MENUNGGU MUKJIZAT : CHAPTER ONE

MENUNGGU MUKJIZAT CHAPTER ONE

Apakah sekarang mingsih ada mukjizat? Bukankah sudah tidak ada Nabi lagi? Betul, tidak ada Nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw. Tapi yang simbah tahu, ulama sepakat bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw itu adalah Al Qur’an. Dan saat ini Kitab itu masih ada di depan kita.

Kitab itu ada di hampir semua rumah yang penghuninya mengaku muslim. Namun hampir semua dari kita tidak menyadari bahwa itu mukjizat paling besar dari Nabi. Ha kok iso? Apa memang dianggapnya mukjizat itu hanya teoritis saja, prakteknya cuma seonggok buku kecil tak bertenaga?

Gambaran mukjizat yang sudah tertanam dalam memory kita adalah suatu peristiwa yang tidak masuk akal, di luar kemampuan potensi manusia, dan pasti peristiwanya yang serba ngedab-edabi. Mbikin ngowoh yang menyaksikannya. Gumun setahun, jinggleng serendeng, ndlongop lali angop. Lha gimana tidak, wong kalo ditanya tentang mukjizat itu jawabannya selalu tongkat Nabi Musa jadi Ular, bisa membelah lautan, dan bisa memberikan sumber mata air bagi kaumnya. Tak lupa kisah unta Nabi shaleh yang keluar dari batu, Nabi Isa yang bisa menyembuhkan orang sakit kusta, buta, lumpuh dan bahkan menghidupkan orang mati…. dan kisah-kisah hebat lainnya.

Salah seorang sahabat simbah berkata, “Al Qur’an ini mukjizat!! Buktinya kemarin ada yang badannya demam, dikompres pake tulisan Al Qur’an bisa sembuh. Jadi letak kemukjizatannya disitu.”

Simbah jawab, “Kosik tho, bukan macam begitu kemukjizatan Al Qur’an. Lha kalo cuma demam, mbok diombeni Bodrex campur Amoxilcilin lak bisa sumringah lagi. Apa Bodrex itu mukjizat juga?”

Coba sampeyan rasakne, lepra sudah ketemu obatnya, mata buta dengan etiology tertentu bisa melek lagi, kaki lumpuh bisa playon lagi, angka harapan hidup bisa diperpanjang, penyakit mematikan bisa ditambani. Lha kalo Mukjizat yang dianggap terbesar itu cuman bisa nanggulangi hal-hal kayak gituan, lak itu jenenge pelecehan. Wong yang nemu teknology canggih itu malahan sebagian besarnya atheis je, setidaknya skeptis dengan adanya tuhan.

Ada lagi yang kasih tahu simbah bahwa guru ngajinya itu digdaya tan tinedas tapak palune pande, karena banyak wiridan, baca ayat-ayat tertentu di malem jum’at kliwon, tirakat terus sampai bisa sekti mandraguna. Bisa berjalan di atas air, tidurnya saja di pucuk wit gedhang. Muridnya banyak, semuanya sekti. Ujian terendahnya bisa diluluskan kalo si murid bisa nguntir-untir linggis macem selang plastik. Nah, itulah efek kemukjizatan Al Qur’an, katanya.

Lha kalo cuma bisa berjalan di atas air, anggang-anggang (laba-laba air) ya bisa. Gak istimewa lah. Bisa berdiri di pucuk wit gedhang, uler keket yo pinter. Nguntir-untir linggis, rapati nggegirisi. Wong atheis saja bisa ngencerkan linggis trus dicithak jadi topeng yang praupannya persis dapure sampeyan.

Nabi yang paling mulia adalah Nabi kita, Muhammad saw. Mukjizat terbesarnya adalah Al Qur’an. Sudah sewajarnya mukjizat ini lebih hebat daripada tongkatnya Nabi Musa, lebih jos daripada ilmunya Nabi Isa, lebih mantabh daripada untanya Nabi Sholeh, dan lebih dahsyat daripada mukjizat nabi-nabi terdahulu. Lebih dahsyatnya lagi…. mukjizat itu ada tergeletak di rumah-rumah kita.

Lha tapi ada Al Qur’an di tengah-tengah kita, kok kayaknya gak ngefek apa-apa tuh? Dimana letak kemukjizatannya. Ada yang ngomong : di dalam isinya yang dapat meramalkan masa depan. Halah… lha tukang nujumnya Fir’aun kapir saja ya bisa. Apa kelebihannya? Apalagi kalo sudah nyebut Ronggowarsito… lha apa wajar Al Qur’an disejajarkan sama mereka? Haihaata-haihaata..

Monggo dipenggalih bareng-bareng, dipikir dan direnungkan. Dimana letak kemukjizatan Al Qur’an yang katanya mukjizat paling besar dari Nabi Muhammad saw? Apakah sudah gak ada lagi efek kemukjizatannya sebagaimana sangkaan wong pengung yang kehilangan kepercayaan kepada kekuasaan Allah itu? Sumbang sarannya ditunggu buat nerusin ke CHAPTER TWO.
LihatTutupKomentar