Amplop Sang Ustadz

Amplop Sang Ustadz, Tahun 2001 saat pertama simbah mencoba peruntungan di Jakarta, simbah bertetangga dengan seorang ustadz anggota suatu Korps Dai
Amplop Sang Ustadz

Amplop Sang Ustadz - Tahun 2001 saat pertama simbah mencoba peruntungan di Jakarta, simbah bertetangga dengan seorang ustadz anggota suatu Korps Dai atau Mubaligh. Melihat simbah suka wara-wiri di Masjid simbah ditawari untuk menjadi anggota korpsnya. Dengan halus simbah menolak. 

Bukannya simbah gak mau berdakwah, tapi ajakan sang ustadz ini diembel-embeli iming-iming uang amplop sebagai motivasi agar simbah mau bergabung.

Wah, pak dokter, hasilnya bagus lho. Di telkom saja sekali naik mimbar jumat minimal dapet tigaratus rebu lho. Belum di Bogasari, lumayanlah Apalagi titelnya saja dokter, bisa lebih gede itu.. begitu rayunya.

Simbah bukannya tertarik tapi malah mual denger omongannya. Apalagi setelah itu simbah diberi kartu nama kecil lengkap dengan nama, alamat , nomor telepon dan HP sang ustadz. Ada titel Drs disitu. Mulanya simbah anggap biasa. Jadi luar biasa manakala simbah dikasih tahu kalo sang ustadz itu ternyata hanya tamatan aliyah saja. Lha DRS nya itu apa ya? Dodol Roti Surungan, apa Dokterambles, atau Dagelan Rodo Saru??

Ditambah lagi, ternyata konco-konco mubalighnya ternyata setali tiga uang juga. Lha kalo pas kebagian masjid yang honornya kecil mereka ngeluh wah kok masjid ini lagi gua, kemarin kan udah! Ganti dong yang lain! Ini biasanya terjadi jika honor dari masjid itu setara dengan limapuluh rebu atau paling banter tujuhpuluh lima ribu.

Lha padahal ada rekan sejawat simbah yang praktek dokter di daerah Tangerang sono yang hanya dihonori tiga rebu ripis per pasien lho. Sampe-sampe simbah suka becandain kalo ada pasien datang. Galo Dul, ono tambalan bocor teko, gek diayahi kono.. Lha sak pasien setara dengan nambal ban bocor honornya. Melas temen tho Dul..dul..

Gara-gara watak mubalighnya kayak gini, pernah satu masjid kosong, gak jadi jumatan hanya karena gak ada khatib/mubaligh yang mau singgah disana. Lha honornya kecil. Itu pun kalo pas ada. Yah semedhot rasanya. Yang salah siapa ini.

Simbah pernah ngambah daerah alas Pacitan yang arealnya susah ditembus mobil dalam rangka dakwah. Di sono ketemu yang namanya masjid mati yang Sudah gak diambah manungso lebih dari 3 tahun katanya. Penduduknya muslim semua, tapi gak ada yang punya ilmu agama. Modinnya saja saat disuruh ngimami ngajinya grothal-grathul. 

Wah payah, ini kalo ditanya apa artinya asholatu imadudiin mesti gak paham. Mungkin asal njawab saja Sholat niku kedah nduding atau Sholat niku tugase pak Modin wis kaco tenan.

Lha kalo model mubaligh di negeri ini semodel dengan ustadz tetangga simbah semua, pastilah dusun-dusun mblusuk alas itu gak bakalan dirambah ilmu agama. Gak ada yang mampu mbayar ustadnya.

Simbah pernah ditawari ngisi buka bersama di suatu perusahaan susu terkenal di negeri ini. Pegawainya datang ke rumah, menawarkan job ini kepada simbah. Intinya simbah diminta memberikan tausiyah bin pitutur buat para karyawannya menjelang buka bersama. Simbah bilang pikir-pikir dulu, karena waktu sore pasien pas banyak-banyaknya. Kasihan jadi terlantar.

Karena simbah masih pikir-pikir, sang karyawan/pegawe ini, menambahi, Sudahlah dok, sebentar saja, yang penting acara berjalan lancar. Toh ini sekedar ngabisin anggaran saja, sudah terlanjur dianggarkan kok. Kalo batal kan nanti kita-kita dimarahin sama boss. Buat dokter ada deh honornya, sudah kita siapin. Yang penting pengajian sebentar, lalu udah.

Waduh... Gara-gara omongan terakhir ini simbah jadi gak semangat. Simbah langsung tolak tawaran itu. Ha wong ngaji taklim cuma formalitas ngabisin anggaran buat apa? Pantesan saja moral manusia-manusia di negeri ini amburadul semua. Ustadznya Gendeng, muridnya Sableng. Ha kok kayak lakon cerita silat saja.. Mudah-mudahan yang kayak ginian minoritas saja di negeri ini. Kalo yang semacem ini ternyata mayoritas.waah.. Kiamat sudah dekat coy.
LihatTutupKomentar