Pramuka Takkan Mati oleh Gempuran Budaya

Pramuka Takkan Mati oleh Gempuran Budaya

Pramuka Takkan Mati oleh Gempuran Budaya - Semenjak digagas kali pertama oleh seorang bangsawan Inggris, Lord Boden Powell, gerakan kepanduan terus mengalami pergesaran. Apalagi era sekarang, disaat gempuran budaya pop telah menjalar pada nadi generasi muda remaja. Tak urung, gerakan kepanduan, yang di Indonesia dikenal sebagai Praja Muda Karana (Pramuka) ini ‘hanya’ banyak diminati oleh anak usia SD, paling banter oleh siswa SMP.

Pola pikir masyarakat mengenai Pramuka juga terbentuk oleh 32 tahun pemerintahan orde baru. Pemahaman dan pembinaan konvensional, serta beberapa kebijakan yang dianggap terhadap represif, ikut menyurutkan citra Pramuka yang sebenarnya responsif membentuk kemandirian. Pramuka tidak lagi populer dikalangan siswa SMA, lebih-lebih mahasiswa yang berada dalam lingkungan pemikiran lebih dinamis.

Namun semua itu tidak berlaku bagi Agus Suharmaji. Saat usia Pramuka Indonesia jatuh pada angka 47 tahun, ia masih tetap setia dan bangga dengan seragam coklatnya. Lengkap dengan atribut kupluk dan dasi tabung merah putih. Upacara hari jadi Pramuka dan Kemerdekaan RI, menegaskan kesetiannya pada kepanduan ini. Ia hadir, masih seperti tahun-tahun sebelumnya, berseragam pramuka.

“Pramuka itu tidak mati. Tidak juga tenggelam oleh budaya pop. Bahkan sekarang ini lebih hebat lagi. Pramuka tidak lagi sekedar acara kemah dan lintas alam. Pramuka juga diberikan dengan basis teknologi. Bahkan presiden pun mengakui Pramuka adalah organisasi yang terbukti mampu menjadi penjaga moral pemuda,” tutur Andalan Cabang Kwarcab Pramuka Kota Kediri saat ditemui usai upacara hari jadi Pramuka.

Keterlibatan Agus dalam Pramuka merupakan sejarah panjang. Saat duduk dibangku SD, Pramuka dikenalkan sebagai bagian ekstra kurikuler. Saat itu pula ia mengaku langsung jatuh cinta pada kegiatan yang mengajarkan berbagai kepiawaian ini. Sejak saat itu, meskipun jenjang demi jenjang pendidikan dilalui, pramuka tidak pernah lepas dari aktivitasnya. Jika dihitung, sudah 34 tahun Agus menggeluti pramuka.

Berbincang mengenai angka, usia 47 tahun gerakan Pramuka Indonesia juga memiliki makna khusus bagi Agus. Angka yang sama juga menjadi catatan usianya saat ini. Jatuh temponya pun tidak berselisih jauh, hanya terpaut empat hari lebih cepat. Kecintaan Agus pada pramuka bukan sekadar cinta buta, suka-suka dalam satu waktu, dan melupakannya kemudian. 

Agus benar-benar menemukan kekuatan pada seragam kebanggaannya itu. Simak saja rentetan karirnya. Agus hanya membutuhkan satu tahun masa tunggu dari CPNS menjadi PNS guru, pada 1982. Hingga tahun 1999, ia berkiprah sebagai guru sekaligus pembina pramuka di tiga sekolah dasar berbeda. Ketiganya mencatatkan prestasi ciamik, baik akademik siswa maupun kegiatan kepramukaan itu sendiri.

Lepas dari tahun 1999, karena dukungan kiprah pramukanya, ia mulai dipercaya menjadi kepala sekolah.

SD Singonegaran II, sebuah SD kecil menjadi sekolah pertama yang dipimpinnya. Tujuh tahun berselang, Agus dipercaya menghadle sekolah yang lebih besar. SDN Banjaran II, yang merupakan satu bagian dari SD favorit Banjaran komplek, dipercayakan kepadanya. Namun jabatan ini tidak lama, hanya satu, sebelum akhirnya Agus menghuni salah satu ruang di Dindik Kota Kediri sebagai Kasi PLS.

“Salah satu yang dibiasakan dalam pramuka adalah metode kerja yang runtut, kinerja otimal, dan disiplin. Penuh tanggung jawab dan percaya diri jika diberi tanggung jawab. Jika dijiwai dengan benar, akan membawa manfaat. Bagi saya, etos itu yang saya terapkan dalam pekerjaan. Cara pikir dan cara kerja harus logis, runtut, dan tepat waktu,” ujar Agus.
LihatTutupKomentar