Tabib Dukun Hd adalah Kang Cidromoto

Tabib Dukun Hd adalah Kang Cidromoto

Adalah Kang Cidromoto seorang,  penyandang katarak akibat diabetes yang disandangnya, sudah bertahun-tahun mertombo ke segala penjuru dokter ahli mata. Sudah mengalami kembola-kembali dioperasi dengan hasil cukup mengecewakan. Mata blawur bin kabur hasil kerja kataraknya tak kunjung cerah. Yang namanya keblegong wal kejlungup comberan, menjadi kekhawatiran utamanya. Karena jikalau tak hati-hati, selokan deket masjid yang menganga cukup lebar, hampir pasti menjadi area accidental crash landing yang cukup bikin kedandaban wal babak bundhas.
Lain lagi dengan Kang Paroloyo, penderita stroke yang sekarang lumpuh separo itu masih penasaran menanti turunnya sang penyembuh yang mampu memulihkan kelumpuhan akibat strokenya. Segala macem omongan baik yang berupa katanya-katanya tetangga maupun advis medis ngeciwis dilakoninya demi kepulihan anggota badannya yang lumpuh. Dari ngemplok jamu deplok hingga tablet kaplet berderet terpaksa dia kepret hingga kadang sampai mencret. Namun kesembuhan yang ditunggunya tak kunjung menjemputnya.
Baik Kang Cidromoto maupun Kang Paroloyo tak pernah menyerah. Dengan aktifnya, dicarilah segala macam sarana penyembuh. Dan saat ini kebetulan di kantor RW di komplek simbah sedang kedatangan seorang yang konon tabib top markotop yang mampu mengusir segala macam penyakit. Baik penyakit akibat makhluk kasar maupun makhluk halus. Konon ini adalah tabib yang sakti, hingga ibarat setan ora doyan, demit ora ndulit, iblis ora nggubris, vampir ora mampir, tapi duit ora nolak.
Lapaknya digelar dengan gegap gempita. Disampaikan juga bahwa arena penyembuhan tersebut tidak memungut biaya tertentu. Hanya infaq seiklashnya saja, agar sang tabib dan para cantriknya bisa menyambung napas. Tak disebut infaqnya berapa, bahkan katanya seribu ripis pun tak masalah asalkan ikhlas dan punyanya hanya itu. Kesan pertama sungguh menggoda. Kesan hebat, jumawa, jauh dari cinta dunia, dan semua kesan yang dibutuhkan bagi seorang penyembuh yang turun dari kayangan ada semua. Beda dengan kesan saat masuk ruang dokter spesialis yang kempling, sejuk dingin, berhalaman luas dengan minuman gratis disediakan di pojok ruangan, dimana sudah terbayang tarif konsultasinya pasti sudah mengakomodasi segala kegratisan yang dinikmati saat ngantri.
Hingga pada satu malam, datanglah kang Cidromoto ke tempat sang tabib. Setelah dilihat dan diperiksa sebentar, diberilah sejumlah air yang katanya sudah dihewes-hewesi oleh sang tabib. Kang Cidromoto dipeseni agar matanya ditetesi dengan air hewes-hewes itu tiap hari. Dan walhasil, sampai air hewes-hewes itu habis nggusis, sang mata tetep burem. Hingga kang Cidormoto datang lagi ke tempat sang tabib. Rupanya karena pasien mangkin membludak, pasien dilayani sesuai panggilan sang tabib. Kalau tak dipanggil ya mlongo saja hingga pengobatan tutup. Sementara yang ketiban sampur dipanggil sang tabib, dilayani hingga tuntas. Mulai dari amandel yang diambil tanpa operasi secara demonstratip hingga batu ginjal yang diambil pakai gelas dan silet tanpa rasa sakit. Tentu saja demonstrasi pengobatan ala abrakadabra dan alakazam ini menjadi tontonan spektakular warga komplek simbah.
Setelah mlongo beberapa hari, Kang Cidromoto akhirnya tak sabar untuk bertanya pada para cantrik mengapa dirinya tak kunjung dipanggil dan segera didumuk agar seger waras matanya. Maka para cantrikpun menyampaikan aspirasi kang Cidromoto ke sang tabib. Hingga akhirnya dijawablah pertanyaan kang Cidormoto:
“Begini kang, mata sampeyan itu sudah terlanjur dioprek-oprek oleh para dokter. Maka sudah kebacut rusak dan memang agak susah. Jadi butuh sarana tersendiri yang tentu saja ‘ono rego, ono rupo’….” begitulah kira-kira isi pernyataan sang tabib.
Singkat cerita, maksud dari ono rego ono rupo itu adalah harus bayar duit setidaknya 3,6 juta ripis. Harga yang cukup murah buat sarana yang namanya penglihatan. Yang menjadi pertanyaan adalah uang 3,6 juta ripis itu nantinya buat mbayar apa belum jelas. Kalau itu operasi di RS, sudah jelas duit itu rinciannya buat cost apa saja. Buat obat, bea operasi, bea dokter, bea perawatan dlsb. Lha ini 3,6 juta ripis masih gelap buat apa. Mekanisme sembuhnya gimana juga tak dijelaskan. Walhasil kang Cidromoto pilih tak melanjutkan terapi. Dan musnah sudah gambaran tabib yang bak dewa penyembuh turun dari kayangan itu. Yang ada adalah pemburu rupiah dengan segala polesan modus operandinya.
