Asiknya Mancing ikan ikan kecil

Asiknya Mancing ikan ikan kecil

Asiknya Mancing ikan ikan kecil small is fun...😁

Saat ini bisa di bilang perkembangan dunia mancing di Indonesia berkembang sangat cepat. Istilah seperti casting, poping, jigging bahkan fly fishing bukanlah hal yang asing lagi bagi mania indonesia. perkembangan ini berbanding lurus dengan banyaknya mania mania mancing yang menekuni tekhnik tekhnik diatas yang rata rata targetnya adalah ikan ikan berukuran besar.

Kondisi di atas hampir hampir memarjinalkan tekhnik tekhnik mancing yang lebih dahulu kita kenal khususnya yang targetnya adalah ikan ikan kecil. Sering kali saya melihat atau mendengar ada sebagaian mania mancing yang mungkin karena gengsi menganggap mancing mancing ikan kecil bukanlah aktivitas yang menyenangkan. 

Bagi sebagian mereka itu mungkin mancing identik dengan tekhnik tekhnik modern dengan peralatan modern pula. Namun demikian ternyata kekhawatiran di atas tidak benar benar terbukti. buktinya masih banyak para mania mancing menggelutinya.

Masih ingat kah anda dengan ikan ikan seperti beunteur, wader, paray, uceng, betok, sepat, tawes, nilem, derbang dan jenis jenis ikan lain yang mungkin berbeda nama di setiap daerah? atau akrabkah anda dengan istilah “ngabeunteur” atau “waderan”

Kalau mungkin agak agak lupa, tulisan ini akan kembali mengingatkan Anda akan asiknya mancing ikan ikan kecil diatas yang mungkin adalah kegiatan sehari-hari kita sewaktu kecil.

Cukup bermodal sebuah lidi, benang dan mata kail buatan sendiri yang dibuat dari peniti dulu kita bisa mancing menyusuri parit parit sawah dengan target seperti uceng, beunteur (wader cakul), anak ikan mas, nila kecil, ikan buntut pedang (cingir putri) dan bahkan ikan cere. 

Bahkan tanpa terasa kita bisa berjalan berkilo-kilo jauhnya yang akhirnya membuat kita akhirnya pulang kesorean dan berakhir dengan sebuah jeweran di telinga oleh ibunda tercinta karena saat pulang baju seragam yang kita lupa ganti sudah belepotan tanah dan lumpur. Sebuah kenangan manis bukan?

Atau pernahkan Anda memancing ikan cere dengan hanya bermodalkan lidi, sehelai rambut panjang yang kita minta dari nenek, ibu atau saudara perempuan kita? Mancing cere tidak membutuhkan mata kail. Cukup ikatkan cacing sutra (di Jawa Barat biasa disebut ucu) di ujung rambut dan mulai lah kita panen ikan cere berukuran panjang 1 s.d. 2 cm. 

Apabila kita tidak berhasil mendapatkan rambut panjang sebagai pengganti biasanya benang dari serat pohon pisang. Ikan cere terkenal rakus menyambar umpan bahkan yang beukuran lebih besar dari mulutnya. Sehingga setelah umpan cacing sutra disambarnya kita hanya tinggal mengangkatnya dengan pelan pelan.

Saat beranjak dewasa mungkin kita akhirnya mengenal banyak tekhnik dengan ikan targetnya masing masing. namun rata rata pada saat itu target ukuran sudah sedemikian rupa sehingga yang menjadi obsesi kita adalah marlin ratusan kilo atau GT babon diatas 50 kilo yang tentunya bukan pada tempatnya apabila dibandingkan dengan tarikan beunteur atau uceng yang ukurannya bisa jadi hanya sebesar jari kelingking kita.

