PLESETAN, WARISAN SIAPA?

PLESETAN WARISAN SIAPA

Plesetan, siapapun kenal dan sudah pasti tahu tentangnya. Tidak perlu diterangkan secara detail dan lebih rinci. Plesetan sudah menjadi trend di negeri ini. Bahkan menjadi penghibur atau hiburan segar bagi siapapun orang yang mendengar dan menyaksikannya. Kemudian muncullah kontes acara-acara berbau plesetan menyemarakkan layar hiburan. 

Dimulai dari ketoprak dagelan yang acaranya menganut pakem tertentu, dirombak sedemikian rupa hingga keluar pakem dan diplesetkan. Lalu wayang pun tak luput dari plesetan. Sampai yang melampaui batas adalah plesetan kalimat thoyyibah yang menuai kecaman sekaligus dukungan. Kecaman dari yang paham dan menghargai kalimat thoyibah tersebut, dan dukungan dari pihak yang memang tidak memiliki ilmu di bidang tersebut. 

Sebenarnya siapakah pelopor perilaku plesetan tersebut? Secara umum memang tidak ada catatan sejarah yang menerangkan secara detil. Namun sedikit akan kita ulas hal ini berdasar informasi dari Allah swt di dalam Kitabullah. Tentunya informasi itu pasti benar adanya. 

Pertama adalah di surat Al Baqoroh ayat 104 : 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): Raa’ina”, tetapi Katakanlah: Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. 

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa para sahabat dahulu manakala ada keperluan dengan Rasulullah saw mengucapkan kata-kata ini. Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala Para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina Padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah swt menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar Perkataan Raa’ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa’ina

Di ayat yang lain yakni surat An Nisa ayat 46 disebutkan : 
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah Perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi Kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. 

Di antara plesetan yang mereka lakukan adalah mengucapkan salam dengan plesetan, yakni “Assaamu ‘alaikum”As saam artinya maut atau kematian. Maka ucapan itu sebenarnya mendo’akan kejelekan kepada yang disalami. Maka syariat jika seorang muslim disalami non muslim jawabnya adalah “Wa’alaikum”

Di bagian surat yang lain dari surat Al Baqoroh tepatnya ayat 58 dan 59 :
Dan ketika kami katakan : Masuklah negeri ini, maka makanlah oleh kalian dari arah yang kalian suka dengan puas. Dan masukilah pintunya dengan bersujud, dan katakanlah hiththotun” (berilah ampun dosa kami). Kami akan mengampuni dosa kalian. Dan akan kami tambah buat orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang dzalim menggantinya dengan perkataan selain yang seharusnya dikatakan. Maka kami turunkan kepada orang yang dzalim itu siksaan dari langit dengan sebab mereka berbuat fasik. 

Ucapan yang seharusnya diucapkan adalah hiththotun, yang bermakna berilah kami ampunan. Namun diganti dengan kata-kata hinthotun yang maknanya berilah kami biji gandum. Sedangkan cara masuk yang seharusnya bersujud dalam artian menundukkan kepala tanda hormat, diubah menjadi berjalan ngesot. Maka tak ada satupun perintah Allah yang dijalankan kaum Bani Israil alias kaum Yahudi itu dengan benar. Semuanya diplesetkan dan dibuat main-main. 

Demikianlah yang diterangkan di dalam tafsir Ibnu Katsir juga tafsir-tafsir yang lainnya perihal plesetan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Tentu saja masih banyak riwayat hadits yang menunjukkan perilaku plesetan jahat mereka. Yang kesemuanya berdasarkan riwayat yang shahih. 

Merujuk kepada surat Al Baqoroh ayat 104 di atas, Allah melarang orang-orang beriman meniru kelakuan orang yahudi, yakni melakukan panggilan kepada Nabi saw dengan ucapan yang sama dengan yang dilakukan oleh mereka. Imam Ibnu Katsir membawakan hadits yang shahih riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud bahwa : 
Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam golongan kaum itu. 

Ini ditunjukkan dengan dilarangnya orang beriman meniru ucapan yang dilakukan orang-orang yahudi tersebut. 

Maka sudah sepantasnya, perilaku plesetan terutama memlesetkan ayat-ayat Allah dan juga Sabda Rasulullah yang diubah maknanya menjadi bahan ejekan, haruslah ditinggalkan. Ditambah lagi, terbukti bahwa plesetan ini menjadi kebiasaan kaum yang dilaknat Allah, yakni Yahudi, dan Nabi saw senantiasa berpesan agar menyelisihi perilaku orang yahudi dengan sabdanya :“Khooliful yahuud” (selisihilah orang Yahudi) maka tidak ada alasan lagi bagi orang beriman untuk tidak meninggalkan  kebiasaan plesetan tersebut, terutama yang terkait dengan plesetan firman Allah maupun Sabda Nabi-Nya. 

Sayangnya plesetan telah menjadi budaya. Semua hal diplesetkan. Bahkan orang ataupun tokoh pun jadi bahan plesetan. Tentu saja lucu. Apalagi plesetannya dianggap “cerdas” dan mirip dengan aslinya. Semakin mirip aslinya semakin baik katanya. 

Sabda Nabi saw : 
Sungguh kalian akan mengikuti jalannya umat sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) 
(Hadits Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Tirmidzi, dan ini lafadz dari Imam Tirmidzi, dia berkata : Hadits hasan shahih)
LihatTutupKomentar