Reuni singkat itu cukup membekas

Reuni singkat itu cukup membekas

Reuni singkat - Beberapa minggu menjelang puasa kemarin simbah menyempatkan pulang kampung. Sebagaimana biasa kalo pulang kampung, simbah menyempatkan mampir ke Pasar Gede buat hunting jajan pasar yang gak pernah simbah jumpai di Metropolitan. 

Kalopun ada di Jakarta, harganya mesti muahal pol. Jajanan ndeso, tapi harganya gak ndeso babar pisan. Selepas blanja, simbah keluar pasar dan mengambil motor simbah yang ada di parkiran. Saat mau mbayar uang parkir pada petugasnya, simbah dibikin kaget secara sekonyong-konyong, walaupun tidak koder

Ternyata petugas parkirnya adalah si Paimo (bukan nama sebenarnya), salah seorang konco kuliah simbah di kedokteran.

“Lhadalah, kang… ha kok kowe tho jebulnya…..Gimana kabarnya?”
“Weh, masya Allah.. mingsih inget aku tho mbah. Tak kira sudah lupa. Yah ginilah mbah nasibku sekarang… Ngupoyo upo, yang penting halal.” katanya sambil tersenyum.

“Lho, dulu itu kuliahnya nggak nglanjut tho? Kenapa kok medhot?”
“Yah, susah mbah. Saya harus mbantu ekonomi keluarga. Nyambi koret-koret rejeki buat mbantu simbok. Akhirnya kuliah jadi kececer. Yo wis, terdamparlah di sini.” kisahnya sambil agak semedhot.

Reuni singkat itu cukup membekas di hati simbah. Membuat simbah jadi makin bersyukur dengan apa yang sekarang sudah simbah dapet dari penghidupan simbah. Memang dulu waktu kuliah, simbah dan Paimo ini masup dalam kelompok mahasiswa PMDK kependekan dari Persatuan Mahasiswa Dua Koma, alias Mahasiswa kecer (tercecer) yang jauh dari aroma kumlot

Kenapa bisa begitu? Boleh jadi memang otak simbah yang kurang klop dengan materi kuliah kedokteran yang selalu menuntut apalan kuat, sehingga hampir tiap malam harus ngeciwis ala japa mantra nguatin apalan. 

Tapi yang paling berperan adalah, waktu itu simbah dan mahasiswa sejenis si Paimo ini harus membagi waktu biayakan mencari biaya kuliah, dan pecicilan mencicil tunggakan uang POM di kampus. Seinget simbah, mulai semester 6 simbah sudah membiayai sendiri SPP tiap semester dan hampir tak pernah ngathung njejaluk duit minta sama orang tua.

Mulai dari jualan kue donat, kue terang bulan, kue prol dan lainnya simbah ayahi. Malam hari mbikin adonan, paginya dimasak dan dititipkan ke warung-warung. Lalu usaha berlanjut ke jualan daging ayam potong, menjadi suplier daging ayam ke pedagang mie ayam dan tukang sayur. 

Sampai akhirnya usaha itu berhenti karena kesibukan co-ass yang gak mungkin nyambi bisnis macem-macem. Tapi simbah sempat bisnis jualan buku-buku kuliah juga.

Pendorong bisnis itu sendiri muncul karena gaji bapak simbah waktu itu banyak kepotong oleh utang, sehingga sebulan hanya menerima total 35 rebu ripis. Maka meskipun saat itu simbah kuliah di kedokteran, simbah merasa nyaman bergaul dengan bakul sayur, bakul roti, kue dan orang-orang kesrakat lainnya. 

Disitu simbah merasa mendapat komunitas yang bisa menjaga spirit dan kesyukuran atas apa yang simbah terima. Cuma kalo pas budhal ke Rumah Sakit, trus ketemu konco-konco yang kebanyakannya mborju dan sugeh kongenital, kadang muncul perasaan terinferior walaupun sebenarnya itu perasaan yang gak enak dan gak perlu.

Walhasil reuni singkat dan sederhana itu lebih mengobati hati simbah daripada reuni besar-besaran yang kadangkala malah berefek menimbulkan penyakit hati. Lho reuni kok menimbulkan penyakit hati itu gimana juntrungnya..?! Lha reuninya yang kumpul dan -memang yang berani ngumpul- hanya dari kalangan penghuni pemuncak rantai makanan wal rejeki je. 

Sedangkan si Kang Paidul yang waktu SD atau SMP atau SMA nya sering ngeces di kelas dan sekarang cuma jadi tukang patri keliling, merasa gak pantes menghadiri reuni megah yang digelar di hotel berbintang sewidak rolas

Atau Yu Kremi yang dulu sering thithil gudhig yang sekarang cuma bisa meniti karir di bidang jual beli celana bekas, hanya bisa melihat dari kejauhan konco-konconya yang wira-wiri, haha hihi merayakan reuni mereka.

Memang tidak semua reuni dijadikan ajang unjuk gigi keberhasilan diri pesertanya. Atau mungkin ini hanya perasaan simbah yang masih terinferior oleh keadaan masa lalu simbah. Yang jelas sekarang simbah menempati satu rumah yang sengaja disediakan untuk simbah sekeluarga di satu perumahan “mewah”

Jangan salah, perumahan mewah disini maksudnya perumahan “mepet sawah” alias pinggiran. Yang kalo hujan suasananya persis di kampung, banyak kodok yang ngerock, ngepop dan ngejazz disono. 

Tapi yang penting, gimana cara hati kita menerima semua rejeki Sang Khalik itu, agar senantiasa terjaga kesyukuran kita pada-Nya.
LihatTutupKomentar