Kosmetik Spiritual

Kosmetik Spiritual

Barusan simbah terkaget-kaget setengah tercengang, membaca data aliran dana BI kepada DPR yang ditayangkan di tipi. Data itu sumbernya didapat dari DPR sendiri. Yang mbikin simbah terkaget agak njondhil bukan masalah korupnya DPR atau oknum BI, kalo itu blas gak ngagetin. Malah terkesan wajar banget. Tapi yang mbikin simbah terkaget adalah penggunaan dana aliran yang gak beres itu.

Salah satu alokasi dana kemproh itu adalah untuk membiayai wal ngragadi acara Buka Puasa Bersama salah satu Komisi DPR yang nilai nominalnya sebesar 379 juta ripis. Mak nyusss… Rasanya hati ini jadi pilu kayak ditladhung pithik yang sedang angrem.
Bayangkan jika sampeyan punya duit segedhe itu, kira-kira warung es cendhol mana yang mau sampeyan beli buat minuman pembuka Buka Puasanya? Dan sego kucing berapa pincuk bisa sampeyan borong buat ngganjel usus wal blodhot yang gak pernah bisa penuh itu?
Herannya, duit kemproh kok ya teganya dipakai buat Buka Puasa lho. Yang lebih mengherankan lagi, kok ya berani-beraninya mereka puasa. Buat Lik Wongso Kacuk yang kesehariannya  jadi mucikari, oknum kayak gitu ibarat orang yang memulai sholat dua rakaat sebelum meniduri si Lince anak didiknya di lokalisasi Kramtung yang sudah digusur itu. Bubar nawaitu sholat khusyu’, dilanjutkan acara asyik masyuk. Jian, kemproh tenaaan..

Tapi anomali demi anomali memang silih berganti menghiasi negeri religius ini. Dulu di jaman Orba, kemajuan spiritual dinilai dari jumlah bangunan tempat ngibadah yang berhasil didirikan. Masalah isinya lebih sepi dari kuburan, gak pernah dilaporkan. Malah lebih ramean kuburan Cina yang jadi komplek perumahan dadakan, daripada suasana  tempat ngibadah.
Di jaman Repormasi, dalam hal data statistik ala Orba di atas, negeri ini patut dijuluki sebagai negeri religius. Bayangkan, majalah yang paling gede oplahnya adalah majalah bernuansa religi. Saat grup Ungu meluncurkan album religi, langsung dilahap habis oleh pasar. Sampai akhirnya grup-grup lain yang blas gak mambu religius tiba-tiba terpaksa banting stir ke genre religi karena melihat pasar yang ternyata sangat berpotensi. Belum lagi albumnya bang Opick atau Hadad Alwi dan Sulisnya yang fenomenal. Peter Pan saja kalah awu. Apakah hanya ini saja? Nanti dulu…

Novel dan pilem juga tak kalah hebohnya. Nopel dan pilem  yang dimasuki genre religi ternyata laris manis, yang berpotensi menghasilkan pengekor dan pengikut yang terbuka matanya bahwa genre nopel dan pilm religi ternyata punya gigi. Tentu saja ini berpengaruh pada dunia keartisannya. Entah karena langka atau memang karena pasarnya berpotensi, artis-artis yang berkerudung religi ternyata memiliki potensi penggemar yang dahsyat. Simbah nggak tahu apakah di dunia  perblogeran juga seperti itu. Yang jelas blog simbah ini masih sangat jauh jika mau dibilang laris atau booming pengunjung. Lagian apakah blog ini bernapaskan religi atau bernapaskan bau jengkol masih patut dipertanyakan.

Jadi tema religi ternyata menjadi tema penglaris. Apa-apa yang berbau religi laku dijual di negeri ini. Lalu mengapa kok korupsi gak ilang-ilang meski bareng-bareng dibrantas, yang ironinya pelakunya seringkali dilakukan oleh oknum yang bolak-balik inguk-inguk Mekkah? Mengapa baju perempuan yang atas makin mlorot dan yang bawah makin naik, sampai akhirnya tinggal sethutnya doang, padahal simboknya tak jarang ternyata adalah ketua majelis taklim dan bapaknya ketua persaudaraan sholat.. eh haji..? Mengapa Kejahatan makin nggilanik saja pariasinya?  Mengapa sampai kelakon berbuka puasa dengan duit kemproh?

Kata guru ngaji simbah, itu karena penganut agama di negeri ini alirannya sama… yakni agama aliran seremonial. Aliran ini tak kalah membahayakan dengan aliran sempalan. Aliran seremonial lebih mementingkan kulit, penampilan, dan kosmetik dengan mengedepankan kemunafikan, wajah topeng dan bermuka dua. Aliran ini menuhankan CITRA dan KESAN pada khalayak.

Mau keliatan dermawan tinggal manggil wartawan, cengar-cengir sebentar sambil nyerahkan bingkisan pada kaum duapa’, dipoto jeprat jepret mrenges sampai garing giginya, maka tindakan ini epektip buat melumuri jatidirinya yang sebenarnya korup dan nyolongi duit kaum duapa’ itu. Mau keliatan soleh dan solekah tinggal mbikin majelis taklim, ngundangi ibu-ibu dan bapak-bapak yang biasanya sudah mambu lemah. Kalau muludan mbikin acara makan-makan memuaskan mulut, kalao Isro’ Mi’roj mbikin acara Mi’rodan dengan acara makan-makan juga sampai merat merot mulutnya karena sibuk makan… Yang penting makan-makan dan epektip buat kosmetik menutupi kelakuannya yang rajin makan suap.

Jangan kaget kalo nanti tercipta satu generasi dengan propil rajin sholat, pengemar lagu religius, pembaca nopel religi, aktif taklim tapi menghamili anak pak haji tetangganya sendiri.  Atau pejabat yang rajin ngaji, mbangun seribu masjid, aktip nyantuni anak yatim, tapi kesangkut kasus suap dan korupsi.

Selama alirannya masih aliran seremonial, agama hanyalah difungsikan sebagai kosmetik. Tak lebih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel