Pagar Moral

Pagar Moral

Adalah Kang Mondhol dan Kang Jebol (bukan nama sebenarnya), dua orang sohib simbah di masa co-ass yang cukup akrab pergaulannya dengan simbah. Pertama kali masuk co-ass, simbah belum begitu akrab dengan mereka. Hingga akhirnya dikarenakan sering satu rombongan dan jaga bersama nginep di RS, keakraban itu mulai terbentuk.

Pada suatu ketika, bersama sekian co-ass yang lain simbah dan 2 sohib ini jaga di bagian Obsgyn. Pada saat jaga, simbah dan sohib-sohib ditempatkan di satu ruangan yang sebenarnya secara normal hanya muat 5 orang. Namun karena keterbatasan tempat, akhirnya dimuati sebanyak 9 orang. Kasur kapukpun dijejer biar muat.

Awalnya masing-masing co-ass masih pada jaim. Namun disaat nginep bareng dan berjubel macem ikan teri semacam itu, kejaiman mulai luntur. Lha mau jaim pigimanah, ha wong siangnya berlagak rapi jali, dipanggil dakdok-dakdok padahal masih co-ass, begitu malem tiba jebul ngileran, ngowehan, ngorokan dan menjadi makhluk pengerat saat tidur.

Tadinya peristiwa ngowoh, ngorok, ngiler dan mengerat tak dibicarakan. Begitu satu co-ass ditegur kang Mondhol, “Dul, mambengi sampeyan tidurnya kok kreat-kreot kayak ngunyah sekrup ki ngapain tho…?”

Pertanyaan ini meruntuhkan pager kewibawaan, kejaiman dan moral yang sebelumnya masih dijaga ketat. Si Dul yang sebelumnya ngempet gak bicara apa-apa akhirnya ngomyang juga : “Halah, lha sampeyan aja genah tidur nyirami bantal terus gitu kok. Ntar lagi klenthengnya numbuh itu jadi pohon randhu.”

Kang Jebol yang tadinya diem saja jadi ketawa ngakak…. Kang mondhol jadi dongkol. “Rasah ngguyu,”katanya. “Lha wong sampeyan ki kalo tidur suaranya kayak illegal logging gitu kok. Grakgrok-grakgrok ngorok macem suara graji mesin lagi nebang pohon.”

Mulai dari situ, semuanya tak ada yang malu-malu. Saling ejek dan ledek, namun dalam suasana canda yang cair. Jeroan masing-masing dikupas gak ada yang merasa malu. Karena pager jaim dan pager moralnya sudah dijebol bareng-bareng. Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar suara “Broooott..!!”

Suara itu tak asing, karena semua co-ass pernah mengeluarkannya. Semuanya terdiam saling pandang. Namun pandangan semuanya tertuju pada kang Jebol. Mungkin saat itu semua sepakat untuk berkata dalam benak masing-masing, “Iki mesti klep anusnya Kang Jebol bener-bener jebol, lha kenthut kok sampai sedahsyat itu.”

Hanya simbah yang berani nyeletuk, “Sampeyan ki yen ngising jangan disini, galo mbesenya disana…Ambune kang-kang.”

Kang Jebol tiba-tiba ngakak. Aktifitas kenthut yang sakral dan dijaga dengan pager moral tebal itupun pagernya runtuh seketika. Dan sejak saat itu hampir setiap saat, salah satu dari suara berikut ini hampir selalu terdengar di kamar co-ass. Kalo nggak “Duut, preet, bruut” atau setidaknya “besss”…. yang terakhir ini tidak nyaring tapi aromanya mematikan. Aktifitas kenthut yang sebelumnya dilakukan sembunyi-sembunyi penuh was-was kalo konangan, tiba-tiba dengan leluasanya bisa dilepas dengan penuh kelegaan tanpa takut ditegur. Karena pager moral yang menjaganya sudah dirubuhkan bareng-bareng dengan meletupnya klep anus kang Jebol yang ternyata bukan diingatken, ditegur atau dimarahi tapi disambut dengan renyah.

Sebagaimana kenthut, perbuatan yang tidak pantas ataupun kemaksiatan lainnya sebenarnya memiliki pager moral yang sebelumnya sudah terbentuk secara alami dan fitrah. Pagar ini dibawa dan dibekalkan pada manusia sejak lahirnya. Sehingga perbuatan yang buruk pasti akan dirasakan memalukan jika dilakukan secara terbuka ataupun di muka umum. Walaupun sebenarnya secara pribadi ada sisi kenikmatan ketika seseorang melakukan hal yang kurang senonoh, maksiat ataupun dosa besar sekalipun.

Namun ketika pagar moral masing-masing amal maksiat dan tak senonoh itu ambruk, dan ambruknya ini sudah pasti ada yang memulai , maka yang muncul adalah aksi maksiat dilakukan tanpa malu, dan aksi tak senonoh menjadi tidak tabu lagi dipertontonkan.

Maka di masa dahulu, hal yang sungguh memalukan manakala seorang wanita tampak betisnya di muka umum. Pagar ini terjaga hingga akhirnya roboh ketika beberapa wanita yang bersedia menjadi pionir berani mempertontonkan tidak hanya betis, tapi juga paha dan selangkangan mereka. Awalnya banyak yang protes. Hingga akhirnya suara protes itu lama-lama tenggelam dan dianggap kuno. Sementara suara lantang yang mendukung aksi keterbukaan auroth itulah yang makin kenceng dan dianggap modern. Bahkan justru datang dari kalangan wanita sendiri, yang katanya tak ingin didikte caranya berpakaian (tapi mau didikte oleh arus fashion). Yang modern adalah yang makin tinggi roknya, makin tipis bahan kainnya dan makin menampakan sisi kefeminiman.

Di masa lampau, hamil di luar nikah adalah hal tabu memalukan. Semua bangsa dan suku pernah mengalami masa dengan pagar moral semacam ini. Tiba-tiba pagar moral ini diterjang oleh aksi zina demonstratip dengan banyak sebutan, diantaranya “kumpul kebo”, dan tiba-tiba masyarakat jadi permisif dengan kelakukan ini. Dan jika kita mau perhatikan, pagar moral yang fitrah dan alami sudah mulai hilang. Roboh satu-persatu oleh pionir kemaksiatan yang tak pernah dicegah, ditegur ataupun dihukum dengan pantas.

Padahal satu bangsa atau umat manakala pagar moralnya runtuh, semuanya jadi pantas namun bejat. Akan tampak di depan mata umum perbuatan maksiat dilakukan tanpa malu. Pejabat minta sogok tidak malu. Guru minta amplop agar anak didik naik ranking pun tak malu. Korupsi triliunan terbongkar tidak malu. Mahasiswa tawuran tidak tahu malu. Pelajar mbunuh pelajar malah bangga dan tidak malu. Wanita jual kehormatan tidak malu, malah dikonteskan.

Penjebol dan perubuh pagar moral ini makin banyak berkeliaran. Ada yang berwujud artis, pejabat, LSM, profesional, kere, kyai, dlsb. Dengan robohnya pagar moral, roboh juga rasa malu. Jika sudah tidak punya malu, segalanya jadi pantas. Tak heran, malu adalah salah satu cabang iman. Tak punya malu berarti tercabut satu cabang keimanan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel