Kisah Seorang Anak Yatim

Kisah Seorang Anak Yatim

Beberapa hari yang lalu simbah mengajak anak-anak jalan-jalan sambil jajan makanan kecil buat si thole dan si gendhuk. Saat itu anak-anak minta dibelikan es krim. Dan kalau melihat mereka betapa lahapnya anak-anak simbah makan es krim. Simbah jadi ingat kisah seorang anak yatim, yang dia adalah teman masa kecil simbah bernama gudel. Dimana hanya untuk bisa menikmati yang namanya es krim itu harus dibutuhkan satu mujahadah kelas wahid.

Gudel seorang anak yang terlahir dari satu keluarga yang kisah hidupnya memilukan. Ibunya telah tiada saat melahirkan dirinya, dan Bapaknya adalah teman dekat dari orang tua simbah. Rajin sholat ke mesjid, tapi naas matinya sangat menyedihkan, yakni bunuh diri dengan menggantung diri setelah tamat meminjam dan membaca buku yang berjudul “Hidup Sesudah Mati” karya Bey Arifin (kalau gak salah) dari orang tua simbah. Aneh memang, padahal all kisah buku itu isinya bagus. Tapi kok bisa-bisanya menginspirasi bapaknya Gudel buat gantung diri. Atau mungkin beliaunya mau membuktikan isi buku itu. Tapi apapun alasannya, yang jelas si Gudel jadi seorang anak yatim piatu.

Kehidupan si Gudel jadi tidak mudah. Di kalangan anak-anak kecil seusia simbah dia dijuluki “tukang gresek”. Gresek, dengan hurup ‘e’ dibaca seperti kata ‘pesek’, adalah satu perilaku yang dianggap ngisin-isini bin memalukan. Kata itu mengandung maksud memungut sesuatu yang sudah dibuang orang, kalau sekarang mungkin termasyhur dengan sebutan “Pemulung”.

Suatu ketika, simbah dan Gudel menyaksikan seorang anak dan beberapa teman-temannya sedang makan es mambo. Karena sama-sama gak gableg duit, cukuplah kita berdua menyaksikan acara makan es itu dengan seksama. Simbah lihat si Gudel sudah mulai terbit air liurnya, mlongo saat menyaksikan pesta es itu dengan terngowoh-ngowoh. Begitu selesai makan es mambo, anak-anak itu segera membuang bungkus es tersebut. Karena melihat si Gudel, anak-anak itu menginjak-injak bungkus es itu dengan kasarnya, sambil berkata:

“eh, ayo-ayo diinjak-injak sampai ancur. Entar digresek sama Gudel lho!!”

Ajakan anak itu disambut dengan antusias oleh teman-temannya. Herannya, setelah bungkus es itu dinjak-injak sampai kotor dan ditinggal oleh pemiliknya, si Gudel tetap saja mendatangi plastik es yang sudah gak mbejaji wujudnya itu dan mulai menyortir. Setelah dijumpainya ada beberapa bungkus masih agak wangun buat dikonsumsi, mulailah aksi penggresekan dilakukan.

“Weh, enak banget kang es yang ini. Bener-bener mantaph tenan...”

katanya dengan mata mlorok berbinar-binar sambil nyesep-nyesep plastik es mambo itu dengan penuh daya eksplorasi. Hwarakadah…melihat wajahnya yang menyiratkan ekspresi kenikmatan kayak begitu, terus terang simbah nafsu dan simbah agak terangsang juga pingin mencicipi hidangan gresek ala si Gudel itu. Tapi begitu teringat bahwa es itu sudah dinjak-injak sama teman si Koplo yang kakinya korengan dan si Kenyung yang sering nginjak telek lencung itu, hilanglah selera simbah.

Pernah suatu ketika, si Gudel ini melihat satu potongan roti yang masih lumayan utuh. Kebetulan dia berjalan bersama teman sejawat sesama anak penggresek. Karena teman sejawatnya gak lihat, dia injek dulu roti itu, lalu dia berdiri tak bergerak. teman sejawatnya heran, kok si Gudel tiba-tiba diem mematung. Karena jengkel ditinggallah si gudel. Begitu teman sejawatnya nggeblas ngilang, diambilnya lah roti itu dari bawah tapak kakinya sambil cengar-cengir penuh kemenangan. “ini belum lima menit” mungkin begitu pikirnya, sambil menyantap roti itu dengan mantabhnya.

