Salah Sedekah

Salah Sedekah

Salah Sedekah? Begini critanya...

Siang itu seperti biasa selepas sholat Jum’at beberapa murid ngaji simbah mengumpulkan kotak infaq masjid untuk dihitung hasilnya. Di tengah asyik-asyiknya ngetung hasil infaq jum’at itu, dumadakan salah seorang pengurus masjid mendekati para penghitung infaq itu. Dia bilang:

“Anu, maap… tadi saya salah naruh uang infaqnya. Mau saya tuker dulu…. Tadi saya masupin uang limapuluh rebuan. Ini mau saya tuker yang duapuluh rebuan…”
kata sesepuh sekaligus pengurus masjid itu pada para pemuda penghitung infaq.

Para pemuda penghitung infaq itu saling berpandangan ngempet ngguyu. Selepas si pengurus mesjid itu ngilang. Mereka serempak ngakak dengan perasaan tak habis pikir. Kok ya ada lho manungso jenis begini. Mau dilarang kok ya dia pengurus masjidnya. Lagian gak ada saksi apa benar dia masupin uang limapuluh rebuan, atau malah tadi cuma masupin seribuan. Ah sudahlah….. anggep saja dia jujur.

Begitulah watak dasar manusia. Untuk urusan infaq menginfaq atau shodaqoh, maka nilai limapuluh rebuan adalah angka mewah. Bahkan untuk ukuran sedekah jum’at pun itu masih termasup dalam kategori hebat. Hanya mereka yang bergaji sekian digit yang dianggap mampu melakukan itu. Tapi apakah betul shodaqoh kita yang kita cemplungkan ke kotak infaq itu merupakan limit kemampuan kita untuk menyedekahkannya??

Di satu rombongan pengojek yang sebagian besar hidupnya setengah kesrakat, simbah pernah mendengar satu pembicaraan yang menarik untuk disimak. Sebut saja Kang Sastro Cagak, dia tengah ngetuprus perihal kejadian yang barusan menimpanya.

“Wah, sial bener hari ini aku. Lha penumpang baru dapet tiga sudah dicegat pulisi. Lha mukmen (razia) kok gak bilang-nilang lho… edan tenan..!!”  kata Kang Sastro Cagak geram.

“Keno piro kang..?” tanya Kang Pawiro Slenthem.

“Pulisine minta satus ewu… wah duite mbahe po..!! Akhirnya cuma tak kasih seket ewu ripis. Ha kok tujune pulisine gelem.. hahahaha.. Nggragas tenan jian… yo wis lah. Yang penting beres..”  kata Kang Sastro Cagak tersenyum lebar menandakan kelegaannya.

Lihatlah dua contoh di atas! Pak pengurus masjid yang nyemplungin uang seket ewu ripis ke kotak inpak itu merasa angka seket ewu itu terlalu besar. Maka dia ralat angka shodakohnya dengan duapuluh rebu ripis. Tapi si tukang ojek yang status ekonominya mlarat ngempet itu, merasa plong dan lega kehilangan uang limapuluh rebunya. Padahal larinya duit si tukang ojek itu beraroma nyogok, sedangkan si pengurus mesjid itu nilainya sedekah.

Nggak tahu kenapa, saat duit kita mbablas angine di mal-mal, di gedung bioskop, di restoran-restoran, maka angka berapapun jarang kita sesali dan dianggep pantas untuk mbablas di situ. Namun di saat duit itu dipanggil oleh kotak sedekah, zakat, dan amal-amal sholeh lainnya, kita menganggap angka-angka yang besarnya sama dengan yang mbablas di mal-mal dan sejenisnya itu terlalu besar.

Padahal pada hakikatnya, harta kita yang sesungguhnya adalah yang kita belanjakan untuk amal kebaikan itu. Kalo yang hanya diniatkan buat makan, ujung muaranya di njumbleng. Yang buat pakaian, ujung muaranya jadi gombal mukiyo, atau setidaknya gombal amoh. Sedangkan yang ditumpuk-tumpuk di rekening Bank, ujung muaranya jatuh ke tangan ahli waris. Harta yang kita genggam adalah yang kita salurkan kepada amal sholeh yang diniatkan untuk mencari Ridho dari Gusti Allah yang telah memberi rejeki pada kita.

Untuk urusan sedekah, kita selalu merasa uang kita gak cukup buat sedekah. Apakah karena tidak mampu atau atau sebenarnya tidak mau, diri kitalah yang paling tahu. Satu ayat dalam Kitabullah menerangkan tingkat keparahan sifat kikir manusia :

“Katakanlah (wahai Muhammad), seandainya kalian menguasai khazanah perbendaharaan rahmat Tuhanku, maka kalian tentu akan menahannya (tak mau membagikannya) dikarenakan takut infaq. Dan adalah manusia itu sungguh amat kikir.” (S. Al Isra ayat 100)

Bahkan jika manusia menguasai seluruh harta di alam semesta ini, tetep saja kikir untuk mengeluarkannya. Maka sebenarnya tak ada satu alasan pun untuk tidak mengeluarkan sebgaian harta kita untuk berbagi dengan sesama yang diniatkan mencari ridho Illahi. Tidak usah nunggu sugeh mblegedhu buat sedekah. Gak usah nunggu digit gajinya naik kalo mau berbagi. Saat ini pun semua bisa melakukannya. Yang dibutuhkan bukan kemampuan, namun kemauan. Karena yang kita keluarkan untuk sedekah dan berbagi itu sebenarnya pasti diganti, baik di dunia maupun di akherat.

Belum pernah ada ceritanya orang mlarat dikarenakan sedekah. Kalo cerita tentang orang yang mlarat karena kikir, wah… rong ikrak tumplak. Maka “ janganlah pernah merasa salah karena telah sedekah ”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel