan menghadiri shalat Tarawih berjamaah. Shalat Isya kalah populer ternyata. Salah siapa sebenarnya ini? Public Relationnya yang kurang publikasi nilai shalat kepada publik? Ataukah jamaahnya yang salah mengerti? Siapakah Public Relationnya? Ya tentu saja para ulama!! Merekalah yang seharusnya menerangkan kedudukan dan nilai shalat yang sesungguhnya. Jika sudah dan maksimal, akan tetapi masih saja setiap tahunnya seperti itu, berarti memang yang error adalah publik umat Islam secara keseluruhan.
Gejala yang terlihat, agama hendak dijadikan hanya sekedar asesoris hidup. Pelengkap saja, bukan pokok. Bulan puasa ya puasa, saatnya korupsi ya korupsi. Jangan ngomong agama saat korupsi. Tidak pada tem-patnya, begitu kata orang. Agama hanya ada di mesjid saja. Di warung jangan ngomong agama. Di masjid pun ngomong agama ya hanya saat pengajian saja. Di waktu yang lain, ngobrol sambil merokok menunggu datangnya adzan.
Lama-lama agama hanya akan disentuh di masjid saja, itupun saat pengajian saja. Duabelas bulan dalam setahun hanya sebulan saja orang ingat agama. Sebelas bulan lainnya bejat. Agama dibatasi ruang dan waktu. Ngomong dan bicara agama hanya saat tertentu dan tempat tertentu. Jangan heran jika semua aspek hidup kita nantinya tidak boleh disinggungkan dengan agama, jauh dari agama, dan lepas dari agama.

Adakah agama di kantor anda sekalian? Adakah agama di rumah anda sekalian? Adakah agama di kamar anda sekalian? Adakah agama di hati anda saat ini?
Wahai jamaah shalat Tarawih, yang memenuhi masjid-masjid Allah di bulan Ramadhan kemarin, di manakah kalian sekarang? Apakah sesudah Ramadhan ini agama dianggap tidak ada?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel