Bapak Ibu Sekalian, Infus Bukanlah Tolok Ukur

Bapak Ibu Sekalian, Infus Bukanlah Tolok Ukur - Judul yang agak aneh. Tapi baiklah, saya memang hanya ingin curhat sebenar-benarnya curhat saja
Bapak Ibu Sekalian, Infus Bukanlah Tolok Ukur - Judul yang agak aneh. Tapi baiklah, saya memang hanya ingin curhat sebenar-benarnya curhat saja di sini. Tentang kondisi ayah saya. Kebetulan beliau sedang dapat rejeki sirosis hati dan batu empedu. Sekarang masih dalam taraf perawatan.

Nah, kemarin teman-teman bapak saya membezuk. Dan mereka melihat kondisi ayah saya, kuning sekujur badan dan tubuh mengering mengurus. Ayah saya masih tergeletak, tanpa selang, tanpa tumpukan obat. Lalu muncullah celetukan ini,”Bapak kok tidak segera ditangani? Ini pasti khas rumah sakit negeri, pasien malah jadi bahan ujicoba. Kok gak diinfus atau gimana gitu”.

Pada saat muncul celetukan itu, saya membiarkannya. Tapi, ternyata celetukan itu, entah bagaimana, sampai ke telinga kakak saya yang di Jakarta. Semalam, kakak saya menelfon saya karena hal itu. Dan saya terpaksa harus menulis unek-unek ini.

Infus Bukanlah Tolok Ukur

Sekali lagi, Infus bukanlah Tolok Ukur!


Bapak-ibu yang saya hormati. Saya sungguh sangat berterimakasih atas kehadiran bapak-ibu sekalian menjenguk bapak saya. Sungguh, bapak saya terlihat terhibur. Satu hal saja yang ingin saya sampaikan. Penyakit bapak saya adalah sirosis hati, pengerasan jaringan di hati. Dan munculnya batu empedu.

Mari sama-sama kita lihat pelajaran waktu kita semua masih setingkat SMP. Bapak dan ibu yang bergelar sarjana, tentu mengerti bahwa hati itu dalam fungsinya sangat berkait dengan penanganan racun di dalam tubuh. Jika fungsi hati tidak beres, racun menyebar ke seluruh tubuh melalui jaringan darah, mengakibatkan kekuningan dari mata hingga seluruh kulit. Artinya apa bapak/ibu sekalian? Penanganan untuk penyakit ini yang paling utama adalah mencegah penumpukan/penambahan racun di dalam tubuh pasien.

Itulah makanya bapak/ibu sekalian yang saya sangat cintai, bapak saya tidak diberi obat-obatan. Kalau diberi obat, mungkin bapak ibu akan melihat satu berita (walaupun mungkin kecil) tentang saya menuntut Rumah Sakit Sardjito. Karena obat pada dasarnya adalah sekumpulan unsur kimiawi yang bisa diartikan sebagai racun oleh hati. Dan Sarjito adalah rumah sakit besar, mereka tentu tidak akan berbuat konyol dengan memberi obat kepada penderita penyakit sirosis hati.

Penumpukan Cairan Tubuh di Lambung


Lantas bagaimana dengan infus? Hal ini sama sekali tidak berkait. Sayang sekali saya tidak sempat mencari literatur secara detail, semua hanya dalam ingatan saya saja. Mohon maklum, saya harus kembali ke rumah sakit menjagai bapak saya.

Penumpukan cairan tubuh terjadi karena efek berantai. Sirosis hati ini mengakibatkan rasa sebah di pasien, sehingga nafsu makan turun drastis. Akibat langsung dari ini adalah asam lambung meningkat. Dan ketika itu terjadi, hal itulah yang diberi nama penumpukan cairan tubuh.

Bagaimana mengatasinya? Ya tentu saja dengan makan. Makan pelan-pelan, katakanlah satu suap tiap satu jam, sekedar untuk menjaga agar lambung tidak kosong. Agar lambung tidak terpicu menumpuk asam. Terbayang kan kalau proses ini dilewati? Infus yang bapak/ibu sebutkan itu, justru membuat asam lambung susah dikontrol. Bapak saya masih bisa menelan makanan kok. Mohon bapak/ibu tenang saja, mohon bantuan doa, agar bapak tidak muntah. Itu saja. Jadi, infus bukanlah satu-satunya tolok ukur penanganan.

Sekedar informasi, kemarin bapak saya sudah menjalani serangkaian observasi detil di bawah pengawasan langsung Dr Putut S.PD. Observasi ini meliputi USG, Rontgen, Cek Darah (total), dan rekam jantung. Berdasar tes darah, jelas ayah saya menderita diabetes melitus. Oleh karenanya kontrol gula darah juga diperlukan. Sayangnya obat pengontrol gula darah justru akan menjadi bumerang bagi tubuh bapak saya jika diberikan sekarang, karena fungsi hatinya sedang terganggu tadi. Lantas apa yang harus dilakukan? Makan. Ya, makan yang teratur agar gula darah tidak naik drastis, juga tidak turun drastis.

Nah, bapak ibu sekalian yang saya sangat sayangi. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Namun sejujurnya saya sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas perhatian Anda sekalian. Sungguh, saya merasa bahagia sekali, tentu saja keluarga saya juga, mengetahui bahwa banyak yang peduli dengan ayah saya. Namun mohon percaya pada proses yang sekarang sedang dijalani. Saya sungguh berharap bantuan doa dari bapak ibu sekalian.

Mungkin tulisan saya ini bukanlah tulisan yang bagus. Tapi kurang lebih seperti itu kondisi bapak saya, dan bagaimana proses yang sekarang sedang berjalan. Sementara mungkin ini dulu. Saya harus kembali ke rumah sakit.

Mohon do’anya.

Salam....

ps. saya mencintai anda semua. atas nama keluarga, terimakasih.

Tambahan:
Bagi pasien sirosis hati, sungguh dibutuhkan kondisi yang nyaman dan jauh dari stress. Keadaan stress, beban pikiran, justru akan memicu penumpukan asam lambung dan memperparah kondisi sirosis hati. Hal yang seharusnya kita hindari. Jadi, inilah alasan saya tertawa-tawa dan bercanda-canda selama di samping ayah saya. Mohon maklum.
LihatTutupKomentar