Oh Pak Penghulu

Oh Pak Penghulu

Minggu-minggu terakhir ini jika sampeyan mau memperhatikan gang-gang di pinggir jalan di Jakarta, akan tampak yang namanya umbul-umbul janur disertai nama pasangan pengantinnya berderet seperti bendera merah putih di saat hut ri agustusan. Sewaktu simbah menyusuri jalanan di daerah Pondok Kopi dan wilayah Semper, tak sampai jarak seribu tombak sudah melewati hampir sepuluh umbul-umbul janur kuning melengkung. Yang berarti setidaknya ada sepuluh pasang anak manusia sedang dinikahkan hari itu.
Tak salahlah jika bulan dzulhijjah ini bulan hajatan atau disebut sebagai bulan nikah bin musim kawin. Bukan lantaran hawa dingin yang cocok buat bulan madu pasangan pengantin, namun karena ketakutan orang menjalankan acara nikah di bulan Muhamram lah yang menjadi penyebab. Ada yang menyangkal pendapat ini dengan mengatakan bahwa banyaknya acara pernikahan di bulan ini lantaran bulan Dzulhijjah adalah bulan haram, yakni bulan baik yang dimuliakan oleh Allah. Tentu saja ini merupakan pendobosan publik yang membodohkan. Karena yang namanya bulan haram itu ada empat, tiga di antaranya berurutan. Yakni Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Jadi jika memang yakin bahwa pernikahan yang pating drindil itu karena menepati bulan haram seharusnya musim kawin itu akan berlanjut sampai Sasi Suro alias bulan Muharram nanti. Namun kenyataannya, di saat mulai masuk bulan Muharram, aktifitas kawin mengawinkan pun libur sebulan penuh, terutama bagi semua orang javanese van ndesonese.
Berbicara masalah urusan kawin mengawinkan, maka kita tak bisa lepas dengan yang namanya pejabat pencatat pernikahan dari Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasa disebut dengan Pak Penghulu. Perlu diketahui bersama bahwa fungsi utama dihadirkannya Penghulu dalam acara pernikahan adalah semata-mata sebagai pejabat negara yang mencatat dan memberikan kekuatan hukum legal bagi pernikahan yang berlangsung, sehingga pernikahan tersebut syah menurut agama dan undang-undang yang berlaku. Sedangkan yang namanya menikahkan itu adalah tugas dari bapaknya si pengantin perempuan.
Pada prakteknya yang namanya penghulu ini mendadak berubah menjadi raden Ngabehi yang mengambil alih semua peran dalam acara pernikahan. Dari sejak menikahkan,mencatat, mengatur dan bahkan menyutradarai jalannya acara pernikahan bak sutradara tiban. Sehingga acara akad nikahpun jadi seperti sinetron atau opera sabun deterjen yang tak berbusa. Sampai-sampai bermunculanlah ide-ide baru yang disisipkan dalam acara nikah yang sebenarnya bukan merupakan rukun nikah, tapi dijejalkan dengan paksa. Akibatnya publik awam beranggapan bahwa itu adalah wajib, karena yang nyuruh pak Penghulu yang dianggap paham dalam urusan agama.
Di antara perkara yang dijejalkan itu adalah saat akad nikah akan dijalani, sang mempelai perempuan disuruh minta ijin dulu pada bapaknya untuk menikah dengan pria pilihannya. Ini sebenarnya acara yang ngoyoworo, lucu dan kadang mbikin simbah ngempet ngguyu. Ha wong bapaknya sudah nyewa gedung jutaan ripis, nyewa sonsistem dolby stereo serta tata panggung berhias sinar laser, semuanya jelas mengindikasikan kalau bapaknya jauh-jauh hari (tanpa Nurudin) sudah mengijinkan dan bahkan menyiapkan semuanya, kok ya masih dijejali lagi acara ketoprakan mubadzir yang namanya “minta ijin”. Coba bayangkan jika tiba-tiba bapaknya njawab, “saya tidak mengijinkan nduk”…. Apa nggak kaget para tamu undangannya. Tiwas dandan berjam-jam, minjem gelang kalung tetangga buat kondangan, ha kok gak jadi nikah. “Tiwas ngamplopi,” begitu mungkin pikiran para tamu undangannya melihat acara pernikahannya gagal total.
