Level Kenikmatan

Level Kenikmatan

Beberapa hari terakhir ini simbah lihat buah belimbing di depan rumah simbah tampak gede-gede dan menguning. Hampir tiap hari anak-anak memetik dan merasakan nikmatnya belimbing itu. Tadinya buah belimbing merupakan buah paporit simbah. Baru mendengar namanya saja sudah kemecer. Apalagi jika melihat orang rujakan sembari sesekali ndulit sambel rujaknya, wah makin kotos-kotos saja…
Namun setelah memiliki pohon sendiri, simbah mulai merasakan yang namanya belimbing itu biasa-biasa saja. Malahan simbah terhitung jarang makan buah belimbing walaupun hampir setiap hari di kulkas selalu tersedia. Malahan justru para tetangga yang seringkali menikmati buah belimbing simbah.
Sebenarnya tidak hanya simbah yang merasakan hal serupa. Hampir semua pemilik pohon buah-buahan ataupun hal yang lain pasti akan merasakan hal serupa. Yu Ginem yang memiliki kebun duren di belakang rumahnya, akan menganggap makan duren bukanlah hal yang luar biasa. Mungkin justru Yu Ginem akan lebih tertarik pada buah ciplukan yang tumbuh liar di kebon Kang Jemprit dimana kang Jemprit sendiri tiap hari sibuk nebasi pohon Ciplukan itu karena dianggap mengganggu.
Orang menamai penomena ini dengan kata “bosan”. Pokoknya kalau sudah punya sendiri malah jadi bosen. Beda keadaannya manakala masih berada di harapan atau angan-angan atau cita-cita. Si Badu yang lama memimpikan punya PS sendiri itu merasakan keasyikan yang sangat manakala belum punya PS sendiri dan hanya nebeng di rumah tetangganya. Justru keasyikan itu menjadi menghilang di saat dia bisa mengangkangi sendiri PSnya yang dibelikan oleh simboknya setelah menjual wedhus kesayangannya. Walaupun di minggu-minggu awal dia masih merasakan keasyikan yang sama seperti di rumah tetangganya.
Begitulah kehidupan. Justru kenikmatan segala sesuatu dalam hidup ini bisa lebih terasa manakala segalanya masih dalam harapan dan cita-cita. Manakala harapan dan cita-cita itu tercapai, seseorang mengalami proses pendataran dan selanjutnya penurunan di dalam hal level kenikmatannya.
Cobalah sampeyan temui kaum gembel wal kere, lalu berikanlah pada mereka selembar uang dua puluh rebuan. Maka sampeyan akan dapati ekspresi wajah kegembiraan yang tiada tara yang tak sampeyan dapati di wajah seorang Pengusaha Konglomerat sekaligus merangkap Taleg (Anggota Legislatip) jika diberi nominal uang yang sama. Sang Konglomerat Taleg tadi baru akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama jika yang diberikan adalah sekoper penuh uang gambar Soekarno Hatta. Level kenikmatan uang duapuluh ribuan ripis sudah lewat.
Sampeyan temtu ingat grup-grup musik dunia semacam The Beatles atau Rolling Stones, dimana pada saat segalanya sudah bisa mereka nikmati yang terjadi adalah ketiadaan harapan dan cita-cita. Harapan dan cita-cita adalah satu hal yang baru bisa diwujudkan NANTI saat dia mampu mencapainya. Di lepel keadaan dimana segalanya bisa diwujudkan SEKARANG justru membuat seseorang tak bisa bercita-cita dan berharapan. Segala sesuatu yang bisa dinikmati bisa diwujudkan saat itu juga, apapun itu. Ujung-ujungnya adalah seseorang menjadi pribadi yang tak mudah lagi dipuaskan. Karena lepel kenikmatan yang tadinya bisa memuaskan dia sudah dilewati semua.
Di keadaan seperti itu, sebagaimana sudah sampeyan tahu, orang-orang yang sudah memuncaki lepel kenikmatan dunia itu mencoba mencari kenikmatan di jalan lain. Ada yang mencoba kenikmatan di alam narkotika, morpin dan narkoba lainnya. Yang lebih ekstrim adalah seperti pasangan suami istri kaya, yang merasa sudah menikmati apapun yang ada di dunia ini. Hanya saja ada satu yang belum pernah dia rasakan dan penasaran dengan rasanya, yakni merasakan Mati alias Dut van Modiyar. Pasangan gendheng tapi kaya ini bunuh diri bareng-bareng karena penasaran dengan yang namanya mati. Opo gak koplo…
Meski begitu ada juga perkecualiannya. Simbah teringat satu acara di TV AXN yang saat itu menampilkan Dylan Wilk, yakni seorang yang bisa menjadi orang terkaya nomer 9 di Inggris di usia 25 tahun. Jian, hebat tenan, siapapun pasti pingin begitu. Di awal masa sugehnya, kang Dylan menghabiskan duitnya untuk koleksi mobil sport mewah yang memang digilainya. Yang namanya Ferrari dan sedulurnya menjadi target langganannya. Tak luput juga BMW, Mercy dan lainnya. Namun menurut pengakuannya, semua itu tak menjadikan dirinya menemukan arti hidup. Kesenangan memiliki mobil-mobil mewah itu hanya bertahan paling lama 6 minggu. Lalu semuanya jadi BIASA lagi.
Hidupnya jadi agak lebih hidup di saat dia dimintai bantuan mbangun rumah gelandangan sebanyak dua biji, yang biaya pembangunannya sebesar harga tiket pesawatnya.. Glodaak.. Dia tersadar. Kenikmatan hidup  tidak hanya dengan cara memuaskan diri. Maka melihat wajah kepuasan orang yang dibangunkan rumah olehnya menjadikan hidupnya lebih berarti. Ketika dia pulang, dia melihat mobilnya dengan pandangan berubah. Dia memandang deretan mobilnya dengan pandangan jijik. Satu mobilnya yakni BMW seri M3 dijualnya dan diwujudkan menjadi 60 rumah bagi gelandangan di Filipina sekaligus dia namai komplek rumah itu dengan nama kampung M3 sesuai nama seri mobil BMW yang dia jual itu.
Melihat beberapa kenyataan di atas, apabila sampeyan memiliki sekian banyak harapan dan cita-cita yang belum terwujud, bersyukurlah dan kejar cita-cita itu. karena itulah yanag membuat sampeyan merasakan hidup. Gusti Allah melarang orang berputus asa atawa berputus harapan. Orang yang putus harapan selalu dikaitkan dengan orang yang tak punya harapan. Dan penyebab orang tak punya harapan ternyata ada 2, orang yang merasa tak bisa mewujudkan harapan dan orang yang segala harapannya sudah terwujudkan hingga bingung harapan mana lagi yang akan diwujudkan.
Maka agar orang bisa terus punya harapan, carilah harapan yang tidak bisa diwujudkan di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bisa memiliki harapan seperti itu. Karena mereka tidak menanamkan harapan sepenuhnya pada dunia. Taapi di alam yang hanya diyakini oleh orang yang dipanggil oleh Allah sebagai “Wahai orang-orang yang beriman”
LihatTutupKomentar