WARISAN ORANG TUA

Warisan orang tua
Beberapa hari ini simbah berulangkali mimpi ketemu almarhum bapak. Bapak adalah profil yang banyak mewarnai simbah. Di mata simbah, bapak telah memberikan banyak bekas kebaikan dalam diri simbah. 

Simbah bisa hapal Al Fatihah pertama kali adalah dari bapak. Dapat membaca Al Qur’an pun berkat bimbingan bapak, termasuk juga sholat dan ilmu-ilmu yang lain. Simbah masih inget doa-doa yang diajarkan beliau dalam bahasa jawa, sewaktu rumah masih ngontrak dan adik simbah baru satu. Salah satu doa yang diajarkan bapak adalah begini :
“Duh Gusti Allah, kulo nyuwun slamet ndonya akherat.”
“Duh Gusti Allah, kulo nyuwun rejeki sing kathah.”
 

Bapak rajin sekali kasih dongeng sebelum tidur. Dongeng yang masih simbah inget adalah dongeng tentang Nabi-nabi, tentang hewan, juga tentang wayang. Simbah tahu tentang mahabharata dari dongengnya bapak, juga cerita tentang Soemantri, Kokrosono dan Prabu Harjuno Sosrobahu. Bahkan sewaktu simbah berumur 8 tahun, bapak sudah ndongeng tentang teori atom dan molekul dengan cerita yang memikat. 

Sekarang sudah 7 bulan sejak kematian bapak, simbah justru malah merasakan kehilangan yang lebih hebat daripada ketika awal mendengar kematian beliau. Setiap kali simbah ngibadah, simbah merasakan bahwa ibadah simbah ini tak lain adalah buah didikan bapak bertahun-tahun. Ketika mbaca ayat, sholat, sedekah, bahkan ndongeng ke anak-anak, simbah selalu teringat bapak. Betapa semua kebaikan yang simbah perbuat, simbah berkeyakinan bapak ikut menuai kebaikannya juga. Tak perlu kirim pahala, semuanya otomatis terkirim. 

Simbah justru heran dengan perilaku orang tua jaman sekarang. Anak-anak kecil yang lugu disulap jadi wagu, hanya karena mengikuti karep wong tuwo. Gara-gara orang tua gagal jadi model, anaknya dibengesi, diorek-orek wajahnya, trus disuruh jalan lenggak-lenggok kayak luwak. Simbah punya tetangga dekat yang masa kecilnya gak boleh nyliwir rambut sama orang tuanya. Ha kok anaknya yang ragil sekarang malah disuruh nyliwir rambut ala Lupus. Bedanya, anaknya ini dibotakin kepala bagian depannya, tapi di bagian belakang rambutnya pating sliwir kayak kothang dijemur. 

Ada juga orang tua yang bernapsu anaknya jadi selebritis. Maka semua ajang yang ada dijujug. Anaknya disuruh ndaptar. Dari ajang pamer wajah sampai pamer betis diikuti. Dari ajang tarik suara sampai tarik celana dirambahi. Simbah sempat dapet pasien yang stress gara-gara gagal ikut audisi AFI. Direwangi ibunya nganter isuk uthuk-uthuk, ditunggui sampe larut malem hasilnya gagal. 

Mungkin sampeyan nganggep simbah wong kolot, ndesit, kamso (kampungan plus ndeso), ataupun udik. Gak papa lah kalo dengan itu bisa ngasih bekal akherat buat anak-anak simbah. Ha wong dokter pinggiran, hidup pas-pasan, tinggal di kontrakan dengan istri dan tiga anak yang sebentar lagi jadi empat, tiada lain yang bisa diwariskan kepada anak hanyalah amalan yang bisa ngalir terus ganjarannya ke orang tuanya. Tidak lebih...!
LihatTutupKomentar