Lain lagi dengan kang Paroloyo, beliaunya memang hanya mencari terapi yang mangsuk akal. Maka didatanginyalah tabib penyembuh yang informasinya didapat di satu acara terapi alternatip. Sesuai dengan klaim sang tabib, bahwa dia hanya menggunakan bahan herbal alami, maka tabib ini menjadi pilihan kang Paroloyo.
Taripnya lumayan mahal untuk ukuran seorang tabib. Namun bagi kang Paroloyo harga tak menjadi masalah asalkan sembuh. Untuk konsultasi doang setidaknya duit bergambar Soekarno-Hatta harus pindah kantong. Sedangkan untuk dua kali terapi, setidaknya enam lembar uang bergambar Soekarno Hatta harus ikhlas pindah kantong. Lumayanlah, soalnya duit itu tak seperti Naruto yang bisa dikloning dengan jurus kage bunshin no jutsu nya. Jika dua kali terapi belum sembuh bisa ikut paket selanjutnya.
Lantas dapat apa dari dua kali terapi itu? Kang Paroloyo mendapatkan terapi dipijit dan diborehi dengan ramuan tumbukan wal deplokan herbal. Mulai dari kencur, bawang merah, dan segala rempah-rempah diracik, ditumbuk dan dipoles ke tubuh yang sakit. Dan itulah yang dibawa pulang. Disangoni dan disuruh bawa brambang bawang macem bumbu pawon untuk ditumbuk dan diboreh sendiri di rumah.
Setelah dua kali terapi, kang Paroloyo baru ngeh. Ternyata enam lembar soekarno Hattanya hanya mendapat bumbu pawon itu. Hingga akhirnya dia ngomong di akhir sesi terapinya :
“Pak Tabib, terimakasih sudah mau menterapi saya. Namun maaf saya belum mendapat manfaat berarti dari dua kali terapi ini. Dan saya nilai terapi pak tabib ini terlalu mahal untuk hanya sekedar mborehi bumbon ke tubuh saya. Jadi saya mungkin tak bisa melanjutkan terapi lagi,” katanya.
Sang tabib akhirnya buka bicara, “Maaf Kang, sebenarnya saya ini bekerja tidak sendiri. Saya ini hanya buruh, di bawah satu manajemen bersama.” kata sang tabib mulai menerangkan. Dan akhirnya terungkap bahwa dia hanya alat, yang diperalat satu pemodal memanfaatkan jaringan televisi swasta. Dimunculkan secara karbitan, tampil wawancara di tipi dalam satu acara terapi alternatip. Sasaran tembak konsumennya adalah pasien yang penasaran yang belum pernah mencoba cara terapinya. Bukan hendak sungguh-sungguh membantu terapi, tapi hanya mengorek duit pasien yang masih terus mencari jalan kesembuhan.
Duit yang dikeluarkan pasien adalah “tarip rasa penasaran” sang pasien, seperti apa sih model terapinya? Kalo seratus orang saja yang penasaran ingin mengetahui terapinya, itu berarti 60 juta ripis. Sedang bea untuk bisa tampil di tipi, cukup dengan pengeluaran sekitar 6 jutaan ripis setor ke stasiun tipinya. Hasilnya sepuluh kali lipat. Masalah nantinya pasien gak kembali lagi itu no problem. Tinggal bikin lagi dengan tabib yang lain yang serupa modusnya. Lalu duplikasi ke kota lain. Masih ratusan kota di seluruh Indonesia dengan stasiun swasta di daerah masing-masing. Dan masyarakat hanya tahu, kalo sudah bisa masup tipi pasti valid. Padahal tipi itu bisa dimasupin siapa saja asalkan taripnya sesuai buat menyambung napas tayang tipinya.
Pesan simbah, buat yang masih sakit kronis dan berusaha sembuh jangan putus asa. Hanya saja berhati-hatilah memilih terapi. Contoh kang Cidromoto adalah kasus riil dimana dia hampir cilaka karena mendatangi tabib dukunoid. Tabib tapi sebenarnya dukun materilistis manipulatif yang bisa mengancam amalan akheratnya dan menguras kantongnya. Sedangkan kang Paroloyo adalah contoh kasus yang juga riil, betapa terapi alternatip dijadikan ajang mencari duit dengan memanfaatkan rasa penasaran sang pasien seperti apa bentuk terapi yang ditawarkan. Bukan sungguh-sungguh berpraktek hendak menyembuhkan. Intinya adalah berhati-hatilah terhadap tabib dukunoid manipulospekuloopportunismaterialisadistis. Satu julukan bikinan Simbah yang boleh dikoreksi ejaannya dan gak bakalan masup di search engine sehingga memang kurang menjual dari segi SEO
LihatTutupKomentar