Disiplin Tanpa Agama

Disiplin Tanpa Agama

Disiplin Tanpa Agama - Minggu kemarin simbah membekam 2 pasien. Saat membekam inilah datang seorang sohib yang menceritakan satu cerita yang bagus untuk diambil pelajarannya. Sohib ini menceritakan kehidupan pamannya yang orang batak marga Lubis. Pamannya ini semasa mudanya pernah tinggal serumah dengan Jendral A.H. Nasution dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Satu hal yang patut dicontoh dari pak Lubis ini, yakni kedisiplinannya memegang kata-kata. Kamu adalah apa yang kamu katakan, demikian pedoman hidupnya. Maka di dalam hal memegang omongan, pak Lubis ini nomor satu.

Satu contoh, pernah pak Lubis ini datang ke rumah saudaranya dan berniat meminta ijin memakai kamar mandinya besok hari jam 5 sore. Dia bilang, “Bolehkah saya memakai kamar mandi anda besok jam 5 sore? Jikalau tidak bisa tak apalah. Namun jika boleh, saya akan ke sini besok sore.” Oleh saudaranya dia diijinkan.

Besok harinya dia datang jam 5 kurang 10 menit. Manakala sampai jam 5 sore, kamar mandi yang dijanjikan masih dipakai anggota keluarga saudaranya, maka dengan nada marah dia berkata, “Kalian telah berkata bahwa jam 5 sore ini saya diijinkan memakai kamar mandi ini, maka saya minta sekarang kalian kosongkan kamar mandi ini segera.”

Pernah Pak Nas menghadiahkan dia sebuah mobil. Maka mobil itu senantiasa dipakainya kemanapun dia butuh. Suatu saat Bu Nas sangat membutuhkan mobil untuk satu keperluan, sementara mobil pak Nas sedang dipakai. Dilihatnya mobil pak Lubis pemberian Pak Nas ini nganggur. Maka Bu Nas segera memakainya untuk pergi ke suatu keperluan.

Sore harinya, saat makan bersama keluarga, pak Lubis meminta waktu untuk bicara. Setelah diijinkan Pak Nas dia bicara, “Saya merasa hari ini Bu Nas telah melanggar aturan. Beliau memakai mobil saya tanpa seijin saya. Betul itu mobil pemberian bapak. Tapi itu adalah mobil saya. Seandainya kalian mau mengambil mobil itu silakan saja. Namun selama itu masih mobil saya, kalian tidak berhak memakainya tanpa seijin saya.”

Padahal pak Lubis ini tinggal di keluarga itu hanya nebeng, dibiayai hidupnya, dan semua kebutuhannya, termasuk mobilnya itu. Namun dengan berbesar hati Bu Nas meminta maaf atas kesalahannya tersebut.

Sohib simbah -sang keponakan- , pernah dipinjam mobilnya. Pak Lubis bilang, ”Kalau boleh aku mau pinjam mobil engkau besok jam 4 sore. Aku telah minta Andri, adikmu untuk menyetir mobilmu. Boleh apa tidak?” Maka sohib simbah ini mengiyakan, dan menyediakan mobil tersebut keesokan harinya.

Tepat jam 4 kurang 5 menit pak Lubis ini datang ke rumah sohib simbah. Dia bilang, “Maaf beribu maaf, sebelumnya aku telah membuat kau membatalkan segala acaramu dengan keluargamu, agar bisa mobilmu kupakai jam 4 ini. Namun adikmu si Andri itu ingkar janji. Dia janji jam 4 kurang 15 menit bisa sampai ke rumahku, tapi sampai sekarang belum muncul. Maka aku batalkan niatku meminjam mobilmu jam 4 ini. Sekali lagi maaf.”

Wadhuh… betapa disiplinnya. Tertib, tertata, memegang kata-kata sampai ke titik komanya. Bahkan saat dimintai tolong untuk memberi katebelece untuk keponakannya pun, dia tidak mau. Saat sohib simbah meminta digolkan jadi pegawai di suatu instansi, dikarenakan pak Lubis ini dekat dengan pemegang kebijakan jawabannya…

”Aku sudah dengar kata-kata kau dengan jelas. Dan aku harap kau juga dengar kata-kataku dengan jelas sejelas aku dengar kata-kata kau. Camkan…!! Rumahku ini bukan tempat mencari pekerjaan. Darimana kau masuk tadi, maka dari situ kau hendaknya keluar sekarang…!!” Padahal pak Lubis ini dulu sekolahnya dibiayai oleh bapaknya sohib simbah ini.

Di akhir hayatnya pak Lubis ini dilanda kebangkrutan dan kemiskinan. Di suatu sore sohib simbah ini didatangi. Dia berkata, “Kau tahu, hari-hari terakhir ini nyamuk lagi banyak. Aku tak punya uang buat membeli obat nyamuk. Bisakah kau membelikan aku obat nyamuk untuk aku?” Sohib simbah pun mengiyakan dan membelikan sekaleng Baygon.

Esok harinya warga sekomplek geger, karena mendapati pak Lubis sudah tergeletak tak bernyawa di samping Baygon cair yang telah ditenggaknya. Akhir tragis nasib seorang yang disiplin memegang kata-kata, namun dikarenakan tak memiliki pemahaman agama mengakhiri hidupnya dengan tragis, dikarenakan tak kuat menahan derita hidup.

Simbah heran, orang-orang yang sekarang mengaku-ngaku pemuka agama seringkali memberikan contoh yang buruk perihal kedisiplinan dan memegang kata-kata. Pengajian jam 7 molor jadi jam 9 itu wajar. Ustadz dan kyai telat sudah biasa. Mengajari hidup sederhana, tapi kyai-kyai dan para ustadz malah ndugem. Ulang tahunnya dirayakan bak selebritis. Mau niru siapa kita-kita ini……..
LihatTutupKomentar