Selamat Datang Mata Air

Selamat Datang Mata Air

Selamat Datang Mata Air - Sore itu adalah sore ke sekian. Sebuah penantian yang makin ke sini semakin panjang dirasa di hati. Pukul 15:00 WIB, tanggal 31 Oktober 2007, adalah kali ketika kontraksi terjadi semakin sering dan berpola. Istri saya memilih untuk menunggu di rumah, daripada menunggu di rumah sakit, sehingga kamipun kembali kepada kesibukan.

Pukul 17:00 WIB, istri saya terlihat semakin kesakitan. Kamipun menghitung jarak kontraksi masing-masing. Antara yakin dengan tidak yakin bahwa itu kontraksi beneran, kami putuskan untuk online dan mencari jawaban atas pertanyaan ataupun ketidakyakinan tersebut. Hasilnya? Hampir nihil. Segala hal berkait kontraksi yang kami peroleh, tidak memberikan gambaran yang cukup detil mengenai apa bagaimana dan seperti apa kontraksi itu. Juga kaitannya dengan bukaan, adakah relasinya?

Satu garis bawah saya pertebal pada kalimat yang saya peroleh dari tiga artikel temuan mengenai kontraksi ini, yaitu bahwa harus segera ke rumah sakit begitu kontraksi sudah berjalan kontinyu, teratur dan berjarak 10 menit sekali. Dan mulai pukul 17:30 WIB, kontraksi istri saya sudah mulai teratur pada irama delapan menit sekali.

The Kronologi

Pukul 18:00 WIB, akhirnya bersama mertua dengan mobil mertua (tentu saja, wong saya belum punya), kami berangkat ke happyland. Perjalanan terasa sangat lama. Apalagi perjalanan dari Purwomartani ke daerah Timoho haruslah melalui sekian polisi tidur dan jalan yang berlobang. Istri saya akhirnya merebahkan diri ke pangkuan saya. Kontraksi masih terus terjadi. Tarik napas panjang dari hidung, lepaskan dari mulut, selalu itu saya ulang sepanjang perjalanan.

Pukul 18:30 WIB kami masuk ke ruangan UGD Happy Land. Administrasi mensyaratkan saya harus mengisi papers dulu, namun para pegawai Happy Land tampak sangat kooperatif. Istri saya langsung dibawa ke ruang tindakan, sementara saya mengisi syarat-syarat. Tandatangan selesai, saya berangkat ke ruang tindakan di lantai dua.

Sampai lantai dua, istri sudah di kamar bersalin. Saya tidak berani masuk sebelum mendapat ijin dari dokter maupun suster. Dan akhirnya suster keluar, saya diperbolehkan masuk. Istri saya, pukul 18:45 WIB, ternyata baru di posisi bukaan 3.

Kontraksi jalan terus, dan istri saya memutuskan menunggu di kamar yang sudah kami sewa. Kami sempat pula foto-foto di sini, namun kontraksi istri semakin hebat. Jaraknya menjadi lima menit sekali dan tiap kali kontraksi bertahan satu hingga dua menit. Tadinya istri berjalan dari ruang tindakan ke kamar rawat inap, hal ini dilakukan agar bukaan berjalan lebih cepat. Namun akhirnya suster menyarankan istri untuk tidur miring ke kiri saja, posisi dimana bukan tempat plasenta berada. Tidur miring ke kiri ini sudah cukup untuk merangsang bukaan, demikian kata suster. Istri saya melakukannya.

Kesakitan semakin melanda, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke ruang tindakan. Sampai di sana, saya berganti pakaian dengan seragam khusus (syarat untuk masuk kamar steril di rumah sakit ini) dan menunggu. Proses ini adalah proses yang terasa jauh lebih panjang daripada proses penungguan yang lain. Istri saya semakin kesakitan, kontraksi makin lama dan berjarak pendek-pendek. Suster mengecek dan mengatakan bahwa sudah bukaan 5.

Mengingat proses bukaan yang cepat, akhirnya suster mengontak dokter. Namun dokter Ova ternyata sedang menangani kasus gawat pasien lain. Dan kemudian diputuskan agar kami menunggu dokter Ova saja, dengan harapan beliau selesai tepat pada waktunya. Saya terus terang gelisah, ketidakhadiran dokter jelas terasa tidak memberikan kenyamanan bagi pasien. Apalagi istri saya terlihat semakin kesakitan. Bahkan mulai pukul 20:30 WIB, istri saya mulai merasa harus mengejan. Suster meminta istri saya agar bersabar karena bukaan belum sempurna. Dan kemudian -pyuk- air ketuban merembes. Bening. Suster mengecek, dinyatakan sudah bukaan 8.

Bukaan selanjutnya berjalan lebih cepat lagi. Suster menyatakan sudah terbuka sempurna, namun dokter belum nampak juga. Suster-suster lain mulai berdatangan, dari mulai suster persalinan hingga kamar bayi. Istri saya bertanya berkali-kali, mencoba mencari keyakinan apakah memang benar sudah boleh mengejan. Pengetahuan yang banyak tentang buruknya mengejan sebelum waktunya, membuat kehati-hatian ekstra muncul begitu saja.

