Literasi Abad ke 21

Literasi Abad ke 21

Literasi Abad ke 21 - Leterasi sangat erat dengan pembelajaran di sekolah. Namun istilah literasi selalu berkembang maknanya. Secara umum literasi diartikan kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Inilah makna yang dasar sehingga muncul istilah melek huruf (orang yang mampu baca tulis) dan buta huruf (tidak mampu baca tulis).

Literasi berasal dari kata literacy (bahasa Inggris) atau literatus (bahasa Latin) yang berarti “a learned person” artinya orang yang terpelajar. 

Apakah orang yang mampu baca tulis sudah dianggap terpelajar? Kata terpelajar inilah yang membuat perluasan makna literasi sekarang ini.

Pada masa sekarang ini istilah terpelajar merujuk pada kemapuan berbagai fungsi dan keterampilan hidup. Dengan demikian konsep literasi mencakup kebutuhan masa kini yaitu literasi huruf, angka, sain, komputer, fiansial, kultural dan kewargaan dunia.

Literasi huruf/aksara

Literasi huruf atau melek baca tulis merupakan kemampuan awal manusia sebagai tanda sejarah. Sejarah adalah masa ketika manusia mengenal tulisan. Membaca dan menulis merupakan kemampuan yang memungkinkan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu makin awal peserta didik menguasai kemampuan baca tulis maka makin cepat kemungkinannya untuk menguasai bidang pelajaran lain.

Literasi angka/numerik

Literasi angka sejalan dengan literasi huruf. Kemampuan membaca angka sangat berkaitan dengan kemampuan logika. Dengan demikian literasi angka hendaknya bukan hanya disampaikan pada pelajaran matematika tetapi pelajaran lain yang menekankan penalaran. Literasi angka berdampak besar pada kemajuan industri dan rekayasa (teknik). Karena itu negara maju sangat besar perhatiannya pada pengembangan bidang numerik, statistik, teknik dan industri.

Baik literasi aksara maupun angka penting untuk melanjutkan peradaban manusia.

Literasi sains 

Literasi sain meruapakan kemampuan menerapkan metode ilmiah (saintifik). Hal ini yang perlu dikembangkan dalam mencari kebenaran ilmiah. Dengan demikian anak didik akan terhindar dari sikap mudah percaya. Dewasa ini sikap mudah percaya sangat mengkhawatirkan bagi keharmonisan sosial.

Langkah-langkah saintifik perlu ditanamkan dalam setiap pembelajaran. Langkahnya berupa identifikasi masalah, merumuskan masalah, membuat jawaban sementara (hipotesis), mengumpulkan data dan menyimpulkan penemuan. Kegiatan tersebut bisa diterapkan pada kegiatan kecil maupun besar di sekolah.

Literasi komputer 

Literasi komputer merupakan kemampuan mengelola sistem informasi sesuai perkembangan teknologi. Teknologi informasi telah membawa perubahan yang sangat cepat dan menyeluruh di dunia. Dampaknya dunia menjadi komunitas global yang memiliki interkoneksitas. Jarak antar tempat yang secara riil jauh namun menjadi dekat secara informatif.

Dengan kondisi seperti ini, anak didik perlu mendapatkan ketrampilan menggunakan perangkat teknologi komunikasi. Dengan demikian diharapkan mereka berperan positif dan proaktif dalam pemanfaatan teknologi.

Literasi keuangan/finansial 

Pada perkembangan industri dewasa ini, kemampuan finansial penting untuk menguasi dunia. Kemampuan mengelola finansial suatu negara berdampak kepada kepercayaan terhadap negara tersebut. Kemampuan tersebut harus dimulai dari pengajaran di sekolah pada tahap awal.

Karena itu peserta didik perlu ditanamkan kemampuan melek finansial. Kemampuan ini juga meliputi pemahan nilai mata uang, kegiatan investasi, pengelolaan asset dan kewirausahaan.

Literasi budaya/kultural

Melek kultural artinya memiliki kemamapuan dasar sebagai manusia berbudaya. Khsasanah budaya meliputi kemampuan beragama, bahasa dan keragaman suku bangsa (etnik). Kesadaran berbudaya menjadi aset yang memperkaya peradaban manusia. Hal ini memiliki dampak terhadap keunikan bangsa-bangsa yang makin toleran dan menjunjung perdamaian.

Literasi kewargaan dunia.

Literasi kewargaan didasarkan atas kesadaran pelaksanaan hak azasi manusia, penghormatan atas ketaatan hukum. Dunia yang makin terkoneksi dan menjadi “sempit” maka warga dunia makin erat seperti hidup bertetangga. Hidup antar negara akan seperti hidup antar rumah di suatu wilayah.

Pada perkembangan dunia yang seperti ini penting untuk memberikan ketrampilan hidup harmonis. Hidup harmonis didasarkan kesamaan hak dan kewajiban sebagai warga dunia. Selain itu secara teknik siswa juga dibimbing agar memiliki kemampuan untuk mengelola diri sendiri agar mampu bermobilitas antar negara sebagai warga dunia.

Dengan demikian literasi abad ke 21 yang perlu ditanamkan kepada anak didik kita adalah:
  • Kemampuan membaca dan menulis aksara, 
  • Berhitung angka, 
  • Menerapkan pendekatan ilmiah, 
  • Mengelola sistem informasi, finansial, 
  • Berbudaya dan menjadi warga dunia.
LihatTutupKomentar