Pola Pembelajaran Disamakan Reguler

Pola Pembelajaran Disamakan Reguler

Pola Pembelajaran Disamakan Reguler - Minat Tidak Stabil, Tidak Terbiasa Penugasan, Sadar minat dan prestasi belajar siswa SMP Terbuka yang tak kunjung beranjak naik setiap tahunnya, beberapa penyelenggara SMP Terbuka mulai memikirkan upaya solutifnya. Agar hasil belajar maksimal, pelayanan pendidikan dan pola pembelajaran seperti yang diterapkan pada siswa reguler coba diterapkan.

Beberapa SMP Terbuka yang dikonfirmasi media koran pendidikan mengakui mengalami kendala tidak mampu memenuhi standar proses sepenuhnya. Beberapa masalah yang berhasil dianalisis penyelenggara SMP Terbuka lebih banyak berasal dari minat dan kebiasaan belajar yang rendah pada siswa.

Seperti diakui pengelola SMP Terbuka di SMPN 2 Kepanjen, Drs Agung Sutrisno, banyak masalah di balik rendahnya minat dan prestasi belajar siswa SMP Terbuka. Menurutnya, secara umum input siswa memang memiliki karakteristik kemauan belajar yang rendah. Tidak sedikit siswa SMP Terbuka belajar bukan karena kemauan sendiri.

”Sulit berharap siswa belajar di rumah. Akibatnya, meski diberi pembelajaran remedial tetap saja mereka tidak mampu memahami soal latihan,” kata Agung.

Senada, mantan wakil urusan kurikulum SMP Terbuka di SMPN 1 Pakisaji, Susiana SPd, mengatakan siswa SMP Terbuka sangat sulit ditingkatkan motivasi belajarnya. Diakuinya, guru bina (dan pamong belajar) menjadi satu-satunya sumber belajar bagi mereka di sekolah induk (maupun tempat kegiatan belajar).

“Siswa cenderung mendapatkan pembelajaran individual oleh guru. Kami tidak dapat menjamin siswa belajar mandiri di rumah. Akibatnya, kami memberikan pola pembelajaran secara tutorial sekaligus melakukan evaluasi (penilaian) belajar saat itu juga,” bebernya seraya menyebutkan siswa SMP Terbuka sangat tidak efektif diberikan tugas untuk dipelajari di rumah.

Minat belajar yang rendah juga masih ditemui saat menjelang ujian nasional (Unas). Tidak jarang, pihak penyelenggara harus menjemput siswa untuk memastikan yang bersangkutan hadir mengikuti ujian.

“Minat belajar yang rendah membuat mereka juga enggan mengikuti ujian nasional. Partisipasi siswa SMP Terbuka dalam belajar justru mengalami peningkatan jika diming-imingi pencairan beasiswa (BOS, red),” sesal mantan kepala SMP Terbuka SMPN 1 Pakisaji, Drs Sukodono.

Karena kondisi di atas, agar mencapai hasil maksimal pola pembelajaran di SMP Terbuka dirubah mengikuti pelayanan pendidikan di SMP formal. Sebagian penyelenggara SMP Terbuka mengaku akan menerapkan pola ini, secara penuh maupun semi-formal.

”Tahun pelajaran ini pembelajaran tidak lagi dilakukan secara tutorial. Sekarang siswa diharuskan mengikuti pembelajaran setiap hari selama tiga jam setelah jam pelajaran sekolah reguler usai,” beber Agung.

Tidak seperti di SMPN 2 Kepanjen, pihak SMP Terbuka di SMPN 1 Wagir dan SMPN 1 Pakisaji memasukkan siswanya bercampur dengan siswa reguler dengan jam pelajaran sama seperti SMP formal.

”Kami membagi siswa SMP Terbuka ke dalam kelas-kelas reguler untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama. Harapannya, siswa akan lebih termotivasi belajar dan tidak mendapatkan kesulitan belajar karena memperoleh tutor sebanya (peer-teaching, red),” kata kepala SMPN 1 Wagir, Drs Parkiyo.
LihatTutupKomentar