UDUD alias SES alias MEROKOK

UDUD alias SES alias MEROKOK

Saat simbah masih co-ass, ada satu dokter ahli forensik yang lumayan gayeng kasih kuliah. Salah satu yang beliau wejang adalah perihal udud alias ses alias merokok. Merokok yang keliatannya sledhap-sledhup mantheb itu, miturut beliau mengandung tiga manpangat pokok yang banyak orang gak tahu. Apa sajakah manpangat itu?

  1. Penikmatnya gak bisa tua.
  2. Perokok berat bisa mengusir maling, sehingga rumahnya aman dari pencuri yang mau nyolong.
  3. Para perokok selalu aman dari kejaran anjing.

Lho, kok bisa begitu? Bagaimana jlentrehannya? Masuk akal nggak sih? Dosen simbah menjelaskan sebagai berikut :

  1. Penikmatnya gak bisa tua. Lha genah, soalnya mati muda, kena kanker paru sama emphisema.
  2. Rumahnya aman dari maling. Karena si penghuni rumah watuk mengguk, bathuk kemekelen, njegog semalam suntuk, sehingga rombongan maling yang mau ngrampok putus asa nunggu yang empunya rumah tidur.
  3. Aman dari kejaran anjing. Karena saat perokok dikejar anjing napasnya pendek. Akhirnya ngos-ngosan sampe jongkok-jongkok. Karena jongkok, si anjing mengira si perokok ngambil batu. Anjingnya langsung ngibrit.

Halah tiwas serius menthelengi penjelasane…
Tapi mbahas barang yang namanya udud ini selalu mengundang pro dan kontra. Pihak yang pro mengatakan, bukankah dengan industri rokok itu akan membuka lapangan kerja yang luas. Bisa kasih makan karyawan pabriknya. Lha kalo rokok dilarang, mereka bisa nganggur, dan gak bisa makan.

Yang kontra mengatakan, itu hanya alasan klise dan kuno. Karyawan pabrik cuma tameng saja. Bos pabrik udud itu sebenarnya bisa mbeli peralatan pelinting udud yang canggih yang daya kerjanya tiga kali lipat dibanding tenaga manusia. Jadi kalopun sekarang masih pakai tenaga manusia, itu semata-mata dikarenakan agar bisa dijadikan tameng melestarikan industri udud mereka.

Di level pakar kesehatan pun terjadi pro kontra. Kalo secara teoritis sebenarnya ahli kesehatan itu sepakat tentang kerugian merokok. Yang gak sepakat dan terjadi pro kontra itu adalah di level praktek. Meskipun wujudnya adalah pakar kesehatan dan paham bahaya rokok, namun tidak sedikit dokter, bahkan dokter ahli yang tetep nekat klepas-klepus dan sledap-sledup nyedot partikel halus yang bernama asap nikotin ke dalam paru-parunya. Padahal yang mewanti-wanti bahaya rokok yang ditulis di label depan rokok itu ya si pakar kesehatan itu.

Makanya ya tidak heran kalo ada dokter ahli paru, sekarat karena kanker paru akibat efek ududnya yang persis sepur itu, kemelus wal kemeluk terus.

Di level ulama pun terjadi perdebatan masalah udud ini. Udud dihukumi berbeda tergantung siapa kyainya. Kyai yang nyandu udud akan ngoceh panjang lebar tentang dalil, bahwa udud itu manpangati. Mbikin sejahtera umat manusia, kasih makan rakyat kecil, dan mbikin apalan Qur’an dan haditsnya kuat. Bahkan bisa buat cagak lek kalo mau tahajud. Bukti-bukti riset para pakar ahli kesehatan tentang penyakit-penyakit akibat udud dibantah habis-habisan dengan mengajukan dalil, bahwa penyakit itu hanya Allah yang mampu menurunkan... Bukan makhluk. Asalkan tawakal maka beres. Simbah cuma geleng-geleng kepala saja mendengar patwa keblinger macam Ulama ahli hisap ini.

Ulama yang lain lebih ma’qul dan manqul. Mereka menerangkan, bahwa khamer dan judi yang diakui kemanpangatannya sama Al Qur’an saja diharamkan, apalagi udud yang kemadharatan dan kerugiannya sudah disepakati oleh semua kalangan baik yang beriman maupun yang atheis, tentunya tidak pantas disebut sebagai halal. Kalopun tidak haram setidaknya makruh yang mendekati haram.

Setiap batangnya bisa merugikan si penghisap maupun orang yang ada di sekitar penghisap. Kalo satu perokok habis setengah bungkus sehari, misalkan perokok di negeri ini berjumlah 50 juta orang, dan harga rata rata rokok per bungkusnya adalah mangewu ripis… maka dalam sehari duit 125 milyar diobong, dibakar jadi asap nikotin. Kalo begini terus kelakuan umat, ini kan berarti kemubadziran besar. Mubadzir itu dulurnya setan. Lha kalo menjalin paseduluran sama setan apa ya mau ditolong sama Gusti Allah Yang Maha Kuasa terlepas dari keterpurukan bangsa ini…??

Pro kontra selalu ada. Nanti di akherat akan ditunjukkan mana yang benar mana yang salah. Tapi di dunia saja sebenarnya kita dikasih alat untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah, gak harus nunggu sampai akherat.
LihatTutupKomentar