Simbah Di Bedah Buku Rame-Rame

Simbah Di Bedah Buku Rame-Rame

Sebagaimana sampeyan sudah ketahui, Indonesia ini terdiri dari banyak suku dan etnis. Masing-masing suku memiliki kabudayan dan bahasa masing-masing. Dan masing-masing bahasa memiliki kekhasan dalam hal intonasi kata, artikulasi hurup, maupun cara pengucapan kalimatnya. Maka orang Batak dengan orang madura tak akan sama dalam mengucapkan kata. Orang Jawa dengan orang Sunda tak akan sama dalam bertutur kata. Sehingga lahirlah kata “medhok”. Jangan tanya simbah etimology kata ini, ha wong memang simbah juga gak mudeng babar pisan.

Sebagian pembaca blog ini mengomentari bahwa tulisan simbah sangat medhok jawanya. Padahal kata medhok biasanya dilontarkan untuk menilai sesuatu yang didengar, bukan yang ditulis. Gak apalah, mungkin ini hanyalah satu gejala majas yang simbah juga gak mudeng babar pisan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, huruf “d” atau “dh” dikenal dalam bahasa jawa dan diucapkan dengan logat yang berbeda. Demikian juga huruf “t” berbeda dengan “th”. Belum lagi tambahan kata dalam berbahasa seperti kok, ha wong, thik, no, naknu, dlsb, yang menambah tekanan makna dalam penggunaannya. Hal ini sempat menggelitik seorang sunda, yang selalu terkekeh ketika mendengar temannya yang jawa sedang berbicara.

“Kenapa sih sampeyan selalu ketawa mendengar saya ngomong?” tanya seorang jawa pada temannya yang sunda.

“Ah enggak. Saya cuma geli aja denger kamu gak bisa ninggalin kata “no” dan “ik” kamu. Coba saja dengar omongan kamu, “Iyo ik”, “Yo ora no”, “Gede tenan ik”….. hehehehe “ kata sang sunda sambil ketawa.

“Udahlah, itu sih memang sudah gawan dari bayek. Lha kamu sendiri gak bisa ninggalin kata “mah”….. “ kata si jawa.

“Ah… itu mah gampang atuh……” kata sang sunda mengelak sambil tetep memakai kata “mah” nya.

Maka untuk urusan medhok ini, simbah merupakan salah seorang jawa tulen yang lidahnya masih terjangkiti gejala medhok akut. Sampai-sampai sebelum simbah mengatakan darimana asal muasal simbah, orang langsung sudah pada tahu kalau simbah berasal dari jawa ndeso.

Tadinya hal ini membuat simbah males untuk nggedabrus di muka umum. Namun setelah simbah mengamati dan mendengar langsung beberapa maestro yang ahli di bidangnya yang berasal dari tlatah jawa, rupa-rupanya sebagiannya masih terjangkit penyakit medhok ini, maka jadi pede lah simbah. Sebut saja beberapa nama semisal maestro pilem Garin Nugroho, dimana nama “Nugroho” yang tak ditulis “Nugraha” menunjukkan dia orang jawa, bukannya sunda. Dan kejawaannya makin konangan ketika kita mendengar logat obrolannya. Lalu  ada Hermawan Kertajaya sang maestro marketing, walaupun namanya tak ditulis “Kertojoyo” tetap tak bisa menutupi logat jawanya yang akut. Dan yang tak kalah maestronya juga adalah pakar revolution yakni Tung Desem Waringin. Walau namanya babar blas gak nyrempet jawa sama sekali, namun jikalau sudah mendengar beliau ngomong orang langsung bisa menebak logat etnis mana yang dipakai dalam bicara.

Dibanding dengan tiga nama yang simbah sebut, simbah hanya baru mewarisi medhoknya doang. Maestronya belum sama sekali. Dan mengapa simbah bicarakan hal ini? Karena sebentar lagi simbah akan nggedabrus di porum bedah buku rame-rame. Namanya juga rame-rame, maka beberapa penulis dihadirkan untuk membedah bukunya masing-masing. Walaupun sebenarnya kata “Bedah” tak cukup wangun untuk dipakai, karena kata bedah biasanya dipakai untuk mengupas tuntas dari kulit bin cover sampe jeroan isi buku. Namun karena rame-rame, maka penulis mungkin hanya bisa nyolek dan sedikit nyudhet agar pembaca bisa membedah sendiri jeroan bukunya di rumah masing-masing.

Maka jika sampeyan di malem minggu kok merasa kurang gaweyan dan nglamun jorok sendirian, maka simbah saranken untuk segera membuang lamunan joroknya dan bergegas ke acara bedah buku simbah di Islamic Book Fair Senayan, pada tanggal 7 Maret 2050 pukul 7 malem. Dan dengarkan logat medhok simbah yang akan merongrong telinga sampeyan dengan akutnya. Tak ada salahnya minum obat anti mabok duluan agar tak muntah di tempat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel