Lokalisasi Judi dan Prostitusi

Lokalisasi Judi dan Prostitusi

Sewaktu simbah masih kecil, suasana kampung simbah adalah kampung yang sangat permisif terhadap yang namanya judi atau perjudian. Seluruh aparat dari sejak perangkat ketua RT, RW sampai kepada pangkat kanjeng Lurah, semuanya adalah anggota perkumpulan yang biasa disebut sebagai PKK, alias Paguyuban Keplek Kasut. Keplek adalah istilah buat cara mbanting kartu jembrek, sedangkan istilah Kasut dipakai untuk cara mengocok kartu domino wal jembrek tersebut.

Setiap kali ada hajatan, baik itu hajatan sepasaran bayek, yakni perayaan kelahiran bayi, maupun acara mantu alias pernikahan, pada malam harinya digelarlah acara Perkeplekan dan Perkasutan dengan gegap gempita. Dalam radius tiga rumah ke depan, belakang dan ke samping dari rumah si sohibul hajat, semuanya dipinjam dan disandera menjadi kasino-kasino tiban

Bukan hanya itu, acara tahlilan ataupun acara nunggu jenazah dikuburkan pun tak lepas dari peran serta para member PKK yang dengan setianya menunggu acara baca doa hewes-hewes bubar, lalu ajang tahlilan pun segera berubah menjadi ajang pesta judi yang meriah. Komplit sudah, aroma surga dan neraka seakan menjadi bertetangga dekat.

Demam judi tak hanya menyentuh kalangan dewasa wal tuwekan, kalangan bocah cilik-cilik pun mulai disusupi kebiasaan judi ini. Sewaktu simbah masih sekolah SD, ada yang namanya judi “Tubrukan”. Pada judi jenis ini si anak disuruh membayar sejumlah uang pada abang penjual mainan, lalu disiapkanlah sekantong kelereng yang diisi kelereng bin gundu beraneka macam warna. Jika berhasil “nubruk” dan menangkap kelereng dalam kantong dengan warna tertentu, si anak berhak atas hadiah yang dianggap sangat menarik waktu itu. 

Saat inipun, banyak dijual dagangan anak-anak beraroma judi. Yakni berupa permen yang diberi lotere bernomor tertentu, yang jika nomornya sesuai si anak bisa mendapatkan hadiah besar yang disediakan. Atau kado-kadoan yang harganya seribu ripis, tapi si anak tak pernah tahu apa isi kado yang dibelinya. Jika beruntung bisa berisi arloji seharga puluhan rebu, tapi jika sial si anak hanya akan mendapat beberapa butir permen ndog cecak.

Sewaktu simbah remaja, sebagaimana lazimnya pemuda desa, simbah tergabung dalam perkumpulan “sinoman”. Perkumpulan ini tak ada hubungannya dengan “Hanoman” alias munyuk putih itu. Sinoman adalah perkumpulan anak muda yang bertugas ngladeni atawa melayani menyuguhkan makanan dan minuman di dalam acara satu hajatan. Salah satu tugasnya adalah ngladeni para Gods of Gambler yang sedang asyik mbanting kertu ciwir dan dimpil dengan riuhnya. Tentu saja ini sangat bertentangan dengan hati nurani simbah.

Maka setelah kasak-kusuk dengan sebagian member sinoman, meledaklah satu pemberontakan kecil menolak ngladeni para gambler. Tentu saja simbah lah yang dituding menjadi biang keroknya, yang akhirnya oleh pembina Karang Taruna Pemuda, simbah ditegur dengan mantabhnya. Salah satu hujah yang disampaikan Pembina Karang taruna saat itu adalah :
“Ya kamu sebenarnya bener juga, memang judi itu tindakan yang gak bener. Tapi ya kamu harusnya kudu pinter-pinter bermasyarakat. Ha wong masyarakat kita ini kan punya adat dan kebiasaan… ya kamu kudu membaur dan menghormati kebiasaan masyarakat. Kalau kamu mau diterima masyarakat, kamu kudu pinter bermasyarakat. Memangnya kamu nanti kalo mati mau ngglundung sendiri ke kubur?? Nggak kan? Makanya jangan mbuat kisruh di masyarakat! Ikuti saja kebiasaan masyarakat sini. Kalau gak mau, ya jangan tinggal disini!!”
Itulah hujjah yang disampaikan oleh Pembina Karang Taruna yang katanya berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila, yang digali dari kristalisasi nilai-nilai budaya nenek moyang. Kita dituntut menghormati kebiasaan masyarakat walau kebiasaan itu melanggar hukum dunia wal akherot. Yang penting tak terjadi konflik di masyarakat. Karena semuanya demi maslahat masyarakat yang tak ingin diusik ketenangannya oleh segilintir orang yang ingin mengubah kebiasaan dan adat-istiadat adiluhung yang sudah mengakar dan mengoyot itu.

