Kupu Kupu Cantik di Taman Kelas

Pitutur - Teman-teman guru... Kelas adalah taman. Siswa kupu-kupunya. Para guru arsitek taman itu. Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan setting kelas dan cara pandang terhadap anak didik. Suasana kelas perlu dibangun dengan nuansa keindahan dan kenyamanan. 

Keindahan terbentuk oleh berbagai karya siswa yang bersumber dari portofolionya. Kenyamanan terbentuk karena media belajar dan sumber belajar yang berfungsi myata untuk kegiatan. Taman yang baik mampu menumbuhkan beragam kehidupan dan aktivitas di atasnya.

Dalam bayangan seperti itu anak didik kita akan tumbuh dan berkembang. Mereka mirip kupu-kupu itu. Aneka warna kupu-kupu yang berada pada taman bunga. Sebagai pendidik, kita perlu mengakui ada persamaan namun lebih banyak ragam perbedaannya. 

Kupu-Kupu Cantik di Taman Kelas

Perbedaan apa yang perlu kita akui pada diri siswa? Yuk kita simak bersama.

1. Usia boleh sama, kematangannya berbeda

Siswa mengalami kematangan yang berbeda meskipun usianya sama. Kematangan itu tanda kesiapan siswa untuk memiliki kemampuan baru. Kita bisa amati pada usia tujuh tahun seperti ini. Ada siswa yang telah matang untuk membaca dan menulis namun ada juga yang belum. Ada siswa yang pandai melempar bola terfokus ada juga yang belum. Ada siswa yang terampil mengungkapkan pendapat ada yang belum.

Kematangan atau kesiapan belajar terjadi pada semua tahap belajar pada semua usia. Karena kematangan datangnya berbeda maka yang perlu dilakukan adalah terus mencoba. Pada saatnya aka ketemu.

2. Ciri fisik boleh sama, kepribadian berbeda

Siswa memiliki kepribadian unik. Siswa yang kembar identik sekalipun bisa memiliki kepribadian yang berdeda. Hal tersebut terjadi karena kepribadian merupakan kombinasi dari faktor keturunan dan pengaruh lingkungan.

Secara luas kepribadian mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi dan Kepribadian secara umum merupakan cara siswa merespon lingkungannya. Cara tersebut memiliki kekhasan masing-masing pada setiap siswa. Karena itu perlu cara yang khas pula untuk berinteraksi pada masing-masing siswa.

3. Indera boleh sama, kemudahannnya berbeda

Siswa memiliki kemudahan yang berbeda dalam indera belajar. Ada siswa yang mudah dengan membaca langsung sumber bacaan. Ada siswa yang mudah belajar dengan mendengarkan guru menerangkan. Ada juga siswa yang mudah belajar dengan melakukan sendiri peragaan atau praktek.

Dengan kemudahan yang berbeda perlu diakomodir dengan variasi kegiatan dalam pembelajaran. Penggunaan indera bukan halangan untuk menguasai hasil belajar secara optimal.

4. Kompetensi boleh berstandar, kecerdasan siswa beragam

Kompetensi pendidikan yang akan dicapai distandarkan oleh standar nasional (SNP). Standar kompetensi menjadi takaran kemampuan umum untuk anak menurut usianya.

Namun kita perlu mengakui ada siswa yang memiliki kemampuan di atas standar itu. Kita perlu mengakui ada siswa yang lebih mampu dalam akademik. Ada siswa yang lebih terampil dalam memainkan musik. Ada siswa yang lebih lincah dalam olah raga. Ada siswa yang memiliki talenta bahasa. Ada siswa yang mampu bersosialisasi lebih baik.

Ketika siswa memiliki bakat lebih baik maka perlu pembinaan yang lebih intensif. Kegiatan intensif tersebut bisa berupa kegiatan dalam kelas dan luar kelas. Pembinaan seperti ini yang diharapkan mampu mencetak juara-juara pada bidangnya. Siswa tak harus juara dengan nilai akademik yang sempurna. Namun juara juga bisa berarti juara olahraga, musik, sastra atau berorganisasi.

Itulah keindahan kupu-kupu keindahan yang terbentuk bukan karena keseragaman. Justru perbedaan itu yang membuat mozaik keindahan. Sama dengan anak didik kita. Pahami dan temukan bakatnya, lalu jadikan istimewa. 

Baca Juga : 
LihatTutupKomentar