Dari Kognitif Menuju Era Metakognitif

Teman-teman guru inspiratif yang hebat...

Dari Kognitif Menuju Era Metakognitif - Sebagai pengajar pasti kita telah familier dengan kata kognitif. Sejak bangku kuliah dulu kata kognitif sangat melekat dengan tokoh Benjamin S Bloom. Ahli pendidikan ini membuat suatu tingkatan penguasaan pengetahuan manusia mulai dari tingkat yang sederhana sampai yang paling kompleks. Tingkatan tersebut dikenal taxonomi Bloom.

Berbeda kata metakognitif yang baru muncul kemudian di kalangan pendidikan. Istilah ini dibahas oleh ahli pendidikan Anderson & Krathwohl. Metakognitif merupakan bagian yang melengkapi ranah yang perlu dicapai dalam kegiatan belajar mengajar siswa di sekolah. 

Dari Kognitif Menuju Era Metakognitif
Metakognitif (ilustrasi)

Kata kognitif disamakan dengan pengetahuan. Penguasaan pengetahuan merupakan salah satu tujuan kegiatan belajar di sekolah. Kendatipun metakognitif juga suatu hal yang perlu dikuasai oleh peserta didik sejauh ini belum ada persamaan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.

Apa itu metakognitif 

Istilah metakognitif berasal dari kata meta dan kognitif. Meta berarti setelah, berdekatan dengan, di luar dari sesuatu. Beberapa kata yang mendapat awalan meta. Metabahasa yang artinya membicarakan sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari yang dibicarakan. Metafisika membicarakan sesuatu yang esensi/ hakekat. Metamorfosis membicarakan tentang perubahan bentuk.

Dengan demikian metakognitif itu membicarakan sesuatu yang berdekatan dengan kognitif. Metakognitif sering diartikan sebagai “thinking about thingking” berpikir tentang pikiran kita bekerja. Hal ini mememiliki pengertian:
  • Pengetahuan tentang terjadinya proses berpikir yang menghasilkan pengetahuan
  • Suatu pemahaman pada diri sendiri untuk menyadari potensi daya berpikir sendiri
  • Suatu kemampuan untuk melihat bagaimana proses berpikir terjadi dan bagaimana cara mengaturnya atau memanfaatkannya. 

Memanfaatkan Metakognitif 

Dengan menyadari ada proses berpikir yang berbeda pada setiap siswa maka guru perlu memanfaatkan metakognitif agar:
  • siswa mengenal bagaimana berpikir itu terjadi
  • siswa menyadari kemampuan inderanya untuk proses beripikir dan menghimpun pengetahuan
  • siswa paham kelebihan dan kekurangan dirinya dalam untuk menghadapi kegiatan belajar
  • (pada tingkat yang lebih tinggi) siswa mampu memilih, menggunakan, dan memonitor cara belajar sesuai dengan gaya berpikirnya masing-masing
  • Siswa memiliki kemandirian dan kemerdekaan berpikir

Penerapan Metakognitif dalam Kelas 

Metakognitif bukan metode mengajar. Dengan metakognitif maka pengelolaan kegiatan belajar siswa lebih menekankan proses berpikir daripada hasil akhirnya. Oleh karena itu perlu diatur agar proses belajar tersebut berlangsung dengan aktif dan kreattif, diantaranya dengan langkah berikut:
  1. Buatlah pemetaan kemapuan siswa dalam kelas. Pemetaan tersebut mencakup modalitas, kemampuan bawaan, bakat, hobi yang memiliki dampak pada hasil belajar
  2. Tanamkanlah kesadaran dan hasrat untuk belajar. Selalu berikan dorongan pentingnya belajar. Sampaikan dampak, manfaat, akibat belajarnya
  3. Perkuat kemampuan untuk membaca, menulis, memanfaatkan sumber-sumber belajar yang beragam. kemampuan membaca perlu ditingkatkan sesuai jenjang usia siswa. Membaca cepat, membaca selintas, membaca penuh konsentrasi, membaca data angka, grafik dan sebagainya. Demikian juga menulis perlu ditingkatkan sesuai jenjang usia. Bisa berupa membuat resume, peta konsep, menyusun laporan, membuat karangan dan lain-lain.
  4. Bimbinglah semua siswa membuat perencanaan dan cara mencapai tujuan. Yang paling cocok adalah bila guru menggunakan pendekatan proyek atau produk. Ingatkan semua siswa dapat memanfaatkan semua potensi dan sumber daya yang dapat digunakan untuk mewujudkan proyek atau produk itu.
  5. Ingatkan agar siswa selalu komitmen terhadap semua tugas secara mandiri. Ini juga yang dinamakan pemantauan secara mandiri dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri.
  6. Lakukan refleksi terhadap pencapaian. Lakukan evaluasi terhadap hal yang telah berhasil dicapai dan yang belum dicapai.
Dengan memahami metakognisi maka seorang guru selain menyampaikan apa yang harus dipelajari oleh siswa juga menyampaikan cara mempelajarinya. Terhadap penilaian yang diperoleh siswa tidak cukup berhenti pada predikat “berhasil” dan “tidak berhasil”. Tetapi berlajut kepada saran agar siswa mencapai keberhasilan.

Itulah tugas yang sebenarnnya seorang pendidik, menadikan siswa berhasil. 

https://www.pitutur.web.id/2021/01/dari-kognitif-menuju-era-metakognitif.html
LihatTutupKomentar