Menyelenggarakan PAUD Berbasis Keluarga

Menyelenggarakan PAUD Berbasis Keluarga

Menyelenggarakan PAUD Berbasis Keluarga - Ke depan, PAUD di Indonesia diharapkan mampu melayani seluruh anak usia 0-6 tahun. Untuk mencapai itu kelembagaan PAUD harus menjangkau seluruh sasaran. Didukung pula dengan pendidik yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Tidak ketinggalam dukungan pendanaan yang bisa digali dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), alokasi dana desa, program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM), dan sumber lain. 

Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa keluarga yang menjalin komunikasi dan terlibat dalam program PAUD di lembaga memberikan dampak yang mengagumkan, selain membantu lembaga tetapi yang lebih penting membantu anak siap belajar dan mencapai prestasi yang lebih baik di jenjang pendidikan lebih lanjut. Hal ini lebih dipahami mengingat jumlah waktu anak berinteraksi di dalam keluarga lebih banyak dibanding di lembaga PAUD.

Sedangkan para ahli perkembangan, Piaget, Vigotsky, maupun para ahli tentang otak sepakat bahwa anak belajar saat berinteraksi dengan lingkungan dan orang dewasa. Apabila keluarga memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana pengasuhan yang dapat melejitkan potensi kecerdasan jamak anak, maka dapat dipastikan anak-anak Indonesia siap menjadi insan cerdas komprehensif yang siap berkompetisi dengan bangsa manapun.

PAUD berbasis keluarga telah digulirkan sejak tahun 2010, dan telah dilaksanakan di banyak provinsi. Banyak model dilakukan oleh berbagai lembaga, namun belum ada prototipe model PAUD berbasis keluarga yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga PAUD yang akan menyelenggarakan program tersebut.

Program PAUD Berbasis keluarga pada dasarnya terbagi dalam 3 kelompok kegiatan yakni :



1. Pendidikan untuk orang tua


Pendidikan untuk orang tua merupakan pembekalan terhadap orang tua tentang hal-hal yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak serta pemberian stimuli yang tepat untuk mendukung anak. Kegiatan dapat dilakukan melalui: (a) Seminar(b) Kelas orang tua, dan (c) Diskusi terarah

2. Pelibatan orang tua


Pelibatan orang tua merupakan pola pemberian pengalaman kepada orang tua tentang apa, bagaimana anak belajar. Pelibatan orang tua juga dapat mengoptimalkan orang sebagai nara sumber yang sesuai dengan tema yang sedang dibahas. Kegiatan pelibatan orang tua dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan:

  • Diskusi guru dengan orang tua dalam penyusunan kurikulum kegiatan pembelajaran
  • Relawan sebagai tutor, mentor, penyelenggara kegiatan hari keluarga
  • Narasumber yang terkait dengan tema dan kegiatan lembaga
  • Memberikan masukan terhadap program lembaga. dll

3. Pemberdayaan orang tua


  • Mengoptimalkan peran orang tua dalam pembelajaran dan pengasuhan anak di rumah
  • Membuat APE dengan bahan yang ada di rumah untuk mendukung aktivitas bermain dan pengasuhan yang bermakna bagi anak. 

Ketiga kegiatan ini merupakan satu kesatuan dimana tujuan akhir yang ingin dicapai adalah memberikan layanan pengasuhan yang mendukung kematangan perkembangan anak sehingga anak memiliki kesiapan untuk sekolah.
LihatTutupKomentar