Pendidikan harus bil Hal Tidak Cukup bil Lisan

Pendidikan harus bil Hal Tidak Cukup bil Lisan

Pendidikan harus bil Hal Tidak Cukup bil Lisan - Banyak orang mengenalnya sebagai pemilik Yayasan Al Falah yang menyelenggarakan lembaga pendidikan anak usia dini bernama TK Al Falah, di Oro-Oro Ombo Kota Wisata Batu. Nama H Zainul Arifin makin dikenal, terutama dalam sebulan terakhir, setelah mendatangkan pesawat Jenis HS 748 buatan Inggris ke sekolah. Uniknya, pesawat itu bakal disulap sebagai ruang kelas dan ruang belajar bagi publik.

Selain dari sisi ekonomis yang beda tipis dengan biaya pembangunan kompleks gedung baru, langkah dari sosok yang akrab disapa Haji Zainul ini sarat unsur pedagogis. Yakni mewujudkan misinya untuk menghadirkan model pembelajaran bil hal (perbuatan) dibanding bil lisan (ceramah). Menurutnya, model bil hal dalam pendidikan harus makin dikembangkan untuk bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.

Ditemui Mas Bukhin dari media koran pendidikan di kediamannya, Perumahan Permata Juanda Blok C No 10, Haji Zainul bertutur panjang tentang perjalanannya terjun ke dunia pendidikan. Meski tinggal di Sidoarjo, bukan halangan baginya untuk membantu layanan bagi masyarakat Kota Batu. Termasuk beberapa langkah besarnya yang ingin digagas pada masa mendatang.

Apa yang Anda fikirkan saat membeli sebuah pesawat yang secara teknis masih bisa diterbangkan, namun Anda sulap sebagai ruang belajar di TK Al Falah?

He he, soal beli pesawat, ini bukan yang pertama. Di rumah ini, saya masih simpan dua mesin pesawat yang masih bisa digunakan. Ya, namanya juga orang bisnis... ha ha. Untuk pembelian yang terakhir itu memang sengaja dibuat untuk ruang belajar bagi anak didik di TK AL Falah Batu. Kami memang ada rencana untuk membangun kompleks gedung baru dan setelah dihitung biayanya, kok tidak jauh beda dengan menyulap badan pesawat itu sebagai ruang kelas. Toh, akan ada manfaat lain yang lebih besar dari hal itu.

Manfaat seperti apa yang Anda bayangkan?

Paling tidak, ya keren... he he. Lha wong SMK Penerbangan saja belum tentu punya pesawat untuk kegiatan praktik, ini sebuah TK saja punya. Manfaat lainnya tentu bisa menjadi media belajar yang menarik bagi anak-anak, khususnya mengenal dunia penerbangan. Sebab yang kami desain sebagai ruang kelas itu nanti pada bagian ruang penumpang saja. sementara kokpit pesawat akan kami biarkan seperti aslinya agar bisa menjadi bahan belajar.

Apa bisa juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan saja bagi anak didik TK Al Falah?

Iya, kami sudah memikirkan itu. Nantinya setelah resmi kamu buka pada akhir bulan ini, setiap akhir pekan akan dibuka bagi semua kalangan masyarakat untuk belajar, khususnya bagi anak-anak. Modelnya sedang kami sesuaikan sebagai bagian dari pembelajaran. Nantinya tidak akan ditarik biaya untuk belajar di pesawat ini. Semua anak yang ingin masuk hanya disyaratkan bisa membaca doa-doa harian yang ia kuasai, atau membaca ayat-ayat pendek pada Alquran. Itu tiket masuknya.

Kenapa tiketnya itu doa, apa yang Anda harapkan?

Waduh, sebenarnya lebih pribadi sifatnya, he he. Saya itu kerap berfikir, apa yang salah dengan generasi muda saat ini; yang lebih cepat marah, yang berkurang nilai sosialnya, dan makin merosot moralnya? Bapak saya itu guru ngaji dan saya ingat betul nasihat beliau bahwa doa itu punya kekuatan besar menjaga moral manusia. Karena itulah, baik di TK Al Falah maupun hal-hal lain, saya ingin selalu menghidupkan budaya berdoa ini, khususnya pada anak-anak.

Anda juga mengenyam pendidikan berbasis keguruan (PGAN 4 Tahun –red). Adakah kaitan antara penggunaan pesawat sebagai ruang belajar ini dengan konteks pendidikan?