Namun demikian tentunya mancing ikan ikan berukuran mini pun memiliki sensasi tersendiri. Apalagi kalau peralatanya disesuaikan dengan target kita. Bahkan di Jepang yang notabene merupakan negara penghasil tackle-tackle modern yang mumpuni, memancing ikan-ikan kecil memiliki banyak penggemar fanatik. Memancing sweet fish misalnya. 

Banyak pemancing Jepang yang sangat terobsesi untuk mancing ikan yang berukuran rata-rata dua jari ini. Apalagi tekhnik mancing ikan ini cukup unik. Umpan untuk memancing ikan yang rupanya sangat mirip dengan beunteur atau wader ini adalah sweet fish juga. Bingung?

Sweet fish adalah ikan yang memiliki teritori masing masing dan ikan ini dikenal sangat menjaga teritorinya bahkan dari sweet fish yang lain. Situasi inilah yang akhirnya dimanfaatkan para pemancing jepang untuk berburu sweet fish. Dengan berbekal joran tegek sepanjang 5 s.d. 6 meter mereka mengaitkan sweet fish yang sudah tertangkap di ujung benang ditambah dengan sebuah treble hook ukuran sedang yang disambungkan dengan tali sepanjang 5 cm dibelakang ikan yang dijadikan umpan. 

Setelah itu lemparkan umpan ke tempat sweet fish lain. Tidak lama biasanya sweet fish yang kita jadikan umpan akan di serang oleh sweet fish yang menjaga teritorinya. Pada saat itulah sweet fish yang menyerang itu akan terkait treeble hook yang sudah terpasang. Setelah hook up sweet fish yang dijadikan umpan dimasukan ke tempat penyimpanan dan sweet fish yang baru saja tertangkap dijadikan umpan yang baru. Begitu seterusnya.

Lain di jepang, lain juga di Indonesia. Dengan tackle tradisional yang murmer atau tackle handmade sendiri terbuat dari bambu atau fiber yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berdiameter kecil dan lentur, kita sudah siap menuju spot mancing . Bahkan untuk umpan kita tidak perlu report menyiapkan sesuatu yang special. Cukup bermodalkan cacing yang cukup mudah ditemui dimana saja, maka trip pun bisa kita mulai.

Akan lebih menyenangkan lagi apabila dalam trip itu kita membawa anak atau keponakan sehingga trip tersebut bisa juga menjadi media anak-anak untuk mengenal dunia mancing sedari awal dan tentunya belajar mencintai lingkungan dan alam sekitar. Tentunya disarankan apabila membawa anak bawalah ke spoot yang memang aman untuk mereka.

Memancing ikan ikan kecil tidak identik dengan wild fresh water fishing. Di laut pun banyak sekali ikan ikan kecil yang bisa kita pancing. Khususnya di wilayah dermaga atau batrean. Bahkan ditengah laut pun kita bisa secara khusus berburu ikan ikan kecil dengan tekhnik ngotrek misalnya. Namun dalam artikel ini kita hanya akan membahas beberapa jenis ikan yang biasa menjadi target mania mancing ikan ikan kecil di air tawar saja.

Beunteur/Wader Cakul (barbus bimaculatus)


Beunteur atau wader cakul bisa disebut ikon ikan kecil yang biasa menjadi target pemancing. Saking populernya maka sampai muncul istilah “ngabeunteur” di Jawa Barat atau “waderan” di daerah Jawa untuk trip memancing ikan yang berukuran maksimal sekitar 2 jari ini. Ikan ini bisa ditemui dimana saja selama kualitas air masih bersih. Oleh karenanya beunteur juga bisa dijadikan indikator kualitas air.

Beunteur bisa ditemukan di sungai-sungai kecil, selokan, parit parit sawah, danau, rawa-rawa, bahkan sungai sungai besar. Ikan ini dikenal rakus dan cukup bertenaga untuk ikan seukurannya. Disarankan apabila memancing beunteur hanya disungai sungai kecil, parit atau selokan gunakanlah joran maksimal 1.5 meter. 

