Biji Buah Godril Dari Pohon Trembesi

Biji Buah Godril Dari Pohon Trembesi

Sudah sekian lama ini simbah gak lagi jumpa dengan jenis makhluk benda padat yang bernama Godril. Mungkin sudah puluhan tahun lebih lamanya. Godril itu apa sih?? Ada mungkin sebagain orang yang tidak tau. Godril itu bukan jenis makhluk asing, bukan makanan beracun, bukan pula minuman. Godril juga bukan produk ataupun merek susu bantal (Real Good) yang dibaca orang arab dari kanan. Godril adalah biji buah dari Pohon Trembesi/Munggur. Orang lain juga sering menyebutnya buah godril (Woh Munggur). Begitulah kita sebagai wong Jowo menamai pohon godril yang besar berbuah hitam panjang, lengket, berbiji kecil dan keras itu. Buah trembesi yakni biji godril, sudah sejak lama di kenal sebagai camilan tradisional dan di konsumsi oleh orang jawa. Contohnya simbah. Adapun manfaat biji trembesi yakni dapat melancarkan buang angin/kentut.

Pohon Trembesi
Karena buah godril itu adanya cuma musiman, keberadaan biji godril sekarang ini tergeser dengan adanya snack-snack yang lebih ramah gigi dan ramah bau. Ditambah lagi, pohon trembesi/munggur yang saat ini sudah langka dan jarang ditemui. Adapun yang menjual bibit pohon godril, namun harus menanam pohon itu dulu, dan harus menunggu lama agar berbuah. Maka dari itu generasi anak-anak simbah sekarang, sudah tidak tahu apa buah trembesi itu, apa biji buah pohon trembesi itu, dan babar pisan tidak paham dengan apa yang dimaksud Godril. Mungkin sampeyan juga sudah tidak kenal dengan satu nyamikan tradisional ini. Dulu sewaktu simbah masih kecil, yang namanya biji trembesi atau yang di sebut buah godril adalah snack atau camilan yang jan-jane sangat tidak mitayantapi, cukup untuk menggoda selera. 

Proses mengolah biji godril dari mentah menjadi siap santap sangatlah tidak mudah, di butuhkan teknik dan tenaga yang sangat menguras energi. Berikut Cara menggoreng biji trembesi yakni, pertama biji godril di kupas (dionceki) dari buahnya yang panjang item dan lengket. Bau getahnya sih sedep, tapi tidak seperti bijinya. Karena getahnya lengket, biji godril yang cuma sebesar gotri motor itu lalu dijemur sampai kering. Setelah kering, baru biji buah godril siap di olah atau digongso. Kata teman simbah yang ahli bahasa Indonesia, digongso itu adalah disangrai.. hah... mbuhlah... Yang jelas digoreng tapi tidak memakai minyak.
 

Pohon Trembesi

Saat biji buah godril itu digongso, ada yang meledak atau pecah. Jadi kalo nggongsonya tidak ati-ati, isi dapur bisa bertabur biji-biji godril yang pada mencelat, selain dapurmu juga bisa kecipratan biji buah godril itu. Wis, pokoke rekoso tenan ngolah buah godril itu. 

Tingkat kerekosoannya juga meningkat saat sudah mateng. Kalo mau makan sebiji godril yang hanya sebesar gotri saja, butuh mujahadah yang besar. Karena kulitnya item, keras dan susah dibuka. Energi yang didapat setelah makan biji buah godril, seringkali malah gak imbang daripada energi yang dikeluarkan. Defisit akut. 


Yang paling njelehi adalah efek sampingnya. Bau kentut godril yang benar-benar khas. Brang-breng nyaingi jumbleng. Sampai konco-konco simbah hafal betul, begitu aroma tercium langsung disambut dengan makian (misuh-misuh) “Wooaass, lhadalah, entut godril tenan iki….” Ya, betul… baunya setara dengan kentut jengkol sekilo atau kentut pete rong kuintal. Yang tidak tahan bisa-bisa mukok ngenggon. Perkumpulan anak-anak yang asik main jemeh pun bisa bubar byur sambil misuh-misuh kalo satu membernya ngentut godril. 


Begitulah siklus konsumsi biji buah godril ala simbah. Susah-susah didapat, diolah, dikonsumsi, namun efeknya sampingnya malah tidak mitayani. Biji buah godril juga adalah gambaran kompetisi kehidupan di dunia. Orang susah payah ngumpulin harta. Endhas buat ceker, ceker buat endhas. Karena ngumpulin harta benda dunia, semua bisa kewalik-walik. Haram menjadi halal, halal menjadi haram. Yang haram saja susah didapat, apalagi yang halal, begitulah kata wongalim. 


Begitu sudah didapat, orang jadi bingung membelanjakan. Mendapat harta sedikit merasa kurang, mempunyai harta banyak tidak cukup. Padahal semuanya yang didapat tersebut tidak ada yang abadi. Pasti semua akan berakhir jadi rongsokan. Seperti HP mewah tahun 90 an, adalah HP bahan tertawaan saat sekarang. Cocoknya buat nyambit maling katanya. Meskipun nanti ada juga barang yang mahal karena antik, namun mahalnya barang antik itu setelah yang punya barang diurug tanah, alias dut van modiyar. Itu berlaku bagi semuanya. Rumah, mobil, barang mewah, apalagi cuma camilan dari biji buah trembesi alias godril. 


Konon ada juga yang mengecualikan, yakni permata alias diamond. Diamonds are forever, katanya. Betul, diamond adalah selamanya permata. Nilainya tetap. Tapi yang punya permata bisa bernasib sebaliknya. Ada yang mati karena dirampok permatanya, ada yang terbantai karena permata yang dimilikinya. Bahkan ada satu negeri yang langgeng berperang sampai ancur-ancuran karena supply energi perang dari permata. Pilemnya dibintangi Leonardo di Caprio….. katanya (wong ya gak nonton pilemnya). 


Adapun Godril adalah ayat kauniyah. Yang mau mbuka ayat Qouliyah, bukalah Al Qur’an Surat Al Hadiid ayat 20. 

Maturnuwun salam godril dari simbah...
LihatTutupKomentar