WALIMAHAN

WALIMAHAN

Beberapa hari ini serat ulem atau undangan walimahan datang ndrindil dengan bertubi-tubi. Ada yang bilang karena ini bulan baik. Bulan Dzulhijjah atau disebut juga Bulan Haji yakni bulan orang punya hajat resepsi pernikahan. Yang jelas, miturut pituture embah-embah yang nyusun Primbon, bulan besar ini bulan yang bagus buat ngadain hajatan. Apalagi sebentar lagi mau masup bulan Muharram alias bulan Suro. Miturut embah-embah itu juga, gak ilok ngadain hajatan di bulan Suro. Karena itu bulan wingit, angker, medeni bocah dan nggegirisi. Kalo nekat ngadain hajatan, maka konon pernikahan nya bakal mengalami bala bencana.

Masih berkonotasi konon juga, bulan Suro juga diyakini dikuasai oleh kekuatan danyang Nyi Roro Kidul. Bulan itu Nyi Roro Kidul mantu. Lhadalah…. embuh. Maka sebulan jumbleg gak ada yang berani punya hajat. Mumpung belum bulan Suro, bulan ini panen hajatan. Undangan sak arat-arat. Dan itu berarti pengeluaran, alias ngamplopi.

Bicara tentang amplop, ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prosesi nduwe gawe alias punya hajat. Tadinya sewaktu simbah masih kecil dan sering diajak njagong alias menghadiri hajatan, amplop ini langsung diserahkan kepada sohibul hajat dengan cara diselipkan ke tangannya. Lama-lama hal ini berubah dan berkembang. Sohibul hajat tak menerima langsung si amplop, namun sudah disediakan sebuah kotak semisal kotak amal, yang siap menerima amplop para undangan.

Tadinya pun sebenarnya amplop itu merupakan hadiah. Yang namanya hadiah, maka ya terserah yang ngasih. Wujudnya apa terima jadi saja. Namun rupa-rupanya hal ini sudah bergeser. Di beberapa undangan sang tamu diarahkan oleh pengundang untuk jangan kasih hadiah berupa barang atau kado. Kalo mau kasih ya duit sajalah. Ini bahasa kasarnya. Bahasa alusnya bisa macem-macem dan variatif. Intinya mbok ya kalo mau ngasih, berupa duit saja.

Di kampung-kampung macem di pedalaman Gunung Kidul, Wonogiri atau juga di sebagian ndeso tetangga simbah di kampung, ada istilah arisan buat mengadakan hajatan. Si sohibul hajat mencatat semua hadiah atau istilahnya sumbangan yang masuk ke rumahnya. Ada Gula, teh, beras, kecap, garem, bumbon, yang jelas tidak hanya duit.

Hebatnya, sistem rekordingnya mantabh betul. Kalo Lik Sastro Nggople dulu nyumbang molas ewu ripis, maka entar kalo punya hajatan akan dibales disumbang molasewu ripis juga. Gak kurang tapi boleh lebih. Kalo kurang, maka akan dicacat dan dicocot kesana kemari. Sehingga masalah sumbang menyumbang, amplop mengamplop ini ada semacam pressure tertentu. Jangan tanya masalah keikhlasannya. Dalam hal ini pergeseran nilai sudah makin gak rasional.

Di Jakarta ini, ada tetangga simbah yang mau mbikin hajatan saja harus nyekolahkan sertipikat tanah rumahnya ke bank. Langkah yang cukup berani, tapi mengapa seberani itu? Apakah bisa njamin punya duit buat mbalikin utangnya untuk nebus sertipikat tanah rumahnya? Tentu saja ini bisa terjadi manakala yang namanya hajatan bin walimahan itu dijadikan semacam ajang tanam modal, untuk menarik investasinya yang sudah ditanam di sekian banyak hajatan yang sudah dihadirinya.

Begitu selesai hajatan, itung-itunganpun dilaksanakan. Kalo untung ya seneng, kalo buntung ya gulung koming. Maka sebisa mungkin hajatan harus berhasil. Harus ngundang sebanyak mungkin tamu. Kenal gak kenal pokoknya undang saja. Hadiah jangan kado, tapi duit. Jangan ngadain pas banyak hujan, kalo pas musim hujan harus punya pawang penangkal hujan. Celana dalam penganten perempuan pun dilempar ke atap buat nolak hujan, ini atas instruksi sohibul Primbon. Wis…. pokoke kudu hasil. PT. Hajatan incorporation harus untung. Soalnya sertpikat tanah rumah jadi taruhan.

Tentu saja gak semua begitu. Banyak konco-konco simbah yang walimahan gak nerima amplop ataupun sumbangan. Diberi ya diterima, gak diberi pun gak mengharap… apalagi dendam. Sederhana saja. Gak cari untung atau buntung. Ha wong walimahan diadakan kan buat merayakan suatu peristiwa penting. Itu ajang amal, ajang silaturahim, ajang menjalin ukhuwah. Memang bisa dibisniskan. Tapi mbok ya jangan tho… eman-eman…
LihatTutupKomentar