Yah, itulah gambaran sepotong keceriaan getir ala kisah seorang anak yatim. Seorang anak kere bin dhuafa. Salah seorang teman simbah juga pernah melihat di stasiun Jogjakarta, seorang ibu beserta anak perempuannya yang masih berumur sekitar 10 tahun, asyik ngemis dari gerbong ke gerbong. Kebetulan saat itu sang ibu ketiban rejeki nomplok yang tak terduga, yakni nemu sepotong tegesan bin puntung rokok yang mingsih lumayan panjang. Yah setara dengan sepuluh sledupan wal sedotan lah. Diisepnyalah tegesan itu dengan penuh citarasa. Yang mbikin hati agak miris adalah manakala sang ibu berbagi puntung tegesan itu dengan anak perempuannya yang masih kecil itu. Secara bergantian si ibu dan si anak sledap-sledup ngisep rokok tegesan itu dengan penuh keceriaan dan canda tawa.

Di masa kuliah dulu, simbah sering wira-wiri lewat di satu kontrakan masal yang dinamai Pondok Boro. Penghuninya kebanyakan keluarga kere, kaum mlarat dan juga beberapa waria. Saat itu simbah melihat langsung ada seorang bapak bertubuh gothot, sedang menggendong anaknya yang masih berumur setahun lebih. Dilihat dari perawakannya, propesi si bapak ini pantasnya pekerja keras. Kalau nggak kuli angkut, tukang becak, atau minimal tukang kepruk. Herannya si bapak ini mau momong anaknya yang saat itu nangis rewel mencari ibunya. Mungkin ibunya sedang kerja di pabrik, atau sedang ada kesibukan darurat lainnya, yang memaksa si bapak bertubuh gothot ini mau momong anaknya.

Yang mbikin simbah tersenyum kecut adalah, saat si anak gak mau diem dan nangis terus mencari ibunya, si bapak mulai jengkel. Lalu dengan tinju terkepal diancamlah si anaknya yang masih kecil itu dengan kepalan tinjunya sambil berkata…

“Hayo, nangis lagi.. ayo cepet nangis lagi… jotos sisan kamu!!”

Hati ini jadi mak tratap. Ancaman si bapak itu diulang-ulang dan herannya teman bapak-bapak yang lain disitu malah ketawa ngakak melihat ulah si bapak. Si anak jadi ciut juga, lalu tangisnya ditelen sampai membik-membik mau tersedak.

Keluarga-keluarga kere wal mlarat yang simbah ceritakan ini benar-benar ada. Bukan kisah cerita di sinetron. Kejadian itu telah ada bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum bengsin menjadi sembilan ribu ripis seperti sekarang. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Teman simbah si gudel seorang anak yatim itu seingat simbah sudah mati muda. Simbah lupa kejadian kematiannya. Anak perempuan yang berbagi tegesan itu sekarang kalau masih hidup, pastilah sudah dewasa. dan anak bayi yang diancam jotos oleh bapaknya itu, simbah yakin sudah seusia Sherina, dengan nasib yang tentu saja tak seberuntung artis muda itu.

Dengan kondisi perekonomian yang carut marut seperti ini, simbah yakin keluarga ala Gudel itu makin banyak. Walaupun ada juga yang bilang, dengan bengsin seharga sekarang ini, jumlah rakyat miskin jadi berkurang. Entah statistik dari mana yang mengatakan ini. Asumsi ini masuk akal, jika yang dimaksud kemiskinan berkurang itu adalah dikarenakan rakyat miskin wal mlarat itu pada modiyar semua karena gak kuat melanjutkan hidup.

Kita terbiasa hidup di komunitas yang berkecukupan. Tetangga kiri kanan semuanya keluarga mampu. Teman kantor, teman kerja, semuanya warga borju. Sehingga dianggapnya, yang namanya kemiskinan itu cuma rekayasa, tidak benar-benar ada. Kalaupun ada itu masa lalu.

Ada sebagian dari kita yang tahu, bahwa kemiskinan itu ada. Tapi sayangnya kemiskinan itu lantas hanya dijadikan komoditi. Kemiskinan adalah modal buat menarik simpati untuk mencari suara. Masing-masing bendera menyuarakan ingin membela rakyat kecil. Biasalah, gabrulan lima tahunan. Dibela setahun, diinjek empat tahun. Rakyat miskin makin terinferior. Makin kere, tidak hanya lahiriah tapi juga mental. Makin nggedibal pitulikur.

Simbah hanya bisa berdoa dan berusaha semampu simbah, agar semua teman-teman simbah tidak ikut tenggelam di kapal yang dibocori rame-rame ini. Sambil berharap, ada yang mau menambal kebocoran itu dan menyadarkan para pembocor kapal itu akan kebodohan tindakannya.
LihatTutupKomentar