Efek Pygmalion Daya Magis Seorang Guru

Efek Pygmalion Daya Magis Seorang Guru

Efek Pygmalion Daya Magis Seorang Guru - Harapan positif guru berpengaruh kepada prestasi siswa yang positif. Demikian sebaliknya harapan negatif guru akan berpengaruh kepada pencapaian siswa yang negatif. Inilah yang dikenal dengan siklus pendidikan Efek Pygmalion (Pygmalion Effect). Guru ternyata memiliki daya magis. Benarkah demikian?

Pygmalion adalah tokoh seperti yang dikisahkan dalalm buku penyair Romawi Ovidius berjudul Metamorphoses. Pygmalion adalah seorang pematung yang jatuh cinta dengan patung gading buatannya sendiri. Terpikat dengan keindahannya, Pygmalion memohon para dewa untuk memberinya seorang istri serupa patung itu. Para dewa mengabulkan permintaan tersebut dengan menghidupkan patung tersebut untuknya.

George Bernard Shaw kemudian mengadopsi cerita Pygmalion untuk judul dramanya dengan mengisahkan Profesor Henry Higgins yang yang membantu seorang wanita “bukan apa-apa” bernama Eliza Doolitle untuk menjadi seorang wanita terhormat dan berkelas. Hal ini terutama dilakukan sang profesor dengan memperlakukannya benar-benar seperti memperlakukan seorang wanita terhormat. Akhirnya si wanita benar-benar menjadi wanita seperti harapan sang profesor tersebut.

Sikap sang profesor diatas dikenal dengan istilah efikasi diri (self-efficacy). Efikasi diri adalah keyakinan akan kemampuan individu untuk menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif, dan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasi.

Secara ilmiah penelitian tentang efek pygmalion dilakukan oleh Rosenthal dan Jacobsen dalam bukunya “Pygmalion In The Classroom: Teacher Expectation And Pupils’ Intellectual Development”. Buku tersebut didasarkan atas percobaan dua kelompok siswa yang kemampuan intelektualnya sama. Namun diberikan keyakinan kepada guru yang mengajar kedua kelompok bahwa kelaompok A lebih cerdas daripada kelompok B. 

Selama delapan bulan masa percobaan, tanpa sadar guru yang mengajar kedua kelompok itu memperlakukan dengan cara yang berbeda. Karena guru meyakini siswa di kelompok A lebih cerdas maka guru memberikan harapan prestasi yang tinggi. Sedangkan pada kelompok B yang dianggap biasa saja harapan prestasinya juga biasa.Ilustrasi: Guru inspiratif memiliki daya magis.

Hasil akhir penelitian tersebut menggambarkan prestasi sesuai keyakinan guru. Siswa dari kelompok A lebih berprestasi dari guru kelompok B. Dengan demikian ketika guru mempercaya siswa yang diajar memiliki potensi intelektual luar biasa maka siswa akan memperoleh prestasi yang luar biasa. Sebaliknya ketika guru perpikir bahwa siswanya memiliki potensi biasa saja maka siswa akan memperoleh prestasi yang biasa saja.

Mengapa gejala ini terjadi? Karena guru yang berkeyakinan siswa yang diajar lebih cerdas dan mampu berprestasi maka guru menyediakan bahan-bahan ajar dan metode yang lebih berkualitas. Demikan pula sebaliknya guru yang berkeyakinan siswa yang diajar tidak cerdas dan tidak mampu maka guru menyediakan bahan ajar dan metode yang kurang berkualitas.

Dengan demikian berdasarkan penelitian ini keyakinan guru terhadap peserta didik akan mempengaruhi hasil belajarnya. Implementasi penelitian ini untuk guru perlu melakukan hal berikut ini:

  • Perlakukan siswa dengan cara yang sama dengan keyakinan semua siswa memiliki potensi yang unggul
  • Potensi siswa yang berbeda harus dipandang sebagai keunikan dan masing-masing dapat dikembangkan sesuai keunikannya
  • Guru harus memupuk pikiran positif dan berharap semua siswa akan berkembang secara positif
  • Tanamakan rasa bangga kepada peserta didik untuk setiap hal yang dicapai. Misalnya dengan mengatakan, “Saya bangga padamu” , “Dirimu hebat”, “Hebat”, “Pekerjaanmu bagus sekali” , “Luar biasa” dan sejenisnya.
  • Terimalah kegagalan siswa sebagai bagian belajar dan tetap memberi kesempatan untuk mecoba untuk menumbuhkan kepercayaan diri

Pada akhirnya perlu digarisbawahi bahwa harapan guru kepada siswanya merupakan kekuatan doa. Seperti halnya Johann Wolfgang von Goethe mengatakan “Perlakukanlah seseorang sebagaimana yang dimungkinkan oleh potensinya, maka pasti ia akan menjadi demikian tapi perlakukanlah seseorang sebagaimana dirinya terlihat maka ia pasti akan menjadi lebih jelek”.

Seorang guru pasti berdoa yang terbaik untuk anak didiknya. Bukankah begitu?
LihatTutupKomentar