MBUTGAE BIN MAKARYO

MBUTGAE BIN MAKARYO

“Wah sampeyan penak yo Mbah, kerja cuma tura-turu di rumah nunggu pasien, dibayari sisan. Gak kena macet, gak stress di jalan, bisa ketemu anak isteri tiap hari.. jan huenak naaan” begitulah sebagian sohib simbah ngomentari gawean simbah kesehariannya.

Padahal jika mereka menjalani apa yang simbah jalani, belum tentu kalimat tersebut terucap. Kita lebih sering merasa, apa yang kita kerjakan itu tidak lebih enak, tidak lebih baik, dan tidak lebih menguntungkan daripada apa yang dikerjakan orang lain.

Satu temen simbah selalu mengeluh tiap kali dolan ke rumah simbah. “Wah mbendino muter-muter Jakarta, jadi orang lapangan njelehi tenan. Sehari bisa muter seratus kilo aku kih. Ha yen gini terus, awakku biso momrot tenan ki” demikian keluhnya. Kerjaannya memang jadi tukang tagih di satu penerbitan besar negeri ini. Bawa uang ratusan juta di jalanan tiap hari. Karena sering njelajah Jakarta, maka jadilah dia apal Jakarta sampai sak dalan tikusnya. Jadi peta hidup, ngalahin petanya si Dora.

Maka keluarlah dia dari tempat kerjanya. Nglamar lagi diterima di satu perusahan elektronik. Pekerjaannya disuruh nunggu satu outlet milik perusahaan itu. Magrok disitu seharian penuh. Dia ngeluh lagi, “Ha gawean kok tunggu brok karo nithili borok ngene ki yo iso mati njamur aku mengko” demikian keluhnya.

Itu satu kondisi. Belum lagi jika dikaitkan dengan masalah penghasilan. Kita sering plonga-plongo ngiler lihat konco kita berpenghasilan diatas tujuh digit angka. Ke mana-mana tongkrongannya Mersi sama Polpo. Apesnya BMW lah. Padahal apa yang dia rasakan tidak sebagaimana yang kita bayangkan.

Kita hanya bisa melihat enaknya. Sementara tidak enaknya gak kelihatan. Karena hanya enaknya sajalah yang dipertontonkan sama mereka kepada kita. Kita gak diperlihatkan stressnya mereka mbayar cicilan mobilnya sampe mencicil, gak ngliat repotnya mbayar premi asuransi mobilnya, gak lihat besaran duit yang dikeluarkan untuk maintenace mobilnya, dan masih banyak hal pahit yang gak kita lihat dibalik kinclongnya mobil mewah mereka. Ono rego, ono rupo.

Saat kita melihat konco kita nerima gaji diatas tujuh digit kita hanya melihat besaran gajinya. Gak ngliat stressnya dia dikejar target perusahaannya, gak mikir tuntutan gaya hidupnya yang menuntut cost tinggi, gak pernah terungkap pada kita betapa mereka sebenarnya merindukan gaya hidup nyantai, ngematke urip, slonjor di lincak sambil ngopi, nglinthing mbako semprul buat nginang karo ngilo sambil singsut (weh… po iso yo??). Kita hanya dapat umuk,nya gaji gedhe saja, tanpa mendengar pontang-pantingnya konsekwensi gaji gedhe itu.

Untuk itu mbutgae dan makaryo lah dengan banyak menunduk melihat kondisi sodara kita yang lebih rendah kondisinya. Hidup penuh ketegangan menunggu ganasnya satpol PP dan trantib menertibkan mereka dengan menghancurkan sumber hidup mereka. Kalo banyak ndangak macem bethoro Narodo, kita hanya akan tambah sakit hati menjalani hidup.

Kanjeng Nabi pernah bersabda : “Ketika bertambah besar (tua) anak Adam, bertambah besar juga 2 hal. Yakni Cinta dunia dan panjang angan-angan”

Simbah masih inget lagu berjudul tukang prahu, syairnya begini :

Aku nduwe dolanan sing lucu
Prahu cilik tak kelekne mbanyu
Mbesuk gedhe dadi tukang prahu
Bayarane satus sewidak ewu

Dulu waktu nyanyi lagu ini, mbayangkan 160 ewu itu gedhe. Ha kok sekarang megang 160 ewu sak klemetan wae habis lho. Untungnya waktu nyanyi lagu ini gak ada yang ngamini. Yo wis lah, ndang mbutgae dan makaryo yang bener, jangan korupsi dan jangan lupa disukuri.
LihatTutupKomentar