TV Edukasi, Alternatif Tayangan Pendidikan

TV Edukasi, Alternatif Tayangan Pendidikan

TV Edukasi Alternatif Tayangan Pendidikan - Orangtua memang patut cemas dewasa ini. Betapa tidak, gempuran modernisasi menyerang mereka (dan anak-anaknya) hampir dari segala lini, termasuk adanya tayangan televisi. TV yang dulu hanya digunakan untuk mendapatkan informasi dan hiburan, kini telah memiliki banyak sekali fungsi. Beberapa kepentingan “bermain” dalam industri TV dewasa ini, pemodal bisa dikatakan sebagai aktor yang paling besar. 

Meskipun begitu, tentunya masih saja ada segelintir orang atau kelompok yang masih memiliki cita-cita mulia untuk menjadikan TV sebagai sebuah tempat untuk mendapatkan informasi sebesar-besarnya, termasuk dalam bidang pendidikan. Jika membincangkan mengenai TV yang bermuatan pendidikan, kita bisa melihat ke belakang. Jauh sebelum bermunculan televisi swasta, TVRI begitu intens menyiarkan pagelaran budaya dan berita nasional yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Tetapi, sejak dekade 90an, ketika TV-TV swasta mulai berdiri. Perlahan, TVRI juga harus merelakan posisinya “tergusur” oleh TV baru tersebut. Kemudian, kita mengenal TPI. Pada awalnya, TPI merupakan sebuah media yang sangat intens sekali dengan masalah pendidikan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, stasiun tersebut malah semakin mengikis porsi untuk materi pendidikan di setiap tayangannya.

Dewasa ini, semakin banyak TV swasta yang lahir. Tidak hanya di tingkatan nasional, sekarang banyak TV yang jangkauannya hanya dalam lingkup regional (propinsi-Red) saja, bahkan, TV dalam skala lokal saja sudah banyak sekali jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

Malang Raya contohnya, Malang memiliki Malang TV, Batu TV, ATV, Mahameru TV, Dhamma TV, CR TV dan sebagainya. Itu belum jika ditambah dengan TV milik beberapa instansi sekolah, seperti CNO TV-nya SMKN 3 Batu, SMEAMU TV milik SMEA Muhammadiyah Kepanjen dan sebagainya. Bahkan, ada satu TV yang benar-benar intens menyiarkan acara pendidikan, yaitu TV Edukasi (TV E).

Yusak Santoso, pengajar SMKN 3 Batu yang beberapa kali mengikuti program di TV E menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena menjamurnya TV swasta ini, “TV-TV swasta tersebut hanya mengejar rating saja. Contohnya, pada saat-saat prime time, saat anak berkumpul dengan orang tuanya. Mana ada tayangan TV yang mendidik?” Sesal Yusak.

Ditambahkan pula bahwa sedikit sekali prosentase tayangan TV dewasa ini yang bersifat mendidik. Menurut Yusak, ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk meminimalisir efek TV terhadap kondisi anak. Misalnya, pembatasan tayangan TV pada jam-jam sore dan pengawasan yang lebih ketat oleh orang tua terhadap anak.

Masih menurut Yusak, TV E sendiri pada awal berdirinya memang ditujukan untuk ikut andil dalam pengembangan pendidikan anak. Untuk itu, TV E yang dibiayai oleh Dinas Pendidikan RI ini terus mengadakan perbaikan dalam manajemennya, salah satunya pengupayaan relay siaran ke setiap kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. 

Mengenai masalah teknis siaran, TV E biasanya menggandeng sekolah-sekolah multimedia di daerah yang bersangkutan, misalnya jika di Kota Malang, TV E bekerjasama dengan SMKN 4 Malang untuk merelay siarannya.

“Semua infrastruktur TV E sebenarnya sudah siap. Bahkan, tiap tahun kita mengadakan diklat untuk sekolah di Indonesia untuk mengetahui teknis siaran TV E. Kita berharap, ada ICT Center di setiap kota dan kabupaten di Indonesia, sehingga siaran TV E bisa diakses di seluruh Indonesia. Saat ini, setidaknya untuk wilayah Jawa dan Jakarta sudah bisa mengakses TV E,” kata Yusak.

Sadar jika akses TV E masih belum bisa menjangkau seluruh Indonesia, TV E mempunyai strategi khusus untuk mengatasi itu, “Caranya, kita sering-sering mengadakan film edukasi di seluruh Indonesia,” kata Yusak.

Untuk pengoperasian TV E, sudah ada dana kurang lebih seperempat milyar tiap tahunnya dari Diknas RI dan masing-masing kota dan kabupaten yang merelay, akan mendapat biaya operasional sebesar lima juta tiap tahunnya, “Kami berharap, dengan adanya TV E ini bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang efektif untuk dunia pendidikan di Indonesia,” tutup Yusak.
LihatTutupKomentar