Gedibal Pitulikur

Gedibal Pitulikur

Beberapa hari terakhir ini simbah sedikit mengalami kesibukan yang lumayan dahsyat. Sampe-sampe mau posting aja sudah terlalu capek. Sudah nyumet komputer, mau posting tapi ternyata malah ketiduran dengan komputer terus nyala sampai pagi. Ini berulang sampai beberapa kali. PC autoshutdown yang biasanya menjadi penyelamat, ternyata cuma shareware yang hanya berlaku sampai 14 hari.

Sebenarnya bukan urusan berat, hanya ngurusi sales baru yang saat ini sudah mulai beroperasi ngabyantoro daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Tapi mengingat sudah beberapa sales simbah libas karena cluthaknya, simbah gak mau kasus itu terulang lagi.

Dulu sebelum bermasalah dengan sales-sales yang akhirnya simbah libas, simbah selalu memandang kaum mlarat wal dhuafa itu dengan pandangan bersih, tak banyak prasangka, dan malah menganggap mereka ini sebagai kaum yang harus banyak diberi kesempatan untuk memperbaiki nasib. Pandangan simbah jadi sedikit berubah manakala memasuki area bisnis yang melibatkan tenaga mereka.

Adalah sengaja simbah manakala mencari tenaga sales, selalu memanfaatkan mereka yang mlaratnya sudah mencapai derajat gedibal pitulikur, alias mlarat sak pole. Maksudnya agar mereka yang tadinya cuma menjual tampang melas dan wajah pucat buat menarik belas kasihan, berubah menjadi orang yang mau mendayagunakan anggota tubuhnya buat cari makan dan menyambung hidup. Karena boleh jadi gedibal pitulikurnya mereka ini karena tak ada kesempatan yang datang pada mereka buat memperbaiki nasib.

Namun ternyata, tak selamanya gedibal pitulikurnya kondisi dhohir itu diimbangi dengan akhlak yang baik. Kesan bahwa orang yang mlarat kesrakat, fakir terusir atau miskin yang biasanya innocent, ternyata sama sekali tidak babar blas. Sales pertama simbah dipungut dari kampung kumuh, anak dari pasangan pengangguran, yang rumahnya dengan kandang bebek hampir susah dibedakan. Simbah beri kesempatan buat memperbaiki hidup, malah dagangan simbah digondholi, dibrakoti dan diemploki sampai kerugiannya harus simbah tutup dengan lintang pukang (kata terakhir ini simbah pakai karena keliatannya sudah jarang yang pakai.

Sales kedua simbah ambil dari kalangan pengangguran beranak satu, hidup nebeng mertua, kerjaannya jadi Pendekar Luntang Lantung dengan mangtabhnya. Simbah kasih motor, fasilitas kerja, dan bahkan tunjangan kesehatan gratis buat keluarganya juga. Ha kok baru dua bulan kerja sudah melakukan aksi tipu-tipu ala Bento. Bahkan ada puluhan warung yang menjadi langganan simbah dibabat juga. Manusia siluman Wedhus nggragas tenan… Mau tak mau akhirnya simbah libas juga akhirnya.

Kolega simbah di bidang bisnis ini mengalami hal yang sama. Bahkan mungkin lebih parah. Jutaan asetnya digasak habis oleh salesnya yang secara dhohir ra mbejaji babar blas orangnya. Mlarat, kumuh, anaknya kecil-kecil ngecesan, nebeng mertua, matanya cacat, tapi nggragas wal ngglathak sak kayange. Motor yang dikasih buat operasional malah buat ngojek. Dagangan yang seharusnya dijual di warung malah diprotholi trus diganti merek dan dia jual atas namanya sendiri. Kolega simbah gak tahan, nglabrak ke rumahnya. Namun apa daya, yang terjadi adalah pertunjukan tangis ala sinetron dipertontonkan tanpa jeda iklan. Anaknya yang ngecesan dan umbelnya pating tloler nangis kenceng, ibunya nyembah-nyembah minta anaknya yang jadi sales itu diampuni, si sales sendiri ampun-ampun minta dikasihani. Sang kolega gak sampai hati. Ha kok mbesoknya, setelah si sales dipecat, aksi nyolong-nyolongnya masih dijalani juga... wooo dasar gedibal pitulikur kelas telek lencung.

Satu lagi kisah, ada gedibal pitulikur asal Tasik yang mengadu untung di Jakarta. Oleh sang kolega ditawari kerja. Dibikinkan toko, dimodali dan dibiayai hidupnya… gratis-tis-tis. Bahkan saat minta dinikahkan pun dibiayai. Dilamarkan, dibayari maharnya, dan dinikahkan gratis pulak. Sang istri dibawa ke jakarta, mengurusi toko. Entah kenapa tokonya jadi bangkrut. Sang gedibal pitulikur minta dibeliin motor buat ngojek. Diturutilah oleh kolega simbah itu, dengan syarat anak dan isteri kolega tersebut kalo pagi ngantor atau ke sekolah, harus dianter dulu.

Berjalanlah seminggu, dua minggu dan akhirnya sebulan dua bulan. Ternyata si gedhibal ingkar janji. Anak sang kolega diantar tiap pagi ke sekolah, tapi dimintai duit buat biaya ojekannya. Isteri kolega simbah sering nunggu sampai akhirnya jalan sendiri ke kantor sampe telat-telat karena si gedibal gak datang-datang njemput. Akhirnya gedibal pitulikur itu diusirlah. Herannya saat diusir, dia masih sempat minta BPKB motornya….. katanya buat balik nama dan menyambung hidup dari ngojek. Njaluk dipisuhi tenan manungso satu ini. Karena memang kondisinya yang patut dikasihani dan kolega simbah tersebut menghargai kepandaiannya mengaji, dikasihlah BPKB motor itu.

Simbah jadi heran juga, kok ya ada manungso jenis gedibal pitulikur ini. Mungkin memang sudah takdirnya mereka jadi manusia seperti itu. Takdir yang mereka pilih sendiri. Sebagian kalangan mlarat kesrakat itu memang sudah sepantasnya mlarat, bahkan harusnya lebih mlarat. Karena merekalah yang memilih untuk hidup mlarat seperti itu. Tapi ada juga kalangan mlarat itu yang sebenarnya kaya. 

Mereka kaya sebelum punya uang dan harta. Mereka ini adalah kalangan yang ulet, tekun, sabar dan tak mudah putus asa. Bekerja dengan jujur, menghargai orang lain, dan senantiasa optimis akan datangnya rejeki yang halal. Mereka adalah orang-orang kaya yang sebenarnya, meskipun mereka belum memiki uang dan harta. Karena dengan sifat-sifat seperti itu, rejeki itu tinggal nunggu datangnya, dan PASTI melimpah.

Iseng-iseng simbah mau nanyak pada sampeyan, secara bangsa, bangsa indonesa ini termasuk gedibal pitulikur apa celaka tigabelas, atau bukan dua-duanya?

''Sedikit catatan : Gedibal adalah tanah yang nempel di alas kaki atau sandal yang lewat di tanah yang becek atau liat. Pitulikur atau duapuluh tujuh adalah angka kelipatan, yang mungkin maksudnya menunjukkan banyak yang berlipat-lipat. Gedibal pitulikur dipakai untuk menggambarkan rendahnya derajat seseorang.
LihatTutupKomentar