Joran panjang hanya akan merepotkan saja apalagi kalau di tempat mancing masih rimbun oleh tumbuh tumbuhan. Sebaliknya apabila tempat mancing kita adalah danau, rawa, atau sungai besar lebih disarankan menggunakan joran tegek (pole rod) atau joran biasa yang berukuran lebih panjang sehingga bisa mengjangkau spot spot yang diinginkan.

Gunakanlah benang berdiameter kecil kelas satu atau dua lbs dengan mata kail ukuran 0.3 s.d. 2 kecil. Usahakan gunakan benang berkualitas bagus, karena kemungkinan umpan kita disambar ikan berukuran besar pun sangat besar. Kita tidak pernah tahu bukan? Anda bisa menggunakan rangkaian berpelampung atau glosoran sesuai selera masing masing atau sesuaikan dengan spot mancing kita.

Sejatinya beunteur adalah ikan omnipora jadi banyak pilihan umpan yang bisa kita gunakan. Mulai dari cacing, poa (rayap), laron, kroto, nasi putih, lumut, umpan racikan dari mie instan yang dicampur dengan sedikit pindang tongkol atau ramuan chiki snack dengan kuning telor dan masih banyak sekali pilihan umpan lain yang biasanya berbeda beda di setiap daerah.

Paray/Wader Pari 


Secara umum tekhnik memancing paray tidak jauh berbeda dengan memancing beunteur. Sedikit perbedaan adalah paray dikenal sebagai ikan yang lebih suka berada di permukaan. Situasi ini menjadikan rangkaian gantung dengan pelampung lebih efektif. Selain itu, paray juga jarang ditemui di sungai sungai kecil yang memiliki aliran air cukup deras. 

Paray lebih menyenangi air yang relatif tenang. Mungkin karena kebiasaanya tersebut paray lebih mudah ditemui di danau atau rawa yang kondisi airnya lebih tenang. Berbeda dengan beunteur, paray dikenal lebih mampu bertahan di air yang terpolusi limbah.

Umpan yang biasa digunakan untuk berburu paray juga tidak jauh berbeda dengan umpan untuk memancing beunteur. Namun berdasarkan pengalaman, cacing, kroto dan udang tawar kupas yang dipotong potong kecil adalah umpan yang paling efektif.

Genggehek/Derbang 


Gengehek atau derbang biasa hidup di sungai sungai yang cukup besar dan berarus. Ikan ini bisa berukuran 3 s.d. 4 jari orang dewasa. Joran yang biasa digunakan adalah joran joran panjang sekitar 3 atau 4 meter khususnya bila pemancing memilih rangkaian berpelampung untuk memburunya. Namun riging dasaran dengan posisi timah dibawah juga sangat efektif digunakan. Tentunya karena gengehek biasa bermain di aliran air yang cukup deras pergunakanlah timah pemberat yang cukup besar sehingga tidak terbawa arus.

Apabila kita menggunakan rangkaian berpelampung Cukup gunakan timah lembaran yang besarnya disesuaikan dengan ukuran pelampung. Sehingga umpan masih bisa mengambang mengikuti aliran air. Apabila pelampung bergetar tanda disambar ikan segera gentak joran tanpa harus menggunakan tenaga yang kuat. Cukup gentak seperlunya untuk menjaga gagal hook up akibat bibir ikan sobek.

Untuk memancing genggehek gunakanlah mata kail karbon ukuran 1 s.d. 4. Disarankan juga untuk menggunakan line berukuran 2 s.d. 4 lbs namun berdiameter kecil. Line berkualitas bagus tentunya sangat disarankan karena kemungkinan ikan disambar ikan besar tentunya lebih besar lagi dibanding saat kita berburu beunteur di parit parit sawah. 

Baca juga : 

All About Beunteur Barbus bimaculatus atau silahkan berkunjung disini  BRONGOT FISHING 
LihatTutupKomentar