Cangkriman

Cangkriman

Cangkriman - Beberapa waktu lalu simbah menebar cangkriman di beberapa forum. Ada dua cangkriman bin teka-teki. Sederhana tapi semua yang simbah temploki cangkriman itu ternyata nyerah. Sebagiannya minta klu-klu yang tadinya dikit, namun akhirnya setelah klunya sak ikrak tetep saja nyerah. Salah satu dari cangkriman itu bunyinya begini : 

Sesuatu yang halal, namun bisa menyebabkan orang tidak dapat masuk surga. Apakah itu? 

Beberapa sohib chat yang ahli mencoba menjawab. Dari ahli agama, ahli ekonomi sampai ahli waris. Ahli kubur gak ikut-ikut temtunya. Ada yang njawab pernikahan, karena kalo nikahnya dholim bisa masup neraka. Yang njawab ini rodo mblero, ha wong jelas-jelas pertanyaannya suatu yang “halal” kok njawabnya nikah yang “dholim”. 

Sama sekali jauh dari Be 100%, mungkin tinggal 25%. Ada yang njawab sedekah tapi tidak ikhlas. Ini gak kalah mlethonya. Ha wong gak ikhlas itu kan jelas dosa, bukan hal yang halal. Lha yang simbah tanyaken itu yang “halal”.

Akhirnya simbah jawab juga cangkriman itu. Jawabannya cuma 6 hurup, HUTANG. Jawaban yang cukup gemlethek, tapi didukung dengan banyak dalil sokeh. Lha genah Kanjeng Nabi saja dipeseni sama molekat Jibril, bahwa yang mati syahid saja gak mungkin masup sorga kalo mingsih punya utang yang gak dilunasi. Apalagi kalo matinya gak syahid, malah mati sakit atau mati sangit.

Lha sekarang ini yang namanya utang malah dijadikan komoditi bisnis. Peminatnya sak jagad abuh. Kalo ada tawaran utang, apalagi dengan syarat ringan, orang berduyun-duyun menyambut. Gak ditawari saja nyari, apalagi ditawari… genah disambut bak rindik asu digithik. Padahal resikonya gak bisa masup sorga lho. Halalnya sih halal, tapi high risk.

Mangkanyah begitu ada menungso geblak dijemput molekat izroil, yang harus segera diurusi adalah perihal utangnya. Biar gak ketahan mendapat kebaikan. Tentu saja efek hutang gak hanya itu. Utang mbikin orang panjang angan-angan. Hopo iyoh?? Iyo wae… Lihat saja mereka yang kridit kendaraan atau rumah. Tarohlah kridit jangka 5 tahun. 

Maka orang yang berhutang akan memplanning bisa hidup buat 5 tahun ke depan. Padahal miturut hadits dongip, katanya carilah akherat seakan besok mau mokat bin mati. Atau miturut kadis sokeh, berpagilah tapi jangan berharap bisa bersore, atau bersorelah jangan berharap bisa berpagi esoknya. Lha planningnya hidup 5 tahun ke depan. Apalagi kalo kridit rumah jangka 15 sampai 20 tahun…. Weeehh… gak akan ada bayangan besok mati.

Belum lagi kalo utangnya berbunga dan bahkan sampai berbuah ranum. Bisa mbikin idup mangkin kesrakat. Kejerat bank plecit maupun bank bangtut berbunga indah. Sampe punya pilosopi, hidup tanpa utang gak mungkin bisa, dan utang tanpa bunga gak mungkin jalan. Hwarakadah… pilosopinya good marsogood.

Lha yang simbah masih belum paham itu jika utangnya dilakukan satu bangsa, bukan individu atau keluarga. Utangnya berbunga indah juga, tak kalah indah dengan bunga sembukan atau bunga bangkai. Lha berarti itu kan riba nasional. Utang itu masuk ke sektor subsidi. Subsidi BBM, subsidi minyak goreng, bea pendidikan, sembako, gaji PNS dan lain sebagainya. 

Akhirnya yang mau pegang syareat biar gak kena riba kecipratan juga. Ha wong dia kemana-mana ngemplok subsidi yang sumbernya dari hutang beriba juga. Ustadz berjenggot lebat sampai maling kelas apapun ikut ngemplok utang nasional itu. Temtu saja beserta ribanya.

Lha sekarang utang bangsa Indonesa saja jika dibagi-bagi tiap kepala bisa mencapai jutaan ripis per kepala, lantas kalo pada mati, kehalang masup sorga gak ya….?? Kalo terhalang, siapa yang harus dituntut?? Pemerintah yang suka ngutang, atau siapa? 

Weleh… malah mikir negoro. (Btw ini agak kroso ngising. Postingan dikat sampe sini dulu. Besok simbah ulas cangkriman berikutnya… Lha mau ngulas malah mulas) 

LihatTutupKomentar