Menggapai Kemakmuran

Menggapai Kemakmuran

Bagi sampeyan yang pernah tinggal di tlatah Solo dan sekitarnya, dan saat ini setidaknya sudah berusia 45 tahun, tentu ingat dan kudune masih ingat dengan yang namanya Bancakan Weton. Satu ritual yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dengan menyajikan satu nampan nasi tumpeng yang dihiasi sayur gudhangan binti urap plus telor ayam yang ukurannya cukup menggetarkan jiwa. Betapa tidak, bagaimana sampeyan bisa membayangkan sebutir telor ayam yang dibagi dengan bilangan empat kwadrat…?

Dengan menu Bancakan Weton yang sangat sederhana itu, simbah masih inget bagaimana nasi bancakan itu cukup dahsyat menggoncang lidah ndeso kita. Sehingga jika ada panggilan undangan buat menghadiri bancakan weton ini, segera saja semua berandal cilik seumuran simbah waktu itu berlomba berkumpul untuk merubungi nasi tumpeng sederhana itu. Terus terang, yang paling menggoda dari menu bancakan saat itu bukanlah nasi urapnya.

Namun hampir semua anak-anak saat itu sepakat, telor seperempat kwadrat yang mungil itulah yang menjadi daya tarik paling kuat buat menyedot ketertarikan para member bancakan itu. Sehingga seringkali anak-anak saat itu menjadikan telor ayam seperempat kwadrat itu sebagai hidangan penutup, yang akan habis dengan sekali klamutSimbah masih inget si Yadi Lemu dan Surono Nggople yang nangis kenceng karena telor ayam seperempat kwadrat yang sedianya dieman-eman buat “Gong Penutup”, jatuh bersimbah tanah gara-gara sengaja disenggol oleh konconya yang sirik karena telornya lebih dulu disantap sebagai pembuka.

Meskipun hanya bervolume seperempat kwadrat, telor ayam masih merupakan makanan mewah saat itu. Sehingga kalau di satu perhelatan makan-makan dihidangkan telor ayam utuh, maka itu merupakan lambang kemakmuran buat sang tuan rumah. Dan segera akan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat, dengan ragam komentarnya. “Wuedyan tenan, ingone ndog utuh…. sedep tenan, “ kata mbah Sastro sang mata-mata kuliner.

Waktu berlalu. Kasta telor yang tadinya menduduki area ningrat, semakin merosot tergantikan oleh lawuh pauh (lauk pauk) yang bernuansa daging. Tadinya daging merupakan menu sakral, yang hanya bisa dinikmati setahun dua kali, yakni di saat hari raya lebaran dan kurban. Kalaupun ada tambahan selain di 2 waktu itu, biasanya daging ayam tambahan ini berasal dari ayam mbah buyut yang kena ayan, lalu masih sempat disembelih daripada mati mubadzir. Dengan hadirnya kemampuan rakyat yang makin bisa beli daging, Bancakan Weton tidak lagi menjadi acara yang menarik. Walaupun di saat terakhir simbah melihat menu bancakaannya, telor seperempat kwadratnya sudah ditingkatkan volumenya menjadi telor ayam separo. Namun anak-anak mendatangi acara bancakan ini dengan ogah-ogahan.

Dari pengamatan simbah, yang namanya kemakmuran itu seringkali diwujudkan dalam jenis lauk yang dikonsumsinya. Orang mengkonsumsi makanan seringkali hanya untuk menunjukkan derajat kemakmurannya. Ketika melihat orang yang makan dikelilingi lauk serba daging, masyarakat menilainya sebagai orang yang sukses. Awalnya begitu. Sehingga target makan bagi orang sukses adalah bisa makan dengan daging. Namun ketika diketahui bahwa banyak penyakit yang bisa dimunculkan oleh menu yang serba daging, orang-orang mulai kaget. Rupa-rupanya lambang kemakmuran mereka membawa petaka. 

Lambang kemakmuran mereka merupakan sumber penyakit yang menakutkan semisal stroke, hiperkolesterolemia, hypertrigliseridemia, asam urat, jantung koroner dan penyakit mematikan lainnya. Dan makanan ndeso macam gudhangan binti urap, tempe (yang enak dibacem dan perlu), tahu, dan lainya yang tadinya dipandang dengan pandangan rendah, ternyata malah mengandung zat yang bersahabat bagi tubuh sehat. Akhirnya terangkatlah derajatnya, ibarat kere munggah bale. Begitulah, yang namanya kemakmuran, ukurannya selalu berubah.

Pencanangan mewujudkan masyarakat yang Adil dan Makmur sudah ada sejak jaman Majaphit. Lalu digaungkan lagi dijaman orba dengan Program Pelitanya. Tapi bagaimanakah wujud kemakmuran itu dan bagaimana menggapainya, banyak yang kebingungan. Simbah melihatnya seperti kuda yang dipasangi rumput segar di depan matanya, lalu sang kuda mengejar dengan penuh semangat, berlari dengan makin cepat, namun jarak dia dengan rumput itu tak berubah. Sayangnya sang kuda tidak sadar dan menyangka bahwa dia makin dekat dengan rumput segar itu.

Gambaran simbah di atas akan klop dan terjadi pada sampeyan semua, manakala yang namanya kemakmuran itu adalah satu sarana untuk mencukupi kebutuhan hawa napsu. Karena hawa napsu tidak akan pernah cukup dengan yang ada. Diberi satu gunung emas pun akan kepingin punya dua, dan seterusnya. Namun kemakmuran akan gampang terwujud, manakala yang dimaksud adalah memakmurkan hati manusia. Mencukupi kebutuhan hati. Kemakmuran sudah dekat dan bahkan setiap hari terwujud pada mereka yang hatinya qona’ah, merasa cukup dengan apa yang bisa dia raih. 

Merasa cukup bukan berarti tidak punya keinginan lebih. Yang merasa cukup adalah sang hati, tapi manusia dikaruniai nafsu yang akan memacunya untuk memiliki lebih. Nafsu tidak boleh dimatikan. Dialah yang nantinya dengan sendirinya memasukkan rasa kurang pada manusia. Remnya adalah qona’ah. Jika sampeyan bisa menjaga stabilitas pedal rem dan pedal gas nafsu dengan disertai permainan kopling yang cantik, sampeyan bisa melaju di tengah kehidupan dengan harmonis. Itulah kemakmuran yang sesungguhnya.

Tapi kebanyakan manusia lebih suka mewujudkan dan mementingkan kemakmuran dengan simbol-simbol materi. Dengan bentuk rumah, jenis mobil, jenis lauk,stelan jas, jenis stick golf dan lain sebagainya. Manusia yang mementingkan mewujudkan kemakmuran dengan bentuk materi, kebanyakannya adalah manusia yang sedang mengelola kesan makmur. Mereka lebih suka terlihat makmur daripada menjadi makmur itu sendiri. Hal ini bukan berarti tidak boleh memiliki materi. Milikilah materi yang memang sampeyan butuh untuk memilikinya. Tunaikan kewajibannya, lalu berqona’ahlah hati sampeyan. Selamat menggapai kemakmuran...
LihatTutupKomentar