Destructive Food

Destructive Food

Destructive Food - Simbah gak akan bercerita tentang makanan berpormalin di postingan ini. Sudah banyak situs yang ngonceki hingga mblejeti perihal pormalin ini sampai entek amek kurang golek. Tapi simbah hanya pingin menceritakan perihal pengalaman simbah yang bertemu dengan seorang mantan akuntan yang mertobat dan ketemu jalan rejekinya. 

Adalah sohib simbah ini adalah anak seorang akuntan yang diarahkan orang tuanya berpropesi seperti bapaknya. Dan memang akhirnya jadi juga dia seorang akuntan sukses. Hidup berlebih dan dikaruniai keluarga yang miturut kacamata kasat mata pokoke keluarga bahagia sejahtera.

Satu hal yang dia gak kuat, yakni menipu diri. Tempat kerjanya menuntut agar dia melakukan kebohongan dengan membuat laporan dobel. Yang satu jujur, namun karena jujur bikin ajur maka dikubur. Sedangkan laporan satunya abal-abal, namun karena yang abal-abal ini digemari dan nyenengkeh, maka laporan abal-abal inilah yang diobral.

Makin hari si sohib ini makin gak kuat. Lha tiap nerima gaji dia ketar-ketir perihal kalal dan karomnya. Dia melihat anaknya disuapi isterinya dengan pandangan ngeri. Seakan melihat isterinya nyuapi bara api ke mulut anaknya. Walhasil, dia bertekad keluar dari pekerjaannya. 

Bapaknya murka besar. Namun si sohib bertekad kuat, karena hatinya makin gak karu-karuan dengan uang-uang yang dia terima tiap harinya. Jadilah sohib akuntan ini beralih propesi. Jadi tukang jualan es Mambo. Yang tadinya tiap hari naik mongtor dan mobil kinyis-kinyis, semuanya ditinggal. 

Sekarang nyangking termos keluar masuk warung, nitip es mambo. Ini berjalan gak lama. Karena saat modal sudah agak ngumpul si sohib ini beralih propesi lagi menjadi tukang bakso, beli gerobak bakso dari hasil ngumpulin duit es mambo. Sayang, usahanya gak berjalan dengan baik.

Akhirnya gerobak baksopun dijual. Singkat cerita, sodara si sohib ini tinggal di New Yorkarto Hadiningrat pinter njahit. Adalah 3 orang tentara kebetulan nitip jahitan kesitu, dan ternyata hasilnya good marsogood. Pesanan pun makin banyak dari personil TNI. Karena kewalahan, dipanggilah sohib kita ini untuk mbantu sodaranya.

Muncullah ide-ide cemerlang dari si sohib. Dimarketinglah usaha mereka itu dengan propesional. Ditawarkan kerjasama dengan pihak TNI, dan gayung bersambut. Sejak saat itu juga semua seragam dan atribut TNI dikerjakan oleh teamworknya si sohib ini.

Saat simbah ngobrol dengan sohib ini, pihaknya sedang mengerjakan pesanan TNI dan asesorisnya bernilai ratusan juta. Gak ada sogok-menyogok dalam proses suplainya. Gak ada unsur curangnya. Semua berjalan lurus-lurus saja. Dan si sohib pun bisa dengan lega memberi makan pada anak dan isterinya.

Kadang kita kawatir dengan makanan-makanan yang beredar di pasaran. Ada yang kawatir dengan zat pengawetnya, zat pemanis buatannya, pewarnanya, dan yang sekarang ribut adalah pormalinnya. Oke, semua pantas kawatir dengan itu semua. Karena merusak badan dan kesehatan. Namun ada yang lebih destruktif yang terdapat pada makanan itu, yakni kehalalan asal rejekinya.

Kalo dengan zat pengawet yang gak beres saja ginjel jadi amoh, liper jadi abuh, jantung jadi semplok, maka makanan haram bisa lebih merusak daripada itu semua. Apa sampeyan gak kawatir kalo anaknya diemploki harta korupsi, nantinya sipat si anak jadi korup? 

Apa gak kawatir saat harta karom masuk perut anak isteri, trus nantinya menghasilkan perilaku yang karom-karom jugak? Lha di negeri ini ada anak minta duik 20 juta sama simboknya gak dikasih, simboknya dikepruki sampe kejel-kejel. Anak SMP ditegur simboknya agar jangan pacaran, simboknya malah dibacok.

Ahli psikologi mbahasnya berkutat pada pergaulan dan tontonan tipi yang banyak ngaruhi anak-anak. Kebanyakan pada lupa, bahwa kehalalan apa yang dimakan, didahar, digaglak dan diunthal sama si anak banyak mempengaruhi wataknya. 

Harta dan makanan haram adalah lebih destruktif dari makanan apapun, baik yang berpengawet, berpemanis, berpewarna ataupun yang ber-no preservatives. Sampeyan kasih makan apa anak dan isteri sampeyan? :-?
LihatTutupKomentar