APA KABAR POLIGAMI?

POLIGAMI

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, klinik simbah kedatangan seorang wanita muda beranak satu yang kedatangannya semata-mata ingin konsultasi. Bukan konsultasi kesehatan, tapi konsultasi urusan rumah tangga. Agak abot persoalannya, yakni masalah suaminya yang mau nikah lagi.

Sebenarnya ibu ini sudah pernah ngomong ke suaminya, bahwa dirinya rela dimadu. Tapi yang membuat dirinya keberatan adalah sang calon isteri baru suaminya itu didapat bukan dari jalan yang bagus. Yakni dapet nemu di jalan, gara-gara suaminya salah menaruh cocakrowo. Lha kebetulan suaminya ini memang seorang sopir yang sering dikonotasikan sebagai “Yen Ngaso Mampir”. Runyamnya lagi, si suami juga mengakui kalo sudah “maculi” lahannya si wanita yang ternyata memang seorang PSK, setidaknya menurut kesaksian si ibu tadi.

Si ibu itu sebenarnya ingin menanyakan, apa langkah yang terbaik untuk dirinya, melihat kondisi rumah tangganya yang berantakan tersebut. Apalagi dia dan suaminya tinggal di komplek simbah hanya sebagai penghuni kontrakan yang sebentar lagi juga habis masa kontrakannya. Wah jian… simbah ikut mumet. Mau nolong kok ruwet tenan, gak ditolong kok ya kasihan.

Setelah simbah konsultasikan kepada seorang ustadz, simbah dapat keterangan, bahwa jika memang menurut pengakuan suaminya itu dia telah menzinahi wanita lain, sedangkan suami tersebut masih dalam status beristri, maka hukumnya zina muhson. Artinya si suami secara hukum terkena had hukum rajam (jika syariat Islam dijalankan). Itu berarti pula si isteri secara hukum sudah kehilangan suami, jika syariat benar-benar ditegakkan. Maka sebenarnya si ibu tadi sudah janda secara de jure, tapi masih bersuami secara de facto. Problem bertambah lagi, karena ternyata si ibu itu sedang mengandung anak kedua.

Maka simbah menyarankan untuk menggugat cerai suaminya trus kembali pulang ke rumah orang tuanya atau saudaranya yang laki-laki. Saran pertama mau dijalankan jika anaknya sudah lahir, tapi untuk saran pulang kembali ke rumah dia malu. Maka untuk sementara waktu dia masih tetap di rumah kontrakan suaminya, namun juga mau berusaha hidup mandiri. Simbah hanya ngasih jalan memberi tugas ngajar anak-anak TPA dengan honor yang tentu saja kurang mencukupi untuk hidup si ibu beserta satu anak perempuannya.

Setelah bertahan beberapa lama, akhirnya si ibu tersebut keluar dari komplek simbah. Setelah itu simbah sudah tidak pernah mendengar lagi kabarnya. Hanya pernah sekali si ibu itu menelpon simbah, mengabarkan bahwa anak perempuan keduanya telah lahir dengan selamat.

Mungkin sampeyan semua juga pernah mendengar kisah semacam ini. Bahkan melihat langsung kejadiannya. Dan sebenarnya masih banyak kisah-kisah kedholiman terhadap perempuan seperti yang simbah kisahkan di atas. Apapun alasannya menjadi janda dengan menanggung beban kehidupan anak-anaknya adalah satu hal yang berat.Maka salah satu fadhilah memberi makan kepada seorang janda miskin adalah ibarat mendapatkan pahala orang yang berpuasa.

Apakah dengan demikian berarti simbah setuju dengan poligaminya Aa Gym? Eeiit… nanti dulu, ha kok mbeloknya ke Aa Gym tho. Yang jelas itu kan haknya si Aa untuk menikah lagi.

Salah seorang teman -ahli sejarah yang tidak mau disebutkan namanya- berpendapat : satu alasan pokok yang menyebabkan orang tidak setuju Aa Gym menikah lagi adalah karena isteri keduanya itu masih muda dan cantik. Coba kalo Aa menikahi seorang wanita yang berwajah biasa, bahkan bisa dikatakan nilainya enam ke bawah, ditambah lagi janda beranak enam. Anaknya cilik-cilik terancam putus sekolah, mlarat sisan. Kalo janda model itu yang dinikahi, mau nikah tiga orang sekalian, maka -miturut teman simbah itu- orang justru akan memuji tindakan si Aa.

Dan itu akan menghapus stigma yang selama ini menempel pada poligami, yang selama ini kesannya buruk karena tak ada contoh dari publik figur manapun untuk memperbaikinya. Jadi teman simbah itu menyarankan, hari ini poligami sangat dianjurkan, tapi carilah janda-janda mlarat yang kesusahan mengurusi anak-anak mereka. Dengan menikahi mereka, itu akan mengangkat harkat dan martabat hidup mereka, sekaligus mendapat pahala karena ikut mengurusi anak-anak yatimnya. Jangan malah berburu “rondo kempling”, apalagi rondo royal.. kuwi lak tape goreng..

Itu miturut teman simbah lho… Simbah rasa semua punya pendapat masing-masing..
LihatTutupKomentar