Pukul 21:10 WIB akhirnya dokter tiba. Istri sudah terlihat lelah, bahkan terlihat agak mengantuk. Hal yang sangat mengkhawatirkan bagi sebuah proses kehamilan, hal yang bisa membahayakan bagi keduanya baik ibu maupun jabang bayi. Dokter Ova sangat baik, kehariannya yang bagaikan oase, memberikan ketenangan pada istri saya. Semangat istri saya kemudian dipacu, bukan dengan obat-obatan, tetapi dengan omongan dan dorongan psikis. Suster yang lain membantu juga, sehingga akhirnya istri saya mulai mengejan.

Pukul 21:17 WIB istri saya mulai mengejan sangat kuat. Kulihat proses keluar buah hati berjalan cukup mulus. Dorongan semangat bertubi-tubi datang kepada istri saya. Bagus, sedikit lagi, ambil nafas lagi terus sambung, terus bu bagus sedikit lagi, begitu terus kurang labih kata-kata yang beredar di ruangan kecil tersebut. Hingga akhirnya lahirlah dia, bayi mungil dengan tangis sangat keras.

Pukul 21:23 WIB, Mata Air –demikian kami menamainya– mengumandangkan tangisnya, menyatakan dirinya ada. Lima menit kemudian, disusul dengan kencing pertamanya. Suster yang terkena tertawa, kami tertawa. Setelah bersih, dia dibawa ke atas perut ibundanya. Dibiarkan dia mencari puting susu ibunya. Agak lama, mungkin sekitar sepuluh menit setelahnya, datanglah pipisnya yang kedua.

Dalam bayangan saya, ketika Mata Air melakukan pipisnya yang kedua, sepertinya dia berkata,”selama ini aku pipis di dalamnya, coba seperti apa rasanya pipis di atasnya”. Tentu saja hangat Mata Air, perut ibundamu basah semua. Bergerak-gerak dengan mulut, hidung mungil terlihat seperti mencari-cari sesuatu. Matanya terbuka seakan sudah bisa melihat apa saja.

Pukul 22:20 WIB, akhirnya dia menemukan puting ibundanya. Dicecapnya kuat-kuat, untuk kemudian terlepas. Dapat, cecap kuat, lepas. Terus begitu hingga akhirnya dicoba mengubah posisi Mata Air dengan tujuan memudahkan dia mencecap. Hasilnya? Dia menangis super keras, minta dikembalikan posisi semula. Akhirnya dia tidak ditelentangkan melintang lagi, seperti posisi menyusui biasanya, tetapi dikembalikan ke posisi tengkurap di atas perut ibundanya. Dan dia diam, mulai mencecap. Digeser sedikit lagi, akhirnya posisinya tepat. Namun dia sudah lelah, begitu mulutnya mencecap, segera saja dia tidur.

Pukul 23:00 WIB, diputuskan observasi selama dua jam di ruang tindakan sudah mencukupi. Saatnya bayi dibawa ke kamar bayi. Suster mengambil anak kami yang sedang tidur, dia diam. Namun ketika hampir semua tubuhnya menempel ke tubuh suster, tangan kanan sikecil tampak masih menggenggam erat selimut ibundanya. Dan begitu tangan si kecil dilepas dari selimut ibundanya, datanglah poopnya yang pertama.

Pukul 23:30 WIB, istri masuk ke kamar rawat inap. Di sana sudah ada Tante Is, Ibu dan Bapak. Diputuskan saya ke rumah dulu, mengubur ari-ari, untuk kemudian balik lagi ke Happy Land. Dan benarlah, kami berangkat ke Kadisoka, mencari posisi paling aman untuk menanam ari-ari, dan kemudian kembali lagi ke Happy Land.

Demikianlah perjalanan datangnya Mata Air. Oh ya, ketika saya dan istri sampai di kamar rawat inap, kami langsung ditanya oleh Tante Is, sikecil diberi nama siapa? Kami menjawab “Mata Air”. Dan sekian reaksipun tercatat, namun saya tidak akan mencatatnya di sini. Selamat datang Mata Air, selamat berjuang semoga merdeka!

vale, demi masa depan
el simbah, masih terkagum-kagum dengan kebesaran-Nya....

Mata Air di suatu pagi

CATATAN MATA AIR #2

  • Jenis Kelamin: Laki-laki
  • Hobi: Tidur, Pipis, Eek dan Mimik ASI
  • Usia: 3 Minggu

Saat ini sedang penuh dengan bintik-bintik di wajah, katanya sih buras ASI, namun dokternya bilang itu semacam alergi hanya saja tidak tahu alergi apa. Berdasar informasi banyak orang, baik dokter maupun mas Sonson tetangga sebelah, tidak perlu diobati apapun. Ya sudah, semoga nanti hilang dan mulus kembali.
LihatTutupKomentar