Rasakan, Nikmati Dan...

Rasakan, Nikmati Dan...

Rasakan, Nikmati Dan... Adalah satu kisah menceritakan bahwa Nashrudin Hoja disambati oleh sahabatnya yang bodoh, mengeluhkan rumahnya yang sumpeg karena kecilnya. Sedangkan anaknya kecil-kecil berjumlah 7 gundhul. Nashrudin lantas memberikan nasehatnya :

“Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor!”

Nasehat itu dituruti juga. Maka setelah seminggu, sahabat si Nashrudin itu dateng lagi. Keluhannya tambah menyayat hati. Soalnya rumah yang sudah sumpeg itu ternyata tambah makin sumpeg. Tapi si Nahsrudin menenangkan. :

“Sabar, namanya juga proses, jangan ingin cepat melihat hasil. Aku kan belum selesai kasih nasehat. Setelah kau pelihara ayam, peliharalah 5 ekor burung dara di rumahmu.”

Si sahabat itu nurut juga. Dan bisa ditebak, minggu berikutnya dia tambah misuh-misuh pada si Nashrudin. Rumahnya tambah gak karu-karuan. Ayam dan burung dara bikin tambah kaco ruangan rumahnya. Si Nashrudin menenangkan :

“Aku jamin dalam sebulan ke depan kau akan tenang tinggal di rumahmu. Tapi peliharalah 2 ekor kambing di rumahmu.”

Nasehat itu dijalaninya juga. Minggu berikutnya si sahabat bukan hanya misuh-misuh, tapi juga marah-marah hebat. “Gara-gara nasehatmu, rumahku jadi tambah berantakan, tambah sempit dan tambah sumpeg. Teman macam apa kau ini. Kambing, ayam dan burung bikin tambah ruwet isi rumah!” bentaknya penuh emosi.

Nashrudin kembali menenangkan, “Aku kan bilang butuh waktu sebulan. Coba sekarang kau jual ayam-ayam mu itu. Minggu depan kita lihat keadaan rumahmu.”

Minggu berikutnya si sahabat dengan tersenyum bilang pada Nashrudin. “Betul juga nasehatmu. Rumahku sekarang sudah agak longgar. Adakah nasehatmu berikutnya?”

“Ya. Sekarang juallah burung-burung daramu. Kita lihat minggu besok gimana kondisi rumahmu.”

Demikianlah seterusnya, sampai akhirnya Nashrudin memerintahkan sahabatnya menjual kambingnya. Setelah menjual kambingnya, maka si sahabat itu berkata, “Rumahku sekarang longgar sekali. Aku bisa tinggal dengan lapang dan longgarnya. Terimakasih atas nasehatnya wahai kawanku.”

Cerita itu simbah baca saat masih kecil di satu majalah anak-anak. Banyak pesan yang bisa disampaikan dari kisah Nashrudin di atas. Bahwa adakalanya kita mengeluhkan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas kita keluhkan. Karena keluhan kita itu seringkali datang karena kurangnya kesyukuran kita atas karunia yang kita terima. 

Sahabat Nashrudin itu dengan kondisi rumah yang sama, awalnya mengeluh hebat karena sempitnya. Namun akhirnya dengan kondisi rumah yang sama juga, dia merasa longgar dan lapang.

Nabi saw berpesan, agar kita bisa mensyukuri nikmat yang kita terima maka kita seyogyanya mau melihat kondisi orang lain yang lebih jelek keadaannya. Jangan malah melihat orang yang posisi keduniaannya lebih baik dari kita. Karena jika begitu, kita tak bakalan bisa bersyukur. 

Sahabat si Nashrudin itu tak hanya melihat, tapi juga merasakan bagaimana sumpegnya kondisi rumahnya manakala ditambahi macem-macem penghuni baru. Ini yang namanya empati riil. Ikut merasakan langsung. Tak hanya melihat.

Memang kemampuan untuk melihat, merasakan dan turut berempati mulai musnah di negeri ini. Apalagi mereka yang memiliki jabatan dan posisi penting. Saat sebagian kalangan melihat betapa ringannya hukuman buat pemerkosa, maka mereka sempat mengusulkan, “Agar hakim mau memvonis berat tindakan pemerkosa, maka sebaiknya anak perempuan hakimnya diperkosa dulu.” Ide ngawur memang, tapi cukup beralasan.

Maka agar anggota Dewan yang terhormat itu mau melirik kondisi rakyat dan mau memikirkannya, seharusnya ada program sebulan sekali atau bisa juga lebih, dimana anggota dewan disuruh nginep selama 3 hari di rumah-rumah rakyat yang mlarat kesrakat. Agar mereka merasakan gimana tho susahnya rakyat menempuh hidup, ikut tidur kedinginan, ikut dibrakoti nyamuk, ikut ngising di WC umum yang ambune ra umum, ikut dipalak preman dan pungli dlsb.

Ide ngawur mungkin, tapi cukup beralasan. Karena rupanya ada satu kata dalam kamus anggota dewan yang sudah dihapus dan tak mungkin dicantumkan lagi, yakni empati.

Tapi sudahlah, itu mereka. Bagaimana dengan diri kita sendiri. Kalau kita masih cukup punya rasa empati pada kehidupan kaum yang ekonominya di bawah kita, selain bisa menumbuhkan rasa belas kasih di hati kita, maka kita bisa menumbuhkan rasa syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan pada kita semua. Memang benar apa yang disabdakan kanjeng Nabi saw...
LihatTutupKomentar