PELAJARAN DARI UHUD

UHUD

Ketika Rasulullah saw mengatur strategi perang Uhud, beliau menempatkan sekitar 50 orang sebagai penjaga barisan belakang yang terdiri dari pasukan pemanah. Beliau berpesan, jangan sekali-kali barisan pemanah tersebut meninggalkan tempat mereka, sebelum ada perintah dari Nabi saw. 

Maka di saat berkecamuk perang dengan dahsyat, pasukan musyrikin dapat dipukul mundur. Sebagian pasukan muslimin sudah mulai mengambil rampasan perang (ghanimah). Harta rampasan sedemikan banyaknya, sehingga hal tersebut mulai menarik perhatian barisan pertahanan belakang yang menyaksikan perebutan ghanimah itu. Disinilah awal bencana dimulai. Sebagian besar anggota barisan pemanah tersebut mulai tergoda ingin ikut larut dalam perebutan ghanimah. Maka mereka mengambil keputusan untuk bergabung dan mengumpulkan ghanimah bersama pasukan garda depan. 

Hal tersebut dicegah oleh pimpinan pasukan barisan belakang. Namun cegahan tersebut dibantah dengan alasan bahwa saat itu mereka sudah menang. Maka setidaknya menurut mereka, pesan Rasulullah saw sudah tidak relevan di saat itu. Karena pesan Rasulullah saw ditujukan ketika masih berlangsungnya perang, bukan di saat sudah menang perang. Sehingga pasukan barisan belakang bubar, hanya tinggal 10 orang pemanah saja yang tetap berpegang kepada pesan Rasulullah saw agar tidak meninggalkan barisan. 

Hal ini dilihat Khalid bin Walid, yang saat itu menjadi salah satu panglima perang pasukan musyrikin. Barisan belakang yang lemah dihancurkannya. Lantas dihancurkan jugalah pasukan muslimin yang saat itu sedang merayakan kemenangan. Muslimin kocar-kacir atas serangan dadakan ini. Banyak shahabat Nabi saw yang syahid. Nabi saw sendiri dikabarkan gugur dimedan perang. Namun ternyata tidak. Beliau mendapat luka yang sangat parah. Abu Bakar, Umar, Utsman dan shahabat-shahabat  r.anhum juga menderita luka yang tak kalah parah. 

Dari kejadian perang Uhud ini kita mendapat pelajaran berharga. Pelanggaran dan pengabaian terhadap satu perintah Nabi saw akan membawa kehancuran. Di saat shahabat nabi mengabaikan satu sabda nabi dengan mengatakan bahwa perintah itu dianggap sudah ‘tidak relevan’ lagi, maka kemenangan di depan mata berubah menjadi kehancuran yang menyedihkan. Tidak peduli disitu ada Nabi saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali ataupun sahabat pilihan yang lainnya, Allah ubah keadaan yang diambang kejayaan menjadi keterpurukan. 

Di zaman modern ini, semakin banyak orang yang mengatakan bahwa sabda Rasulullah saw ‘tidak relevan’ lagi dengan kondisi zaman. Sabda Nabi dianggap kuno. Bahkan jangankan sabda Nabi saw, firman Allah pun digugat, dianggap tidak lagi pas untuk diterapkan di zaman ini. Dianggap mendatangkan kesengsaraan dan membuat hidup susah dan sempit. 

Jika di saat perang Uhud yang disitu masih ada Nabi saw dan orang-orang top di kalangan shahabat Nabi saja mereka mengalami kekalahan dan keterpurukan, maka bagaimana pula dengan kondisi muslimin di zaman ini ?? Padahal apa yang terucap, tertulis dan terlontar dari omongan, tulisan dan opini muslimin saat ini, lebih keji dari apa yang diucapkan dan dilakukan oleh shahabat Nabi di saat perang Uhud tersebut. 

Semoga Allah masih mau berbelas kasih pada kita.
LihatTutupKomentar