Mengamati Nama, Mengamati Budaya

Mengamati Nama, Mengamati Budaya

Mengamati Nama, Mengamati Budaya - Malam ini saya ngobrol enteng dengan istri saya. Obrolan berkisar nama anak. Kami coba mengamati, dengan tidak serius dan tanpa pedoman ilmiah, perkembangan nama-nama anak. Berangkat dari nama kami sendiri, hingga tebaran nama-nama anak “jaman sekarang”. Dan kami sampai pada sesuatu yang menarik. 

Nama anak ternyata mengalami perkembangan sesuai jamannya. Di setiap jaman, muncul apa yang mungkin bisa disebut sebagai “trend” nama. Trend tersebut entah disebarluaskan dan ditularkan melalui media apa, mungkin melalui “getok tular” alias mulut ke mulut, atau mungkin juga melalui media. Karena obrolan ini sama sekali tidak ilmiah, maka saya akan menyajikannya hanya dalam bentuk tipe-tipe nama anak tanpa batasan jelas periodenya.

Nama Jawa

Tentu saja ini hanya berlaku bagi orang Jawa. Nama-nama ini muncul mungkin di seputar tahun-tahun kelahiran saya (yang tidak jauh dari istri, hanya terpaut 2 tahun). Sebut saja misalnya Eko, Edi, Adi, Sugeng, Retno, Dyah, Dian, dan lain-lain. Kami menemukan bahwa teman seangkatan kami banyak yang memiliki nama tersebut.

Selain itu, muncul juga nama-nama yang diambil dari tokoh pewayangan seperti Yudhis (kami “menuduh” nama ini diambil dari Yudhistira tokoh pandawa), Bimo, Krishna, dan masih banyak lagi. Dalam pandangan sekilas kami, nama-nama ini seakan menjadi trend pada masa itu.

Nama Islami/Religius

Wajar jika orang Islam menamai anaknya dengan nama yang berbau arab. Juga jika mengambil nama-nama Nabi/Rasul untuk anak mereka. Dalam hal ini maka Nabi Muhammad SAW kami yakini menduduki peringkat tertinggi. Silakan hitung sendiri teman anda yang bernama Muhammad atau Ahmad, pastilah nama ini paling banyak di antara nama yang lain.

Selain beliau, masih banyak nama nabi yang lain yang juga cukup populer untuk dipakaikan pada anak, sebut saja Ibrahim, Yusuf, dan masih banyak lagi. Setelah nama nabi, yang menduduki peringkat kedua (sekali lagi menurut kami, tanpa penelitian ilmiah) adalah nama sahabat nabi. Umar, Usman, Ali, dan yang lain lagi.

Trend Nama Anak Masa Kini

Berangkat dari identifikasi kasar itu, kami mulai mencoba mengumpulkan indikator trend nama anak masa kini. Kami coba cari nama-nama anak yang sering muncul di media, tentu saja anak-anak selebritis maupun kyai yang nyeleb. Dan kesimpulan sementara kami nama masa kini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Mengandung huruf Z. Makin banyak huruf Z, makin nampak masa kini-nya
  • Selain huruf Z, huruf Y dan Q juga penting. Silakan amati nama-nama anak yang mungkin baru lahir
  • Kadang bahkan nama yang ada seakan tanpa makna. Yang penting bertebaran huruf Z, Y, Q. Semakin sulit dilafalkan, seakan semakin mantap dijadikan nama. :) 

Kalau kita kembali ke masa sangat-sangat dulu, maka nama-nama tokoh kita bahkan mengambil dari nama binatang. Sebut saja Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan yang lainnya. Tampaknya tidak terlalu dipusingkan mengenai makna dari nama itu. Dan tampaknya, trend itu kembali muncul di masa kini, dengan model yang lebih sulit untuk ditulis dan membuka kemungkinan salah-tulis maupun salah-ucap. :)

Ah, tapi ini jangan terlalu dianggap serius ya, ini cuma selorohan kami. Tulisan ini hanya gelitikan di dalam hati saja, yang sementara ini kami anggap cukup asyik untuk dituliskan. Namun saya jadi teringat dengan Almarhum Pak Usman. Tetangga saya yang memiliki 15 orang anak dan kesemuanya saat ini “jadi orang”. Sukses semua pokoknya, bahkan salah satu anaknya adalah pendiri Partai Keadilan, artinya jadi orang penting. 

Nah, alkisah Pak Usman ini sedang menunggu kelahiran putrinya yang bungsu. Beliau menyempatkan untuk nonton film, bareng bapak saya. Dan selesai nonton, beliau terkenang-kenang dengan tokoh di film itu, Eva Arnas. Akhirnya anak beliau yang bungsu diberi nama Eva. :) Apakah ini juga termasuk alasan munculnya trend? Yang jelas pada masa anak bungsunya ini lahir, nama Eva juga mulai banyak beredar.

Wah, tulisan saya kok ndak ilmiah lagi ya. Tapi ya sudahlah, memang segini saja kemampuan saya :)

vale, demi kesehatan

el simbah, “ngelus-elus boyok”
LihatTutupKomentar