Mungkin sampeyan bertanya-tanya, mengapa acara judi bin gambling di kampung kami sangatlah dipertahankan eksistensinya. Hal ini temtu saja tak lepas dari manpangat judi beserta paguyuban pengiringnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam setiap perjudian yang terbagi dalam berpuluh-puluh meja, disediakanlah satu piring kosong di tengah meja judi. Jika ada satu member yang menang, dia wajib setor sekian persen hasil sekali putaran menang ke dalam piring itu. Uang “zakat judi” itu disebut “Cuk”

Sehingga dalam semalam, satu piring kosong itu bisa berubah menjadi tumpukan rupiah. Jika sepiring berisi seratus ribu ripis, bayangkan jika perhelatan judi itu disokong oleh puluhan meja. Uang jutaan ripis itulah yang dipakai sohibul hajat untuk membiayai acara hajatannya. Bahkan acara pergamblingan ini pun seringkali diadakan walau tak ada hajatan. Biasanya diadakan acara serupa jika desa hendak membiayai proyek swadaya. Misalkan mau memperbaiki jembatan, jalan atau membiayai acara tujuhbelasan. Simbiosis mutualisma, proyek lancar, nepsu judi tersalurkan.

Dalam dunia modern, judi bisa menjadi industri. Bisnis judi biasanya berjodoh dengan prostitusi. Legalnya judi biasanya menuntut dilegalkannya prostitusi sebagai pemanisnya. Karena barang maksiat hanya akan berjodoh dengan maksiat juga. Gak mungkin sampeyan dapati kotak infak dipasang di satu kasino, atau pelataran mesjid dipakai buat ajang keplek kasut, kecuali jika cita-cita menciptakan masyarakat Bobrok Relijius yang saat ini sedang dicanangkan oleh setan-setan munafik telah terwujud.

Di negeri yang juga sudah setengah bobrok relijius ini, pernah dilegalkan lokalisasi, dan sedang digodok pelegalan lokalisasi judi. Mereka bermaksud agar prostitusi dan judi yang dianggap sampah masyarakat itu tidak berceceran dimana-mana, tapi cukup terkonsentrasi di satu lokasi saja, agar tak mengganggu ketentraman masyarakat. Ide yang kelihatannya cerdas, padahal sangat jahil murokab

Mereka tidak sadar, bahwa boleh jadi mereka bisa melokalisir judi dan prostitusi, tapi yang ditakutkan masyarakat bukan judi atau prostitusinya, tapi akibat dari judi dan prostitusi inilah yang lebih dikhawatirkan. Melokalisir tempat maksiat dan memberi tempat bagi kemaksiatan tak akan bisa melokalisir akibat dari kemaksiatan tersebut

Mungkin kang Wiryo Dimpil judinya di lokalisasi judi. Namun begitu bangkrut kukut kalah judi, ngrampoknya buat modal judi lagi bukan di lokalisasi itu. Tapi nyolongnya di kantor, di pasar Kliwon, ngutil duit proyek dan lain-lain yang tak satupun makhluk bisa melokalisirnya. Usaha lokalisasi bukanlah solusi, tapi hanya upaya putus asa yang dijalankan oleh orang yang beranggapan bahwa maksiat tak bisa dihapuskan.

Salah seorang konco simbah baru-baru ini nyeletuk, “Sebentar lagi akan ada lokalisasi raksasa, gedhenya sak pulau. Tempatnya di sebelah timur pulau jawa. Bukan lokalisasi judi dan prostitusi, tapi lokalisasi anti UU Pornografi”

Gawat…. Gimana kalau muncul lokalisasi anti UU Terorisme…..?? Atau UU Pilpres..??
LihatTutupKomentar