Kalau dihubungkan, ya pastinya ada. Hanya saya memang sangat memahami kalau dakwah itu bakal lebih mengena bil hal dibanding bil lisan. Saya sangat mempercayai itu, terlebih pada kondisi pendidikan sekarang yang cenderung bil lisan. Menyulap pesawat ini juga menjadi bagian dari model pendidikan atau dakwah bi hal tadi

Saya menduga bahwa Anda tengah menjadikan pendidikan sebagai jalan dakwah. Hanya yang saya fikirkan, Anda tinggal di Sidoarjo tapi kok dakwah nya di Kota Batu?

Ha ha... awalnya saya lebih dulu sudah ada investasi di Batu itu, ya semacam rumah dan vila. Lalu ada beberapa pihak dari SD Al Falah di Tropodo yang mengajak untuk mengembangkan layanan pendidikannya. Ya saya bilang saya punyanya di Batu itu. Lalu dilakukan survei, tidak lama kok, sekitar sebulan, dan diputuskan membeli lahan yang di Oro-Oro Ombo itu. Pertimbangannya, di daerah tersebut belum ada layanan pendidikan, khususnya bagi anak usia dini, yang sifatnya Islami. Ya dari situlah semua bermula.

Dan bagaimana respon masyarakat sekitar?

Alhamdulillah, responnya bagus. Sejak dibuka pada 1992 sampai sekarang selalu menjadi jujugan warga sekitar. Dengan model pembelajaran bil hal yang diterapkan, kami juga bisa bersaing dengan lembaga lain. Lulusan kami juga banyak mendominasi di SD Ngaglik dan SD Muhammadiyah Batu.

Saat seorang pengusaha mulai masuk ke dunia pendidikan, selalu dikaitkan dengan upaya menjadikan layanan pendidikan itu sebagai bagian usaha. Apakah Anda juga melakukan hal yang sama dengan TK Al Falah ini?

Lho, saya ini malah tidak ragu-ragu membongkar susunan yayasan bahkan lembaga, kalau sudah ada pemikiran untuk menarik biaya pendidikan yang tinggi. Nawaitunya dakwah, itu saya pegang sedari awal. Kalau pun untuk sekolah di TK Al Falah itu membayar SPP dan Uang Gedung, itu bagi yang mampu, silakan. Bagi yang lain, ya kita bebaskan dari biaya apapun.

Ke depan, apa sebenarnya yang ingin Anda kembangkan lagi dalam membangun pendidikan yang sudah dirintis sekarang?

Pendidikan itu harus melahirkan orang yang mandiri dan saleh. Orang saleh saja tidak cukup, harus mandiri. Demikian juga orang yang sudah mandiri, harus saleh. Dari sisi kesalehan, sedari dini sudah kami kembangkan lewat pembiasaan doa, doa, dan berdoa. Disamping tentu kegiatan lain yang lebih Islami. Nah, soal kemandirian ini yang terus kita upayakan bisa ditanamkan pada anak didik. Baik yang jenjang usia dini saat ini, atau nantinya pada jenjang-jenjang di atasnya.

Apa yang sudah Anda fikirkan?

Rencananya sih punya lahan sendiri. Dijadikan sawah untuk belajar bertani anak didik. Tanamannya ditanam sendiri, dijaga dan dikelola sendiri, dan panennya juga dikelola sendiri. Bayangan saya nanti ada supermarket sendiri yang menampung hasil-hasil pertanian ini, dan juga hasil produksi lain yang bisa dikembangkan. Kalau pun nanti anak didik sudah lulus dan kembali ke daerah masing-masing, bisa turut mengembangkan hal serupa. Intinya, harus mandiri.

Terakhir, ngomong-ngomong apa kaitan Anda dengan pesawat? Kok tahu saja ada pesawat dijual malah sudah beli beberapa unit?

Ha ha, saya sejak kecil itu sudah menjadi bagian dari Bandara Juanda ini. Waktu sekolah MI, saya sudah bantuk-bantu di sini, jadi tukang pemeriksa lampu bandara. Kalau sedang musim haji, ya diajak membantu catering. Saya juga jualan apa saja pada orang-orang bandara sini. Lha sekarang ini, orang-orang yang dulu tahu saya sejak kecil, ibaratnya sudah jadi bos-bosnya bandara sini dan menjadi orang-orang penting di penerbangan. Begitu...
LihatTutupKomentar