MENUNGGU MUKJIZAT : CHAPTER TWO

MENUNGGU MUKJIZAT CHAPTER TWO

Bagi yang pernah belajar ulumul Qur’an, maka pasti tidak akan asing dengan apa yang dinamakan i’jazul Qur’an. Memang setelah simbah rasakan, komen dari Kang Kombor ada betulnya juga, bahwa istilah mukjizat itu harus dijlentrehkan dahulu agar persoalannya jelas. I’jaz (kemukjizatan) asalnya dari bahasa Arab. Kata i’jaz digunakan untuk menisbatkan kelemahan kepada orang lain.
 
Mu’jizat atau mukjizat (setelah diindonesiakan) dinamakan mukjizat yang artinya melemahkan, karena manusia lemah dan dianggap lemah untuk mendatangkan hal yang serupa. Di jaman Nabi Musa si Fir’aun merasa mampu menandingi tongkatnya Nabi Musa yang bisa berubah jadi ular. Namun ternyata setelah adu tanding dengan mengerahkan tukang sihir untuk menandingi kemukjizatan Nabi Musa, si Fir’aun malah kewirangan. Tukang sihirnya mengakui bahwa apa yang didatangkan Nabi Musa itu bukan tandingannya.

Apa yang bisa dilakukan Nabi Isa pun, tak ada yang menandingi di zamannya. Demikian juga nabi-nabi yang lain. Fungsi mukjizat itu sendiri adalah sebagai penguat dan penegas bahwa Nabi atau rasul yang diutus ke tengah-tengah kaumnya itu benar-benar utusan Allah yang membawa kebenaran. Sekaligus sebagai hujah mengalahkan bantahan orang-orang yang menentangnya. 

Nah, Nabi Muhammad saw itu diutus bagi umat sampai akhir jaman. Sementara manusia semakin maju daya pikir dan teknologinya, berkat eksplorasi mereka akan rongga perut dan rongga kepala (baca lagi Trilogy Eksplorasi). Lha kalo mukjizatnya cuma model bisa menyembuhkan penderita kusta, bikin orang buta bisa melihat, menyembuhkan orang lumpuh, lha nggak usah Nabi saja sekarang sudah banyak yang bisa. Makanya orang malah melecehkan mukjizat Nabi Isa a.s gara-gara sudah menemukan teknologi penyembuhan yang canggih. 

Kemukjizatan Al Qur’an adalah terletak pada kenyataan bahwa manusia tidak mampu dan tidak akan pernah mampu dikarenakan kelemahannya, untuk mendatangkan apa yang bisa didatangkan dan dihasilkan oleh Al Qur’an. 

Dimulai dari yang ringan dulu. Manusia ditantang untuk mendatangkan yang serupa dengan ayat-ayat Al Qur’an. Gak usah banyak-banyak, tiga ayat sajalah. Itu kalo manusia menganggap diri mereka benar, hebat, kuat, pinter dlsb. Nyatanya dari jaman unta sampai jaman Honda, dan dari jaman Abu Jahal sampai jaman Ulil Abshar, gak ada yang terbukti bisa. 

Ini semua dikarenakan susunan Al Qur’an, keindahan bahasanya, serta kekuatan isinya tidak ada yang menandingi. Hanya Allah yang bisa begitu. Makhluk gak mungkin bisa. Nyatanya begitu sampai sekarang. Kalo ada yang mbaca Al Qur’an trus gak nemu sisi-sisi tersebut, itu lebih dikarenakan bodohnya yang mbaca saja. Ibarat pasien gegar otak grade IV mbaca teori Fisika Kuantum, habis mbaca malah tambah edan dan tidak menemukan sisi kemanfaatan apapun dari bacaannya tersebut. 

Ini adalah sisi kemukjizatan Al Qur’an ke dalam Al Qur’annya sendiri. Sebagai bukti bahwa ini bukan bikinan manusia, buktinya gak ada manusia yang bisa mbikin. Teknologi manusia secanggih apapun yang bisa diraih manusia zaman ini, tak terbukti bisa mematahkan mukjizat ini. Bahkan sampai kapanpun. 

NASA boleh ngaku-ngaku bisa mendaratkan manusia ke bulan, ahli kloning boleh saja bangga bisa bikin domba secara gak wajar, ilmu sastera boleh saja menghasilkan sasterawan yang hebat-hebat, ahli bahasa boleh saja mbikin tulisan yang indah-indah, tapi yang pasti, sampai saat ini mereka semua tidak bisa dan simbah yakin gak akan bisa membuat yang serupa dengan Al Qur’an secuilpun. 

Hanya saja, ini adalah satu bagian dari kemukjizatan Al Qur’an. Karena kalo ini saja, apa kemukjizatan Al Qur’an bagi manusia? Apa yang bisa dihasilkan, diperbuat dan diharapkan dari Al Qur’an, yang manusia tidak akan sanggup menandingi dan membikin yang serupa? 

Eksplorasi perut dan otak sedemikian majunya. Sampai-sampai pada tingkatan manusia menjadi setengah tuhan. Bahkan bermain-main menjadi tuhan. Orang menyebutnya sebagai playing God. Manusia merasa bisa apa saja. Gak butuh tuhan lagi. Semua bisa diraih dengan kepandaian dan teknologi. Agama hanya hiburan pelengkap hidup. Sebagian manusia menggunakannya hanya sekedar sebagai kosmetik. 

Karena menganggap mukjizat Al Qur’an hanya sebatas yang disebutkan di atas, maka Al Qur’an hanya dijadikan sebagai bacaan pengantar mati. Bacaan bagi orang mati, bacaan buat lomba, bacaan buat tombo koreng, bacaan buat ngusir lelembut, buat penglaris, buat nyari jodoh, buat….. ah sudahlah. Marginalisasi Al Qur’an, substitusi gaweyane mbah Dukun. Kadang komplemen piranti mbah Kyai Dukun… kurang ajar… dasar manusia pekok. Macem suku pedalaman afrika dikasih PC dengan prosesor Core 2 Duo saja. Gandeng gak mudeng dibikin jimat. 

Lha lantas kemukjizatan Al Qur’an buat kita apa? Hmm … sampeyan pikir lagi. Bantu saya mikir agar diberi kemudahan mbikin Chapter ketiganya. Semoga Chapter ketiga ini sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan tentang tata cara eksplorasi hati yang kemaren menjadi pertanyaan.
LihatTutupKomentar