Batu Akik Berkualitas Super Ada di UPN Yogyakarta

Batu Akik Berkualitas Super Ada di Museum Geoteknologi Mineral UPN Yogyakarta, Jenis bebatuan itu masuk mineral (berkualitas bagus karena kepadatannya
Batu Akik Berkualitas Super Ada di UPN Yogyakarta

Batu Akik Berkualitas Super Ada di Museum Geoteknologi Mineral UPN Yogyakarta

Ketika masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya terjangkit demam batu akik beberapa waktu lalu, Museum Geoteknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta ikut kena dampaknya. Jika sebelumnya, setiap pengunjung yang melihat koleksi bebatuan di museum ini sangat jarang menanyakan tentang jenis batu akik

Saat “booming” batu akik, setiap pengunjung apalagi pelajar selalu menanyakan koleksi jenis batuan museum yang bisa dijadikan akik. Maklum, museum ini mengoleksi ribuan jenis batuan dari berbagai daerah.

Menanggapi pertanyaan para pelajar itu, Wahyu Widayat, pengelola Museum UPN, lalu menunjukkan koleksi bebatuan yang bagus digunakan untuk akik. Setidaknya ada 16 jenis bongkahan batu di Museum UPN yang bisa dan bagus untuk dibuat akik. Ukuran bongkahan berbeda-beda, mulai sebesar bola tenis hingga bola voli.

Semua koleksi itu dijadikan dalam satu vitrin kaca. Kebetulan semua jenis bebatuan itu berasal dari Madagaskar, Afrika Selatan. Jenis bebatuan itu masuk mineral (berkualitas bagus karena kepadatannya) dan memiliki nama, di antaranya: amthyst, celestite, chromite garnet, dan quartz rose. Warnanya pun beraneka ragam, ada yang putih, ungu, merah, dan gelap.

Batu Akik Berkualitas Super Ada di UPN Yogyakarta

Sementara itu, untuk batuan mineral ukuran kecil-kecil ada ratusan yang diletakkan di sejumlah vitrin almari kaca. Ukurannya berbeda-beda, tetapi umumnya sebesar batu kerikil, yang jika dijadikan batu akik hanya jadi satu saja.

Tidak hanya jenis bebatuan mineral saja yang menarik bagi pelajar, tetapi juga ada jenis bebatuan lain yang masuk jenis sedimen dan bekuan. Ukurannya pun beraneka ragam. Jenis bebatuan ini banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, seperti: Banjarnegara (Jawa Tengah), Pacitan (Jawa Timur), Klaten, Sragen (Jawa Tengah) dan daerah lainnya.

Semua koleksi ini dikumpulkan oleh para dosen dan mahasiswa UPN yang sedang melakukan penelitian di lapangan. Ketika memperoleh jenis batuan kemudian mereka menyumbangkan ke Museum UPN agar bisa dijadikan bahan penelitian bagi dosen dan mahasiswa, terutama di lingkungan UPN.

Tentu saja juga bisa dimanfaatkan oleh pelajar dan pengunjung masyarakat umum, agar lebih mengenal jenis bebatuan yang ada di bumi ini. Batu sumbangan para dosen dan mahasiswa yang mencapai ribuan itu disimpan dalam puluhan vitrin.

Setiap pengunjung yang datang untuk mengenal jenis bebatuan dan juga koleksi lain yang berkaitan dengan geologi dan pertambangan ini tidak dipungut biaya alias gratis. Bahkan pengunjung rombongan juga diputarkan film ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sejarah terbentuknya bumi.
LihatTutupKomentar