KYAI PASPOR IJO

KYAI PASPOR IJO

Pengalaman ini terjadi sekitar tahun 1995, manakala simbah dan para konco bersilaturahim ke satu Pesantren di pucuk Gunung Lawu sana. Bermula dari rasa penasaran adanya satu murid pesantren di sana yang bikin onar merusak garapan TPA simbah dan konco-konco. Santri ini rambutnya gondrong dawul-dawul macam Buto Rambut geni, tapi gaweane dzikir nyampe puluhan ribu kali.

Simbah pernah nanya, Kok rambutnya gondrong kang?”
Jawabnya,”Wah, maaf mbah… gak ada tukang cukur yang guntingnya tedhas menggunting rambut saya mbah. Si tukang cukur harus dapet ijin dulu dari Pak Kyai.” Lhadalah… iki rambut opo kawat bendrat?

Dari sinilah maka simbah dan beberapa temen simbah dolan ke tempat Pak Kyai di lereng Gunung Lawu tersebut. Sesampai disana, di pintu gerbang Pesantren tertulis “Area Wajib Peci”. Wah musti pake peci nih. Karena sesampai di sana waktu sholat, maka kami sholat dulu. Dan kami makmum dengan imam santri lokal pesantren itu.

Kapok deh…. Sholatnya kilat khusus, jengkang-jengking cepetnya setengah mati. Mungkin baca Al Fatihahnya satu tarikan napas kali. Begitu selesai sholat dzikirnya luaaamaa pol. Karena kami tamu, maka kami tinggalkan arena dzikir tersebut. Kami segera mencari santri kenalan simbah yang nyantri di Pesantren tersebut. Nama Pesantrennya Jannatul Ma’wa. Disitu ada kuburan Ki Condro Mowo yang konon merupakan pembantu setia Prabu Brawijaya. Suasananya dingin, dan keliatan sekali suasana zuhud para santrinya. Hidup ala kadarnya, terkesan menjauhi keduniaan. Kesan angker dan wingit lebih kental manakala simbah lihat satu komplek pekuburan yang dikeramatkan.

Uniknya, di situ para santri menempati kapling berupa rumah alang-alang berukuran 3X2 meter persegi, yang ditempatkan di atas pohon. Jadilah rumah pohon mungil. Maka simbah masuk ke salah satu rumah pohon yang ditempati konco simbah yang nyantri disitu. Simbah diterima dan disuguh makan siang ala kadarnya. Kemudian dijanjikan akan dihadapkan sowan ke Pak Kyai.

Betul juga, selepas makan siang, simbah dan rombongan diantar ke Pak Kyai. Luar biasa, si santri begitu mendekati rumah pak Kyai langsung berjalan sambil ndodhok. Tiap tiga langkah laku nyembah, sambil terus ndodhok simpuh. Sesampai di depan pintu rumah, si santri bersimpuh dan uluk salam. Langsung Pak Kyai mempersilakan kami masuk.

Anehnya si santri ketika undur diri juga laku mundur dnodhok sambil nyembah-nyembah ke pak Kyainya… Bujugbuneng, lha kok ketoprakan kayak gini tho pesantrennya. Kami diterima dengan ramah oleh Pak Kyai dan kami memperkenalkan diri sebagai mahasiswa kedokteran yang ingin bersilaturahmi kepada ulama.

Wah, kyainya seneng banget. Setelah basa-basi sebentar tiba-tiba Pak Kyainya menawarkan kami sesuatu.

“Kalian gak tertarik mau naik haji?” tanyanya.
“Wah, entar kalo ada rejeki pak Kyai,” jawab kami.
“Nanti kalo naik haji, pak Kyai uruskan saja. Pake passport hijau saja, murah dan saya jamin aman dan tak bermasalah. Apa ada yang mau pesen sekarang…?” ….. Glodhaaak….

Ha kok malah bisnis kaji paspor ijo tho pak Kyai ki..? Lha penampilannya saja zuhud, pesantrennya saja jauh dari peradaban. Letaknya paling tinggi di lereng Gunung, gak ada desa lagi di atas pesantren itu. Tapi kok ya kelakon mingsih tetep saja bisnis model ginian. Padahal santri-santrinya nyembah-nyembah hormat sama pak Kyainya.

Setelah dirasa cukup sore itu simbah serombongan pulang lagi dengan menyimpan banyak tanda tanya.
LihatTutupKomentar