The Two Powers

The Two Powers
Kang Isaac Newton pernah ngomong, bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki lawan atau kebalikannya. Kebaikan lawan dari keburukan, jauh kebalikan dari dekat, atau sebagaimana posting kemarin, borju merupakan kebalikan dari proletar, meskipun tak selamanya tepat.

Dalam hal kaya dan miskin, seringkali orang memberikan satu nilai pada masing-masing kata tersebut. Bagi Kanjeng Bendoro Tuan Sinyo, juragan Tahu Pong yang pernah ditodong clurit di kawasan kumuh, kata miskin atau kemiskinan tentu saja berkonotasi negatip. Apalagi selain ditodong, Kanjeng Bendoro Tuan Sinyo juga ditonyo bibirnya yang mrongos itu sampai bonyok. Makin pantaslah dia dipanggil Tuan Sinyo, karena kata tersebut bisa dimaknai Untu Kedawan Gusi Menyonyo.

Lain lagi bagi Lik Marto Slenthem, seorang PNS dengan gaya hidup pas-pasan, yang kehidupan kesehariannya banyak ditolong oleh tetangganya sesama kaum pas-pasan, kata kemiskinan tak selalu bermakna jahat. Bahkan kekayaanlah yang pantas dimaknai jahat. Lik Marto melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa komunitas koruptor di Indonesia ini dihuni oleh wong-wong sugeh mblegedhu. Maka menurutnya, kesugihan identik dengan korupsi. Miturut dia, segala kejahatan besar membutuhkan modal besar. Modal besar hanya dimiliki oleh orang-orang berduit besar. Penimbun BBM hanya bisa dilakukan oleh orang berkantong tebal, demikian pula penimbun sembako. Tapi saat harga BBM mau naik kemaren, yang dicurigai menjadi penimbun BBM adalah pedagang bengsin eceran yang bermodal cekak yang mencari margin keuntungan sebesar 500 ripis per liter, dan modal operasionalnya tak lebih dari 500 rebu ripis. Rupanya kata-kata yang diyakini sebagai sabda Nabi (padahal sama sekali bukan, karena sumbernya lemah) yang berbunyi “Kefakiran dekat dengan kekafiran” sudah mendarah daging di semua lini masyarakat.

Miturut Lik Marto Slenthem, kejahatan yang dilakukan rakyat kecil, skalanya selalu kecil. Itu pun dilakukan semata-mata karena mau tak mau harus jahat. Karena orang-orang kaya tak mau membagi kekayaannya dengan sukarela dan harus dipindah ke tangan mereka dengan cara jahat.

Baik Kanjeng Bendoro Tuan Sinyo maupun Lik Marto Slenthem, memiliki hak buat memberikan penilaian terhadap kata kaya dan miskin. Buat Simbah, kaya dan miskin hanyalah satu keadaan. Masing-masing memiliki kekuatan ataupun power untuk memotivasi orang melakukan sesuatu, apakah itu kebaikan atau keburukan. Karena memang dua kekuatan itu akan selalu ada di dalam segala sesuatu.

Di dalam kekayaan, ada potensi untuk berbuat jahat maupun berbuat baik. Maka sampeyan tak perlu memandang penuh curiga ataupun memandang dengan pandangan jahat terhadap dokter borju wal kaya. Karena kekayaan dokter borju, bisa memberikan berkah bagi lingkungannya manakala keborjuannya itu ditunaikan hak dan kewajibannya. Tapi sampeyan juga gak boleh memandang penuh curiga pada dokter yang tarap hidupnya masih proletar. Lalu tiap kali si dokter nulis resep, dicurigai ada niat buruk buat memperkaya diri bagi pengentasan dirinya dari jurang keproletaran.

Bagi Kang Super, kekayaan ataupun kemiskinan bisa menjadi modal buat kejahatan maupun kebaikan. Bedanya, bagi orang kaya, dia memiliki dua kemungkinan dengan kekayaannya itu. Yakni kemungkinan untuk tetap kaya dan bertambah kaya, atau kemungkinan untuk jatuh miskin. Sedangkan bagi orang miskin, dia hanya memiliki satu pilihan, yakni menjadi kaya…. So, nothing to lose buat orang miskin yang mau berjuang demi kebaikan dirinya.

Takdir kehidupan menghendaki keseimbangan demi harmonisasi kehidupan. Maka ada lawan atau kebalikan dalam segala sesuatu. Hanya saja, berdoalah, agar sampeyan berada di sisi kebaikan, agar sampeyan menjadi penyeimbang bagi keburukan yang ada. Jangan sampai sampeyan memilih jalan keburukan, demi menyeimbangkan kebaikan yang diperbuat oleh orang lain. Alangkah sialnya hidup sampeyan jika itu yang menjadi pilihan hidup sampeyan…

Kamus Pitutur 0.1 Beta :
1. Untu         = gigi
2. Kedawan   = Kepanjangan
3. Menyonyo  = menonjol
4. Mrongos    = tongos
LihatTutupKomentar