The Story of Nanto Bendhot

The Story of Nanto Bendhot

Salah seorang teman kecil simbah yang masih sangat simbah inget sampai saat ini adalah si Nanto Bendhot. Perawakannya kecil, sekecil isi otaknya yang selalu diisi dengan hal-hal mesum. Koleksi pisuhannya sak jagad abuh. Dari cara misuh ala tukang becak sampai pisuhan tukang kepruk dikuasainya. Tak ada orang yang ditakutinya, kecuali si Yoto anaknya mbah Bonjor yang tinggal di kelas satu SD selama 4 tahun. Ya …4 tahun, satu waktu yang cukup buat mencapai gelar S1. Nantho Bendhot pernah dikoploki sampai babak bundhas oleh si Yoto karena urusan ejek mengejek. Dan mulai saat itu, posisi Nanto Bendhot melorot menjadi perusuh eselon dua, setingkat dibawah Yoto. 

Sewaktu sedang booming munculnya club anak-anak muda yang suka kongkow macem Groanjal, Plethrex, Comanche, atau Lhelhembhoet, si Nanto Bendhot ini sudah ikut aktif dalam gank-gank seperti itu. Dan bisa dipastikan dia adalah member termuda karena memang masih kelas 3 SD di antara member lainnya yang rata-rata sudah seusia anak SMA. Tapi dalam hal nenggak ciu, belen atau mansion tak diragukan lagi, si Nanto Bendhot pantas dimasukkan dalam member paling haus. 

Walaupun kelakuannya setengah mbajing, namun kalau bulan Ramadhan si Nanto Bendot ini rajin juga sholat tarawih ke masjid. Bukan dalam rangka mertobat atau mencari dalan padhang, justru dia bawa atmosfer mbajingnya itu ke dalam masjid. Di saat yang lain sedang umak-umik baca doa sholat, si Nanto Bendhot malah asik menjadi perusuh mengganggu jalannya prosesi sholat taraweh. Mulai dari mlotrokne wal mbikin mlorot sarungnya Bandi Robot, seorang temen simbah yang bekas korengnya rata di sekujur tubuh,hingga seperti sekrup di tubuh robot. Atau nginjek kakinya si Eko Dobol, atau yang paling mengganggu adalah berteriak “Amiin” sekencang-kencangnya sebelum “waladh dhoooliin” nya selesai. Belum lagi kalau pulang dari masjid, satu-satunya hal yang bertambah bagus dari dirinya sepulang dari masjid adalah sandalnya. Berangkat pakai Neckerban, pulang nyangking Neckerman. 

Selepas bulan Ramadhan, nggeblas lagi blayangan ke mana-mana. Masjid gak lagi dirambahnya. Suara gaduh masjid tak lagi terdengar. Si Nanto Bendhot larut lagi dalam pergaulannya yang semula. Konon di usianya yang baru 12 tahun, keperjakaannya sudah rontok di lokalisasi nDangkrong dekat pabrik gula Tasikmadu. Dan di usianya yang belum 25 tahun, Nanto Bendhot sudah dijemput oleh Malaikat Izroil dalam satu kecelakaan tragis. 

Nanto Bendhot lahir di saat tipi masih dimonopoli oleh TVRI, yang tayangannya sudah dikontrol oleh sang rejim. Jadi dijamin bebas racun. Teknologi VCD ataupun DVD masih belum ada. Yang ada barulah video VHS yang hanya dimiliki oleh warga yang sugehnya sudah mblegedhu. Tapi di suasana yang demikian itu sudah lahir profil macem Nanto Bendhot yang kehidupannya amburadul. Keluarga si Bendhot juga bukanlah keluarga yang broken home. Bapak ibunya utuh dan harmonis. 

Kondisi sudah berubah. Tipi sudah dipenuhi puluhan stasiun tipi swasta. Tayangannya tak berating kalau tak kontroversial. Masyarakat penontonnya adalah masyarakat yang menyukai kerusakan. Tayangan yang membangun jarang dapat rating. Produser paham, sehingga penonton dipuaskan dengan ratusan tayangan sampah karena konsumennya memang berselera sampah. Anak-anak seusia Nanto Bendhot saat SD dewasa ini, sudah disuguhi sampah tiap hari. VCD, DVD, HP multimedia dan segala macam teknologi mutakhir tak komplit kalau tak dijejali dengan sampah untuk memenuhi hasrat keingintahuan anak yang baru setengah mateng. 

Masyarakat terhenyak saat ada profil model Ryan sang Penjagal tiba-tiba muncul. Padahal boleh jadi profil serupa sedang bertebaran dengan jumlah yang menggila. Menyusul adanya genk motor yang koclok, lalu genk Nero yang mblero. Terakhir yang membuat masyarakat juga kaget adalah adanya seorang anak yang menghamili ibunya sendiri atas dasar suka sama suka. Saat simbah kuliah dulu sudah ada anak SMP yang mbacok ibunya karena dilarang pacaran. 

Teori kedokteran maupun sosial menyatakan bahwa selain genetis perilaku seseorang 60% nya dipengaruhi lingkungan. Masyarakat kita dengan secara gotong royong beramai-ramai mencetak pribadi-pribadi jagal, yang lantas dikagetinya sendiri saat sang jagal beraksi. Beramai-ramai menyantap sampah dan menimbunnya sampai menggunung, namun merasa terganggu saat sang sampah menebar bau dan penyakit. Seringkali masyarakat mencetak monster tanpa disadarinya. Baru tersadar saat sang monster mulai menelan korban. Begitupun masyarakat tak mau disalahkan. 

Kita hidup di tengah masyarakat yang sedang sakit. Dan salah satu penyulit sembuhnya penyakit adalah manakala sang pasien merasa dirinya sehat dan tidak butuh terapi. Semoga tidak berkelanjutan menjadi penyakit yang kronis. Karena sepuluh hari lagi ada bulan terapi, yakni bulan Ramadhan. Selamat berobat, dan  selamat mertobat.
LihatTutupKomentar