Di antara perkara yang kadang dibikin-bikin dan ini didukung oleh pihak keluarga pengantinnya adalah diulang-ulangnya ucapan ijab kabul karena dianggap tidak syah lantaran alasan yang mengada-ada. Ada yang menganggap tidak syah karena saat pengantin laki-laki mengucap lafal ijab kabul disela dengan batuk. Ada yang menganggap tidak syah karena ucapan ijab kabulnya tidak lancar. Ada yang menganggap tidak syah karena antara ucapan sang bapak dan pengantin laki-laki jaraknya lebih dari dua detik. Sehingga saat si bapak selesai mengucap lafal menikahkan, sang pengantin laki diberi kode untuk segera menyambut. Ada juga yang menganggap tidak syah lantaran ucapan ijab kabulnya agak tergagap karena gugup. Alangkah sialnya jika pengantin lakinya seorang yang memang gagap. “Ssaa..sa.. ya te…te.. teri..terr….terima…nnnn…nik..nikahnya……..” GLODAAK!!! Sampai lebaran kucing gak akan syah nikahnya lantaran perlu diulang lagi dan diulang lagi.
Dan perkara yang membuat makin miris adalah biaya nikah yang ditetapkan oleh pihak KUA yang tidak jelas juntrungnya. Ada yang bilang lebih transparan tarif short time gang Dolly daripada nikah resmi. Sebenarnya yang menjadi penyulit adalah keharusan datangnya pak Penghulu ke tengah acara akad nikah. Padahal jika acara nikah dijalankan,lantas KUA hanya berfungsi sebagai pencatat, maka akad nikah tak harus dihadiri Penghulu. Pernikahan cukup didaftarkan dengan menghadirkan saksi ke KUA. Namun karena masyarakat dicekoki pemahaman bahwa acara akad nikah harus dihadiri penghulu dari KUA,maka akhirnya muncullah biaya transport untuk menghadirkan penghulu. Biaya transport inilah yang akhirnya menjadikan biaya nikah jadi melambung. Karena biaya transport yang dikehendaki pak Penghulu seringkali harus ditetapkan dengan nego bak bakul ayam. Ada yang kena sejuta, setengah juta, bahkan yang sial adalah jika pak Penghulu sudah buka harga empat juta. Mau ditawar berapapun kenanya tetap di atas sejuta ripis. Kasian juga Lik Sarmin yang sudah bujang lapuk ngempet nikah karena tak kuat menghadirkan penghulu ke acara nikahnya.
Ada satu kisah nyata di komplek simbah di tahun 2007 saat komplek simbah kena banjir. Salah seorang warga mengadakan acara pernikahan di tengah suasana banjir yang melanda. Pak Penghulu pun dihadirkan. Karena suasananya sedang banjir, jalan yang ditempuh pun penuh keklebusan dan basah. Selepas akad nikah diucap dan Pak Penghulu pamitan, mendadak pak Penghulunya bilang dengan setengah berbisik pada sohibul hajat, “Maaf pak, berhubung keadaan banjir seperti ini, saya mohon kebijakan dari bapak untuk memberikan ‘uang banjir’ pada kami. Bapak tahu sendiri kan, cukup susah mencapai daerah sini dengan suasana banjir kayak gini. Paling tidak 200 rebu pak”. Sekali lagi : GLOODAAKK !!!

Salah seorang kawan simbah simbah masih bisa bersyukur dengan nyeletuk, “Untung cuma kena uang banjir 200 rebu, untung gak diminta uang klebush, uang laundry dan uang becek.” Oh… pak penghulu. Simbah yakin, tak semua begitu.
LihatTutupKomentar