Pasien di rumah sakit simbah

Pasien di rumah sakit simbah

Saat simbah masih kerja di rumah sakit, simbah sering menemui adegan dimana pasien dibentak, dimarahi dan disalahkan baik oleh dokter senior, dokter yunior, bahkan oleh perawat. Adalah beberapa waktu yang lalu simbah menemui kejadian konyol dimana simbah mengirim seorang pasien untuk dicek darahnya di laboratorium. Untuk kebutuhan itu pasien harus puasa 12 jam, sebelum diambil darahnya.
Pagi hari jam 9 si pasien tiba di satu RSUD di Jakarta ini. Saat tiba di lab, petugas laboratoriumnya bertanya, “Sudah puasa bu? Mulai puasa jam berapa?”
Si ibu yang tua dan memang dari kalangan tak mampu itu menjawab,“Sudah bu. Tadi malam saya mulai puasa jam 10 malam.”
“Lho.. kok jam 10 malam?” tanya petugas lab heran. “Harusnya mulai jam 9 malam bu, kan lama puasanya 12 jam. Gimana sih ibu ini? Kalo puasa jam 9 malam kan pas jam sekarang darah bisa diambil.”
“Jadi gimana ini bu?”
“Lha, salah lo sendiri. Ya pulang aja dan puasa lagi entar malam, mulai jam 9 malam ya. Makanya kalo mau periksa lab disini pengantar laboratnya juga dari sini, jadi tahu prosedurnya. Jangan asal puasa aja. Sudah sono pulang dulu… saya mau melayani pasien yang lain,” kata ibu itu dengan ketus. Yang kontras adalah ibu itu berjilbab rapi dan dipanggil oleh rekan sesama pegawai di rumah sakit itu dengan panggilan bu haji.
Simbah tak habis pikir, harusnya kalo memang mulai puasa jam 10 malam ya diperiksanya entar jam 10 siang. Saat itu baru jam 9 pagi. Harusnya pasien disuruh nunggu satu jam agar bisa diambil darahnya saat itu juga dan bukannya menyuruh pulang si ibu tua itu pulang dan puasa lagi untuk dicek esok hari jam 9 pagi. Jan-jane sing goblog murokab ki sopo tho yo?

Padahal kalo mau jujur, sumber finansial Rumah sakit beserta warganya adalah dari kocek pasien. Paisen apapun statusnya apakah mlarat ngempet ataupun sugeh mblegedhu, merupakan penopang finansial yang memberi makan  banyak pihak yang terlibat dalam proses berburu sehat. Setidaknya simbah mencatat beberapa pihak yang makan dari uang pasien alias wong pileren :
1. Dokter. Ini jelas. Makanya kalo dokter memaki-maki pasien… wah bisa kualat. Buat dokter muda alias ko-as, pasien adalah guru hidup.
2. Perawat. Herannya, seringkali perawat ini malah ngomel-ngomeli si pasien yang justru merupakan sumber perantara rejekinya. Apalagi kalo pasien mlarat yang bersenjatakan kartu askes. Mungkin pihak askes ngasih kompensasinya gak mbejaji babar blas, namun kok ya dipertahankan turun temurun. Ha wong pejabat askesnya malah sugeh-sugeh.
3. Sales. Kalangan berdasi, berbaju rapi dengan senyum berisi ini berburu rekomendasi demi sesuap nasi. Menawarkan obat dan fasilitas pada dokter yang semuanya dibiayai oleh duit pasien.
4. Pabrik farmasi. Ini tentu saja sekalian dengan ribuan karyawan yang bekerja di dalamnya. Dari kelas bos sampe kelas jongos. Bahkan sampe sekuriti, pihak advertising dan distributornya. Semua makan duit pasien.
5. Rumah Sakit. Bagi rumah sakit, pasien adalah sumber inkam. Maka tingkat hunian adalah bak rating di televisi. Tanpa adanya pasien, umur rumah sakit akan dubia et malam, kalo tanpa subsidi. Tentu saja ini berkaitan dengan seluruh warga rumah sakit itu yang terdiri dari TU (tata usaha), ofice boy, cleaning service, sekuriti, tukang parkir, petugas ambulance dan lain sebagainya.

6. Pendukung perifer. Yakni para pencari nafkah yang mencari rejeki dari keberadaan pasien dan keluarganya di Rumah Sakit atau klinik. Misalnya kayak lik Karno Gowang yang jualan sego kucing di samping RS, Kang Parmo Geyong yang jualan air panas, Bang Sueb calo ambulan, atau si Paidul yang jualan koran dan asongan.
7. Pedagang alat-alat kesehatan, macem treadmill, USG, Ronsen, dlsb.
8. Penyedia perlengkapan laboratorium dan reagennya dengan segala pendukungnya. Tentu saja dari distributor besar sampe pengecer.
Masih banyak lagi sebenarnya kalangan yang mendapat makan dari duit pasien. Jadi sebenarnya pasien yang dateng ke klinik atau Rumah sakit dengan derita yang disandangnya itu, ternyata bisa memberi makan jutaan mulut yang terlibat dalam industri penyedia kesehatan. Sebagaimana piramida makanan dalam rantai makanan, maka pasien menempati lantai dasar piramida sebagai produsen. Sedangkan kalangan bos sugeh mblegedhu, dirut rumah sakit, dokter spesialis, dan sebagainya, mereka adalah pemuncak rantai rejeki tersebut, dan adem ayem berada di puncak piramida dengan sentausanya.
Hal serupa juga terjadi di semua bidang, tidak hanya di industri kesehatan saja. Simbah jadi inget sabda kanjeng Nabi saw :

“Sesungguhnya kalian diberi rejeki karena adanya kalangan dhuafa dari kalian.”
Karena itu kanjeng Nabi menganjurkan untuk mau berbagi, bukan dengan memaki atau mencaci.
LihatTutupKomentar